TRIBUNJATIM.COM - Pemasangan pagar besi setinggi sekitar 2,5 hingga 3 meter di sejumlah mal dan gedung perkantoran di Jakarta maupun Surabaya menjadi perhatian publik setelah foto-fotonya ramai beredar di media sosial.
Kemunculan pagar tinggi di mal tersebut memunculkan berbagai spekulasi, termasuk dikaitkan dengan isu ancaman kerusuhan maupun demonstrasi besar.
Menanggapi hal itu, Direktur Marketing Pakuwon Group sekaligus Direktur PT Pakuwon Jati Tbk, Sutandi Purnomosidi, menegaskan bahwa pagar tinggi tersebut bukan dipasang karena situasi keamanan terkini.
Menurutnya, konsep pemagaran sudah menjadi bagian dari desain kawasan Pakuwon sejak puluhan tahun lalu.
Baca juga: Pagar Besi Tinggi Mal Surabaya Disorot, Pakar Arsitektur UK Petra: Ruang Publik Terkesan Eksklusif
Melalui akun Instagram resminya pada Jumat (31/7/2026), Sutandi menjelaskan bahwa sejumlah pusat perbelanjaan milik Pakuwon telah lama menggunakan pagar besi sebagai bagian dari penataan kawasan.
"Mal Pakuwon sudah banyak yang dipagari. Royal Plaza sudah dipagari sejak tahun 2006, sudah 20 tahun. Pagarnya pakai hollow hitam, sekarang sudah karatan kena panas dan hujan," ujar Sutandi.
Ia mengatakan konsep tersebut pertama kali diterapkan di Blok M Plaza, Jakarta Selatan, sebelum akhirnya digunakan pada proyek-proyek Pakuwon lainnya.
"Kita sejak Blok M Plaza sudah ada pagar keliling, dan prototype pagar tinggi itu justru dari Blok M Plaza. Ini jadi identitas kita," tuturnya.
Menurut Sutandi, tujuan utama pemasangan pagar adalah menjaga keselamatan pejalan kaki agar tidak menyeberang jalan secara sembarangan, terutama di kawasan dengan lalu lintas kendaraan yang padat.
"Awalnya kita berpikir Pakuwon Mall ini kan lebar sekali, nyambung sampai Citra Land. Kalau semua orang nyebrang masuk sembarangan, bahaya buat mereka sendiri. Awalnya di sana niatannya," jelas Sutandi.
Ia juga membantah anggapan bahwa pagar tinggi dipasang karena adanya informasi mengenai ancaman keamanan tertentu.
"Jadi ada beberapa hal yang mau saya highlight. Pakuwon bukan peramal, kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Mal Pakuwon Group yang dipagari itu sebenarnya sudah banyak," tegasnya.
Berikut sejumlah mal dan gedung perkantoran yang diketahui telah dipasangi pagar besi tinggi:
Kota Kasablanka (Kokas), Jakarta Selatan
Pagar besi abu-abu dipasang sepanjang sekitar 100 meter dari pintu masuk utama hingga jalur keluar kendaraan di Jalan Raya Casablanca untuk mengatur pergerakan pejalan kaki dan kendaraan.
EightyEight@Kasablanka Tower, Jakarta Selatan
Gedung perkantoran yang berada dalam kawasan Kota Kasablanka ini juga memiliki akses yang dibatasi pagar besi di sepanjang Jalan Raya Casablanca.
Menara Bank BNI Pejompongan, Jakarta Pusat
Area luar gedung dikelilingi pagar besi tinggi.
Pakuwon Mall Surabaya
Area luar pusat perbelanjaan dipasangi pagar besi tinggi.
Tunjungan Plaza, Surabaya
Sebagian kawasan luar mal menggunakan pagar besi sebagai pembatas.
Royal Plaza Surabaya
Pagar besi mengelilingi area luar gedung sebagai bagian dari penataan kawasan.
Pakuwon City Mall, Surabaya
Bagian luar pusat perbelanjaan ini juga dipasangi pagar besi.
Kawasan Terintegrasi Pakuwon di Surabaya
Gedung perkantoran dan hotel yang terhubung dengan Pakuwon Mall maupun Tunjungan Plaza menggunakan pagar besi jenis palisade dengan tinggi sekitar tiga meter.
Baca juga: Jawaban PT Garam Terhadap Massa di Sampang yang Gelar Demonstrasi: Lokasi Demo Tidak Sesuai
Fenomena pemasangan pagar tinggi tersebut juga mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menilai keberadaan pagar yang terlalu tinggi berpotensi menimbulkan persepsi negatif terhadap kondisi keamanan ibu kota.
"Sebagai Gubernur Jakarta, tentunya saya tetap berkeinginan apa pun Jakarta itu aman, nyaman, dan juga bagi para pelaku bisnis, termasuk pemilik mal, properti, perkantoran, dan sebagainya tidak perlu kemudian harus memasang pagar yang berlebihan," ujar Pramono Anung.
Ia mengatakan Pemprov DKI Jakarta akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk melakukan penertiban terhadap pagar yang dinilai berlebihan.
"Saya akan segera mengoordinasikan untuk menertibkan itu. Jangan sampai kemudian ini menjadi image bahwa Jakarta sedang tidak baik-baik saja. Saya meyakini bahwa Jakarta aman-aman saja," tegasnya.