TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Puluhan lukisan hasil karya orang dengan neurodivergen baik dari anak-anak autisme, ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan disleksia dipamerkan di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM).
Pameran seni rupa ini dalam rangka meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai
neurodiversitas, sekaligus menghadirkan ruang yang lebih inklusif bagi individu neurodivergen
untuk berkarya.
Lukisan yang dipamerkan sahabat neurodiversitas sangat unik dan beragam.
Pemilihan warna dan tema cukup atraktif sehingga menghasilkan kesan antimainstream.
Salah satu lukisan abstrak karya Hafidzul terlihat unik.
Dia memperlihatkan sebuah lingkaran oval dengan campuran berbagai warna shade yang memunculkan kesan sunyi, kelam, namun dari kejauhan semburat warna kuning keemasan yang kontras.
Tak jauh dari lukisan tersebut, ada sebuah karya seni lukis yang tidak kalah menarik.
Karya itu diciptakan oleh sahabat neurodiversitas bernama Mutia Prajnadiva.
Dia melukis hati berwarna merah muda dengan enam bunga matahari berada didalamnya.
“Pameran ini menjadi ajang membuktikan bahwa hasil karya kami anak-anak neurodiversitas layak untuk dinikmati,” katanya, seusai pembukaan pameran, Minggu (2/8/2026).
Pameran bertema Merayakan Neurodiversitas:
Kreativitas, Inklusi, dan Dukungan Berkarya merupakan kerjasama antara Circle4Autism–Yayasan Autisma Indonesia (C4A–YAI), Komunitas Seni Pesona Autistik Indonesia (PAI), dan GIK UGM.
Kegiatan ini berlangsung pada 2–8 Agustus 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Yogyakarta.
Ketua C4A-Yayasan Autisma Indonesia, Dr Adriana S Ginanjar, mengatakan kegiatan ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk melihat neurodiversitas dari perspektif yang lebih utuh bukan sebagai keterbatasan, melainkan sebagai bagian dari keberagaman manusia yang menyimpan potensi, kreativitas, dan cara berpikir yang unik.
Neurodivergen adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan individu dengan cara
berpikir dan memproses informasi yang berbeda dari mayoritas populasi, seperti individu dengan
autisme, ADHD, disleksia, dispraksia, dan kondisi neurologis lainnya.
Selama bertahun-tahun, banyak dari mereka masih menghadapi stigma, kesalahpahaman, serta tuntutan untuk menyesuaikan diri dengan standar yang dianggap "normal".
Padahal, berbagai penelitian dan pengalaman menunjukkan bahwa banyak individu neurodivergen memiliki kekuatan dalam berpikir visual, kemampuan mengenali pola, serta kreativitas.
Potensi tersebut akan berkembang apabila didukung oleh lingkungan yang menerima dan inklusif.
Menurutnya seni menjadi salah satu media yang paling autentik bagi individu neurodivergen untuk
mengekspresikan diri.
Melalui warna, garis, pola, dan berbagai bentuk karya kreatif, mereka menyampaikan pengalaman, emosi, dan cara pandang terhadap dunia yang sering kali sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Selama ini individu neurodivergen sering kali dipandang dari sisi kekurangan dan dituntut untuk menyesuaikan diri dalam lingkungan maistream.
Melalui kolaborasi ini, kami ingin menunjukkan bahwa ketika mereka diberi ruang yang aman dan suportif, mereka akan lebih mampu mengembangkan potensi serta kreativita. Ini adalah langkah nyata untuk mendorong masyarakat dan pengambil kebijakan agar hadir memberikan dukungan yang inklusif," ungkapnya.
Sementara dari Komunitas Seni Pesona Autistik Indonesia (PAI) menekankan peran seni sebagai
sarana pemberdayaan sekaligus terapi
"Bagi para seniman di komunitas kami, karya seni adalah tempat mereka mengeksresikan diri
Lnpada dunia. Melalui pameran ini kami tidak hanya menampilkan keindahan, tetapi juga mendukung kesehatan mental serta kreativitas berkarya teman-teman neurodivergen. Disamping itu juga mempromosikan seniman dan karya mereka" jelas Mirah Hartika, ketua
Komunitas PAI.
Selama tujuh hari penyelenggaraan, masyarakat dapat mengikuti berbagai kegiatan yang
dirancang untuk memberikan pengalaman edukatif sekaligus inspiratif, meliputi pameran karya lukisan dan berbagai produk kreatif hasil karya seniman neurodivergen, talkshow inspiratif tentang neurodiversitas, layanan konseling bagi keluarga yang memiliki anggota neurodivergen, serta Bazaar hasil karya individu neurodivergen.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, penyelenggara berharap masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai neurodiversitas sekaligus menyadari bahwa setiap individu memiliki potensi untuk berkembang apabila memperoleh kesempatan dan dukungan yang setara. (hda)