Pahit Manis Pedagang Bendera Musiman di Padang: Pernah Tiga Hari Tak Laku, Dedi Tetap Bersyukur
Muhammad Afdal Afrianto August 02, 2026 05:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Matahari mulai bergeser ke barat ketika Dedi menarik napas panjang di trotoar Jalan Khatib Sulaiman, Kota Padang, Sumatera Barat, Minggu (2/8/2026) siang.

Tubuhnya bersandar di batang pohon yang rindang, tak jauh dari SPBU Khatib Sulaiman dan tepat di seberang SMP Islam Al Azhar.

Dari bawah teduh pepohonan, matanya sesekali menatap deretan bendera Merah Putih yang berkibar diterpa angin, bersanding dengan lalu lalang kendaraan di jalan protokol tersebut.

Di lapak sederhana itu, Dedi duduk seorang diri. Hanya sepeda motor tuanya yang terparkir di balik deretan bendera, kotak bekal berisi nasi dari rumah, serta tumpukan bendera yang belum dibentangkan menemaninya.

Baca juga: Kisah Penjual Bendera Merah Putih di Padang, 16 Hari Jualan Niko Raih Omzet Puluhan Juta Rupiah

Selama sebulan penuh menjelang Hari Kemerdekaan, trotoar Jalan Khatib Sulaiman menjadi tempatnya mencari rezeki.

Deretan bendera berbagai ukuran sengaja dipajang di sepanjang pagar trotoar agar mudah terlihat oleh para pengendara.

Dari kejauhan, lapak sederhana itu seolah menjadi penanda datangnya bulan kemerdekaan di Kota Padang.

"Harganya beragam, tergantung ukuran dan bahan kain," ujar Dedi saat ditemui TribunPadang.com di lapaknya.

PENJUAL BENDERA-Dedi penjual bendera di trotoar Jalan Khatib Sulaiman, Kota Padang, Sumatra Barat, Minggu (2/8/2026) siang. Ia sedang merapikan dagangannya sembari menunggu pembeli.
(doc: Arif RK)
PENJUAL BENDERA-Dedi penjual bendera di trotoar Jalan Khatib Sulaiman, Kota Padang, Sumatra Barat, Minggu (2/8/2026) siang. Ia sedang merapikan dagangannya sembari menunggu pembeli. (doc: Arif RK) (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Ia menjual bendera Merah Putih ukuran kecil mulai Rp25 ribu. Sementara ukuran besar sekitar 180 x 120 sentimeter dibanderol Rp150 ribu hingga Rp200 ribu.

Selain bendera, Dedi juga menjual kain latar atau background yang biasa dipasang di instansi maupun perkantoran dengan harga sekitar Rp50 ribu per meter.

Seperempat Abad Berjualan di Titik yang Sama

Bagi Dedi, Jalan Khatib Sulaiman bukan tempat yang asing.

Selama kurang lebih 25 tahun, lokasi di depan sekolah tersebut selalu menjadi tempatnya berjualan setiap kali bulan Agustus tiba.

Rumput liar di tepi trotoar dan padatnya arus kendaraan menjadi saksi perjalanan usahanya yang terus berulang dari tahun ke tahun.

Baca juga: Harga Pertamax dan Pertamax Turbo di Sumbar Turun per 1 Agustus 2026

Pada masa-masa awal berjualan, Dedi mengaku keuntungan yang diperoleh cukup besar. Hasil penjualan bendera mampu memenuhi kebutuhan keluarga hingga membiayai pendidikan anak-anaknya.

Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi itu berubah.

Menurutnya, menjadi pedagang musiman berarti harus siap menghadapi naik turunnya penjualan.

"Namanya jualan, kadang untung, kadang rugi. Bahkan pernah dalam tiga hari berturut-turut tidak ada satu pun bendera yang laku," tuturnya mengenang.

Tetap Bersyukur Meski Dagangan Sepi

Dedi mengaku pernah mengalami hari-hari ketika hasil penjualan hanya cukup untuk membeli bensin agar bisa pulang ke rumah.

Bekal nasi yang dibawa dari rumah menjadi penyelamat saat tak memiliki uang lebih untuk membeli makanan. Bahkan, untuk sekadar membeli rokok, ia pernah harus berutang.

Meski demikian, ia tak pernah mengeluh.

Baginya, berjualan bukan sekadar mengejar keuntungan, tetapi juga bentuk ikhtiar mencari rezeki yang halal.

Selama masih mampu bekerja, ia percaya setiap tetes keringat akan mendatangkan berkah.

Filosofi itu pula yang membuatnya selalu menghargai bendera Merah Putih yang dijualnya.

Menurut Dedi, perjuangannya mencari nafkah tidak sebanding dengan pengorbanan para pahlawan yang mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan Sang Saka Merah Putih.

"Orang-orang zaman dulu berperang dan mempertaruhkan nyawa demi memperjuangkan bendera ini. Saya ini hanya pedagang yang berjualan di masa aman, masa iya harus mengeluh?" ujarnya sambil tersenyum.

Bertahan Hingga Musim Kemerdekaan Berakhir

Prinsip itulah yang membuat Dedi tetap bertahan.

Selama 25 tahun, ia setia berjualan di lokasi yang sama setiap memasuki bulan Agustus.

Ia menyadari pekerjaan sebagai pedagang bendera hanya berlangsung sementara.

Setelah peringatan Hari Kemerdekaan usai, ia akan kembali mengemas seluruh dagangannya dan melanjutkan aktivitas sehari-hari sebagai pedagang di Pasar Raya Padang untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Saat ini, Dedi masih setia menunggu pembeli setiap hari, mulai pukul 08.00 WIB hingga 17.00 WIB.

Usaha musiman yang telah dijalaninya sejak sepekan terakhir itu akan terus ia lakoni hingga peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus mendatang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.