WHO: Menyusui Bisa Cegah 400 Ribu Kematian Bayi Tiap Tahun, Dukungan untuk Ibu Masih Kurang
Willem Jonata August 02, 2026 05:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Menyusui sering dianggap sebagai urusan pribadi antara ibu dan bayi. 

Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF menegaskan keberhasilan menyusui tidak hanya bergantung pada kemauan ibu.

Tetapi juga pada dukungan dari sistem kesehatan, keluarga, tempat kerja, hingga kebijakan pemerintah.

Menjelang Pekan Menyusui Sedunia 2026, WHO dan UNICEF mengingatkan masih banyak ibu di berbagai negara yang belum mendapatkan layanan maupun dukungan yang memadai untuk menyusui.

Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan besar karena air susu ibu (ASI) merupakan salah satu intervensi kesehatan paling sederhana sekaligus paling efektif untuk melindungi bayi sejak awal kehidupan.

Baca juga: Perjuangan dan Air Mata Amanda Manopo di Balik Proses Menyusui Baby Zac

Dalam pernyataan bersama, Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell dan Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus menegaskan masih banyak keluarga yang belum memperoleh akses terhadap layanan yang mendukung keberhasilan menyusui.

"Terlalu banyak ibu dan keluarga di seluruh dunia masih kekurangan akses terhadap layanan dan intervensi yang memungkinkan dan mendukung pemberian ASI," tulis WHO dan UNICEF dalam pernyataan bersama dikutip Tribunnews, Minggu (2/8/2026). 

ASI Bukan Sekadar Makanan Bayi

WHO dan UNICEF menegaskan, manfaat ASI jauh melampaui pemenuhan kebutuhan gizi bayi.

ASI mengandung nutrisi penting yang dibutuhkan bayi dan anak pada awal kehidupan. 

Selain itu, menyusui membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh sehingga anak lebih terlindungi dari berbagai penyakit serius.

Tak hanya berdampak pada kesehatan fisik, pemberian ASI juga berperan dalam mendukung perkembangan kemampuan kognitif anak.

Manfaat menyusui juga dirasakan oleh ibu. Menurut WHO dan UNICEF, ibu yang menyusui memiliki risiko lebih rendah mengalami sejumlah penyakit tidak menular.

Seperti kanker payudara, kanker ovarium, hingga diabetes melitus tipe 2.

Dengan kata lain, menyusui menjadi investasi kesehatan bagi dua pihak sekaligus, yakni ibu dan anak.

Angka Menyusui Meningkat, tetapi Belum Merata

WHO dan UNICEF mencatat praktik menyusui di dunia menunjukkan perkembangan yang menggembirakan dalam beberapa tahun terakhir.

Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan meningkat dari sekitar 37 persen pada 2012 menjadi lebih dari 47 persen saat ini.

Sementara itu, prevalensi pemberian ASI hingga usia dua tahun juga meningkat dari 38 persen menjadi 50 persen dalam lima tahun terakhir.

Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa investasi pada kebijakan dan program yang mendukung ibu menyusui mulai memberikan hasil.

Meski demikian, kemajuan tersebut belum terjadi secara merata di seluruh negara.

WHO dan UNICEF menilai masih banyak negara yang tertinggal dari target global karena layanan pendukung menyusui belum menjangkau semua ibu.

Selain itu, penerapan kebijakan juga dinilai belum konsisten, sementara kualitas layanan masih rendah.

Terutama di wilayah berpenghasilan rendah, daerah rentan, maupun kawasan yang menghadapi situasi kemanusiaan.

Menyusui Bisa Cegah Kematian Ibu dan Bayi

WHO dan UNICEF menegaskan investasi pada program menyusui memberikan manfaat kesehatan yang sangat besar.

Berdasarkan data yang disampaikan kedua organisasi tersebut, praktik menyusui yang optimal berpotensi mencegah hampir 400 ribu kematian anak dan sekitar 140 ribu kematian ibu setiap tahun di seluruh dunia.

Tidak hanya berdampak pada kesehatan, menyusui juga memberikan manfaat ekonomi.

WHO dan UNICEF memperkirakan setiap investasi sebesar 1 dolar Amerika Serikat untuk promosi menyusui dapat menghasilkan manfaat ekonomi sekitar 59 dolar Amerika Serikat.

Keuntungan tersebut berasal dari penurunan biaya pelayanan kesehatan, meningkatnya perkembangan kognitif anak, pencapaian pendidikan yang lebih baik, hingga peningkatan pendapatan sepanjang hidup.

WHO dan UNICEF Minta Negara Perkuat Dukungan bagi Ibu Menyusui

Mengusung tema "Menyusui untuk Awal Kehidupan yang Berkelanjutan: Perkuat Apa yang Berhasil", WHO dan UNICEF mengajak seluruh negara memperkuat berbagai kebijakan yang terbukti efektif meningkatkan keberhasilan menyusui.

Langkah yang didorong meliputi penguatan sistem kesehatan agar mampu memberikan dukungan menyusui yang berkualitas sejak ibu hamil, melahirkan, hingga masa nifas.

Selain itu, kedua organisasi juga meminta negara memperluas layanan konseling menyusui berbasis masyarakat dan pendampingan sebaya bagi para ibu.

WHO dan UNICEF juga menekankan pentingnya penerapan penuh Kode Pemasaran Internasional untuk Pengganti ASI, peningkatan investasi pada cuti melahirkan berbayar, serta penyediaan lingkungan kerja yang mendukung ibu menyusui.

Tak kalah penting, dukungan menyusui juga harus tetap tersedia pada situasi darurat maupun di wilayah yang rentan terhadap krisis.

"Menyusui sangat penting. Dengan berinvestasi pada solusi yang terbukti efektif, kita dapat memberikan setiap anak awal kehidupan terbaik dan memastikan setiap ibu mendapatkan perawatan dan layanan yang dibutuhkannya," tegas WHO dan UNICEF.

Bagi WHO dan UNICEF, keberhasilan menyusui bukan hanya tanggung jawab seorang ibu, melainkan hasil dari dukungan bersama agar setiap anak memiliki kesempatan memulai kehidupan dengan lebih sehat.

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.