Bagi Sumatera Utara, Stadion Teladan lebih dari sekadar bangunan olahraga. Ia adalah ruang yang merekam perjalanan sejarah, kebanggaan sebuah kota, sekaligus harapan bagi masa depan. Karena itu, stadion ini tidak layak hanya menjadi penyimpan kenanga
Medan (ANTARA) - Stadion Teladan, Kota Medan, Sumatera Utara tidak pernah benar-benar tidur. Saat pagi beranjak atau ketika senja mulai turun, kawasan ini berubah menjadi arena vitalitas tanpa henti.
Di sini, batas usia lebur dalam gerak; anak-anak, remaja, dan orang dewasa saling bersilang dalam derap lari, putaran roda sepeda, hingga pukulan raket dan tendangan bola. Keringat yang membasahi wajah mereka menjadi saksi bisu denyut nadi olahraga kota.
Pemandangan itu seolah menjadi jawaban atas cita-cita yang ditanamkan lebih dari tujuh dekade lalu. Andai arsitek Stadion Teladan, Lim Bwan Tjie, dapat menyaksikannya hari ini, barangkali ia akan tersenyum melihat stadion yang dirancangnya tetap menjadi ruang hidup bagi masyarakat untuk berolahraga.
Memang, sejak diresmikan pada 1953, Stadion Teladan dibangun bukan sekadar sebagai arena pertandingan, melainkan untuk membangkitkan semangat olahraga di Sumatera Utara melalui penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) III.
Setelah pesta olahraga nasional berakhir, tugas Stadion Teladan tidak ikut selesai. Stadion ini terus menjadi pusat aktivitas olahraga masyarakat sekaligus markas klub legendaris PSMS Medan, yang kemudian menjadikannya saksi perjalanan salah satu tim paling disegani pada era Perserikatan tersebut.
Di lapangan inilah berbagai kisah kejayaan ditorehkan. Stadion Teladan menjadi saksi ketika PSMS Medan mengukir prestasi demi prestasi, sekaligus menjelma sebagai panggung yang memperkenalkan Medan kepada dunia sepak bola internasional.
Pada kurun 1970-an hingga 1996, stadion tertua di Sumatera sekaligus tertua ketiga di Indonesia itu pernah menjamu sejumlah klub ternama Eropa, seperti Ajax Amsterdam, Arsenal FC, PSV Eindhoven, Grasshopper Club Zürich, Graz AK, UC Sampdoria, hingga FC Lokomotiv Moscow.
Nama Stadion Teladan juga semakin dikenal lewat penyelenggaraan Turnamen Marah Halim Cup pada 1972-1995. Ajang internasional itu mempertemukan klub-klub dari Asia, Eropa, dan Indonesia, menjadikan Medan sebagai salah satu pusat perhatian sepak bola nasional pada masanya.
Warisan sejarah itulah yang kini berusaha dijaga Pemerintah Kota Medan. Berbagai pembenahan dilakukan agar Stadion Teladan tetap menjadi episentrum olahraga di ibu kota Sumatera Utara. Langkah terbesar diwujudkan melalui revitalisasi menyeluruh yang dimulai pada 2024 dengan nilai investasi sekitar Rp510 miliar.

Pada 6 Februari 2024, Wali Kota Medan saat itu, Muhammad Bobby Afif Nasution, bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat —kini Kementerian Pekerjaan Umum— melakukan peletakan batu pertama revitalisasi stadion.
Dalam proyek tersebut, seluruh tribun dibangun ulang. Kapasitas stadion ditingkatkan menjadi sekitar 20.080 penonton dengan penggunaan kursi tunggal, sementara seluruh fasilitas dirancang mengikuti standar FIFA. Tidak hanya stadion yang diperbarui, ruang terbuka hijau di depan kawasan Teladan juga ditata ulang untuk menunjang keindahan sekaligus menghadirkan ruang publik yang lebih nyaman.
"Revitalisasi Stadion Teladan bukan hanya untuk memperbaiki bangunan. Kami ingin stadion ini dapat menjadi pusat pembinaan olahraga, menghidupkan kembali kejayaan PSMS Medan, dan berkontribusi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045," ujar Bobby Nasution.
Kini, proses peremajaan Stadion Teladan telah memasuki tahap akhir. Pemerintah Kota Medan di bawah kepemimpinan Wali Kota Rico Tri Putra Waas terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mempercepat penyelesaiannya.
Rico Waas menegaskan pemerintah daerah berkomitmen merampungkan revitalisasi agar stadion dapat segera dimanfaatkan secara optimal bagi perkembangan olahraga di Kota Medan.
"Revitalisasi terus dikebut agar dapat rampung sesuai target. Ini akan menjadi stadion kebanggaan kita," katanya.
Meski pengerjaan belum sepenuhnya selesai, Stadion Teladan telah dipercaya menjadi salah satu venue Turnamen Sepak Bola Piala AFF U-19 2026. Seluruh pertandingan memang berlangsung tanpa kehadiran penonton, tetapi stadion itu tetap meninggalkan kesan bagi para peserta.
Menurut Rico, desain modern hasil revitalisasi berhasil memukau para pemain. Di luar penyelenggaraan turnamen, ia menegaskan Stadion Teladan tetap menjadi magnet masyarakat Medan dan sekitarnya untuk beraktivitas olahraga, baik pada pagi maupun sore hari.
Semangat itu terlihat dari ramainya warga yang memadati kawasan stadion setiap hari. Salah satunya Ibra, yang rutin berlari bersama rekan-rekannya.
Ia mengaku bangga dapat berolahraga di sekitar stadion bersejarah tersebut. Baginya, wajah baru Stadion Teladan menghadirkan suasana berbeda yang membuat aktivitas olahraga terasa semakin menyenangkan.
"Saya bisa berlari dengan background yang keren di sini," ujarnya, sembari berharap revitalisasi stadion segera rampung sepenuhnya.

Kesan serupa disampaikan Putra, warga Kecamatan Medan Area. Ia mengaku kembali tertarik berolahraga di Stadion Teladan karena kawasan tersebut kini jauh lebih tertata dibandingkan sebelumnya.
"Dahulu ada tumpukan sampah di belakang stadion. Sekarang sudah tidak ada. Rapi dan bersih," katanya.
Harapan agar Stadion Teladan segera kembali hidup juga datang dari para suporter PSMS Medan. Ketua PSMS Medan Fans Club, Hendra Sihaloho, berharap Ayam Kinantan dapat segera kembali bermarkas di stadion yang selama puluhan tahun menjadi identitas klub tersebut.
Menurut Hendra, Stadion Teladan bukan sekadar tempat bertanding, melainkan bagian dari jiwa PSMS Medan.
"Siapa yang tak ingin PSMS Medan kembali bermain di Stadion Teladan. Stadion Teladan rumah bagi kita," ujarnya.
Bagi Sumatera Utara, Stadion Teladan lebih dari sekadar bangunan olahraga. Ia adalah ruang yang merekam perjalanan sejarah, kebanggaan sebuah kota, sekaligus harapan bagi masa depan. Karena itu, stadion ini tidak layak hanya menjadi penyimpan kenangan.
Setiap babak baru yang dilalui Stadion Teladan menjadi pengingat bahwa olahraga Indonesia pernah mencapai masa kejayaan dan memiliki peluang untuk kembali mencapainya.
Namun, kebangkitan itu hanya akan terwujud apabila pembaruan infrastruktur terus diiringi komitmen bersama untuk memelihara budaya olahraga, menjadikan prestasi dan rekreasi berjalan beriringan sebagai denyut kehidupan stadion yang telah berdiri lebih dari 70 tahun ini.





