TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Kabupaten Buleleng Bali dipastikan menjadi lokasi pembangunan wall panjat tebing berstandar internasional.
Proyek senilai Rp10 miliar itu ditargetkan segera dieksekusi dan rampung pada akhir 2026 sesuai target.
Pantauan Tribun Bali, Ketua Umum Pengprov Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Bali, Putu Yudi Atmika, didampingi Ketua KONI Buleleng, Gede Supriatna, meninjau langsung lokasi yang direncanakan menjadi tempat pembangunan fasilitas tersebut pada Minggu 2 Agustus 2026.
Wall panjat tebing itu rencananya dibangun di kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Banyuasri, Kecamatan Buleleng, dengan memanfaatkan lahan seluas sekitar 25 hingga 30 are.
Kepada awak media, Yudi menilai lokasi RTH Banyuasri memenuhi sejumlah kriteria untuk pembangunan wall panjat tebing.
Selain memiliki kontur lahan yang sesuai, kawasan itu menawarkan latar perbukitan yang dapat menjadi daya tarik tersendiri.
"Lokasinya juga dekat dengan kawasan wisata, akomodasi, dan mudah diakses. Sehingga mendukung pengembangan sport tourism sekaligus penyelenggaraan kejuaraan bertaraf internasional," jelasnya.
Yudi mengatakan pembangunan wall panjat tebing ini merupakan bentuk apresiasi Gubernur Bali terhadap prestasi atlet panjat tebing asal Buleleng, Desak Made Rita Kusuma Dewi, yang telah mengharumkan nama Indonesia, Bali dan Buleleng di ajang internasional.
Menurut Yudi, pembangunan awalnya direncanakan di kawasan Bali Selatan.
Namun, Gubernur Bali mengarahkan agar fasilitas bertaraf internasional itu dibangun di Buleleng sebagai upaya mendorong pemerataan pembangunan sekaligus mengembangkan sport tourism di Bali Utara.
"Beliau menyarankan agar kami meninjau lokasi-lokasi di Buleleng. Kami melihat Buleleng memiliki potensi dengan latar perbukitan, pegunungan, dan kontur lahan yang berundak sehingga sangat mendukung konsep sport tourism," kata Yudi.
Ia menegaskan pembangunan wall panjat tebing ditargetkan mulai dikerjakan tahun ini dan rampung paling lambat Desember 2026.
Fasilitas itu diharapkan dapat dimanfaatkan untuk pembinaan atlet sekaligus penyelenggaraan berbagai kejuaraan, termasuk Porprov Bali 2027 mendatang.
Yudi mengungkapkan anggaran pembangunan mencapai sekitar Rp10 miliar.
Dana tersebut mencakup pembangunan wall panjat tebing beserta perlengkapannya untuk tiga nomor pertandingan, yakni speed, boulder, dan lead.
"Sementara kita nanti di speed-nya ada standar internasional," ucapnya.
Sementara itu, Ketua KONI Buleleng, Gede Supriatna, mengatakan Pemkab Buleleng menyambut baik keputusan pembangunan wall panjat tebing bertaraf internasional di Buleleng.
Menurutnya pemilihan RTH Banyuasri sebagai lokasi pembangunan sudah tepat. Sebab lokasinya strategis, mudah diakses atlet untuk berlatih, serta dekat dengan kawasan wisata dan fasilitas akomodasi.
Selain itu pembangunan wall diharapkan bisa terintegrasi dengan penataan kawasan RTH yang kini sedang berjalan.
"Banyak alternatif yang mungkin punya kelebihan dari sisi keindahan alam. Seperti kawasan Pancasari, kawasan Turyapada, maupun kawasan Pemuteran. Tetapi untuk latihan anak-anak rasanya jaraknya jauh," jelasnya.
Untuk mendukung pembangunan, Pemkab Buleleng mengalokasikan dana pendamping sekitar Rp2 miliar hingga Rp2,5 miliar melalui APBD.
Anggaran itu akan digunakan untuk membangun berbagai fasilitas penunjang, seperti area penonton, toilet, ruang ganti, ruang steril, gudang, hingga sekretariat. (mer)