TRIBUNBANTEN.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 di Indonesia berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang diperkirakan masih bertahan hingga awal 2027.
BMKG menyebut intensitas El Nino saat ini telah memasuki kategori kuat. Apabila kondisi tersebut berlanjut bersamaan dengan puncak musim kemarau, potensi kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia diperkirakan meningkat.
Selain El Nino, BMKG juga memantau peluang munculnya Indian Ocean Dipole (IOD) Positif pada periode September hingga Desember 2026.
Baca juga: BMKG: Bibit Siklon Tropis 94W Berpotensi Jadi Siklon, Waspadai Gelombang Tinggi di Perairan Ini
Kombinasi kedua fenomena iklim tersebut dinilai dapat memperparah kondisi kemarau di berbagai daerah.
El Nino Sudah Masuk Kategori Kuat
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan hasil pemantauan hingga akhir Juni 2026 menunjukkan indeks Niño 3.4 telah mencapai 1,56.
Nilai tersebut menandakan El Nino telah melampaui ambang kategori kuat, yakni di atas 1,5.
Menurut Ardhasena, fenomena El Nino diperkirakan masih akan berlangsung hingga awal 2027. Namun, dampak paling besar bagi Indonesia terjadi ketika fenomena tersebut bertepatan dengan musim kemarau.
"Meski El Nino diperkirakan berlanjut hingga awal 2027, dampak utamanya bagi Indonesia terjadi saat fenomena itu berlangsung bersamaan dengan musim kemarau," jelas Ardhasena.
Sementara itu, suhu permukaan laut di Samudra Hindia juga menunjukkan kondisi yang mendukung terbentuknya IOD Positif, sehingga berpotensi mengurangi curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia pada akhir 2026.
Puncak Musim Kemarau Diprediksi Agustus hingga September
BMKG mencatat hingga pertengahan Juli 2026 sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Adapun puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada:
Agustus 2026, meliputi sekitar 48,84 persen wilayah Indonesia.
September 2026, mencakup sekitar 25,41 persen wilayah daratan Indonesia.
Pada periode tersebut, sebagian besar wilayah diperkirakan mengalami penurunan curah hujan yang cukup signifikan.
Kemarau Lebih Panjang dan Curah Hujan Berkurang
BMKG memproyeksikan musim kemarau tahun ini berlangsung lebih lama dibandingkan rata-rata klimatologis.
Sebanyak 437 Zona Musim atau sekitar 48,77 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami durasi kemarau yang lebih panjang dari biasanya.
Sementara itu, peningkatan curah hujan baru diperkirakan mulai terjadi secara bertahap pada Oktober hingga November 2026, seiring perubahan pola atmosfer.
Hari Tanpa Hujan Capai 80 Hari
Data BMKG juga menunjukkan sejumlah wilayah telah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan durasi yang cukup panjang.
Rekor terlama hingga pertengahan Juli 2026 tercatat di Pos Hujan Katerban, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, dengan durasi mencapai 80 hari tanpa hujan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya kekeringan meteorologis di sejumlah daerah selama musim kemarau tahun ini.
BMKG Imbau Waspada Kekeringan dan Karhutla
Melihat perkembangan kondisi iklim, BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampak musim kemarau.
Risiko yang perlu diantisipasi antara lain berkurangnya ketersediaan air bersih, kekeringan lahan pertanian, gangguan terhadap sektor pangan, hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar rutin memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi sebagai langkah antisipasi menghadapi perkembangan El Nino dan kondisi musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.