Dampak El Nino Kemarau di Sumsel Makin Kering, BMKG Imbau Waspadai Karhutla
tarso romli August 02, 2026 08:27 PM

 

 

Baca juga: Dampak El Nino, BMKG Sumsel Peringatkan Ancaman Karhutla Akibat Minim Hujan di Awal Juli

SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan mengimbau masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, wilayah Sumatera Selatan saat ini tengah memasuki puncak musim kemarau pada periode Agustus hingga September 2026, dengan karakteristik cuaca yang jauh lebih kering akibat pengaruh fenomena El Nino.

Kepala BMKG Sumsel, Dr. Wandayantolis, mengungkapkan bahwa kemarau tahun ini diprediksi semakin kering karena gelombang panas El Nino terpantau aktif dan menguat di wilayah Sumsel.

Kendati demikian, kekeringan yang terjadi dipastikan tidak separah peristiwa El Nino ekstrem pada tahun 1997 maupun 2015 silam.

"El Nino kini telah aktif pada level kuat dan berpotensi meningkat hingga kategori sangat kuat, tapi tidak akan sekering peristiwa El Nino ekstrem yang terjadi pada 1997 maupun 2015," ujar Wandayantolis, Minggu (2/8/2026).

Ia menjelaskan, puncak musim kemarau di Sumsel diperkirakan masih akan terus berlangsung hingga pertengahan Oktober mendatang.

Meskipun nantinya mulai turun hujan, intensitasnya diprediksi masih relatif rendah sehingga belum efektif untuk menghentikan kemunculan hotspot atau titik panas pemicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Berdasarkan pemantauan BMKG, Hari Tanpa Hujan (HTH) di beberapa wilayah Sumsel bahkan telah mencapai kisaran 40 hari berturut-turut.

Kendati di sebagian besar daerah HTH tertahan pada kisaran 6 hingga 10 hari berkat operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) yang dilaksanakan pada 19–30 Juli 2026 lalu, akumulasi curah hujan sepanjang bulan Juli tetap berada di bawah normal klimatologisnya.

Waspadai Karhutla dan Penurunan Kualitas Udara

Kondisi kering berkepanjangan ini secara signifikan meningkatkan potensi meluasnya karhutla sekaligus memicu penurunan kualitas udara akibat polusi asap.

Menyikapi hal tersebut, BMKG mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan pertanian atau perkebunan dengan cara membakar.

Warga juga diingatkan untuk bijak menghemat penggunaan air bersih serta menjaga kesehatan mengingat suhu udara dan konsentrasi polutan cenderung meningkat.

Pemerintah daerah bersama satgas terkait juga didorong untuk memanfaatkan pembaruan data iklim dari BMKG sebagai acuan dalam mengambil langkah mitigasi dini, termasuk pengendalian karhutla dan pengelolaan irigasi pertanian.

"Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan terus melakukan pemantauan perkembangan musim kemarau dan mengimbau masyarakat serta seluruh sektor terkait untuk memperhatikan informasi iklim terbaru agar tetap produktif dan mampu beradaptasi dengan kondisi cuaca yang kurang bersahabat," pungkas Wandayantolis.

Baca juga: BMKG Sumsel: Waspada Kemarau Lebih Kering, Luruskan Istilah "El Nino Godzilla"

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.