Citizen Report
Oleh: Hamida Hamris, S.Pd., M.Pd.
Dosen UNM
TRIBUN-TIMUR.COM, PANGKEP – Petani kacang tanah di Desa Tondongkura, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), kini memiliki harapan baru untuk mempertahankan produktivitas lahannya di tengah ancaman musim kemarau.
Melalui pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dikembangkan akademisi Universitas Negeri Makassar (UNM), kebutuhan air irigasi dapat dipenuhi dengan biaya yang lebih hemat sekaligus ramah lingkungan.
Inisiatif ini lahir dari persoalan yang dihadapi petani kacang tanah di Desa Tondongkura. Selama beberapa musim terakhir, produktivitas pertanian terus menurun akibat kekeringan yang menyebabkan pasokan air irigasi semakin terbatas.
Di sisi lain, penggunaan pompa berbahan bakar minyak dinilai membebani petani karena tingginya biaya operasional.
Kondisi tersebut mendorong tim UNM menghadirkan solusi melalui teknologi energi terbarukan berupa sistem PLTS yang dimanfaatkan untuk menggerakkan pompa air irigasi.
Program ini diketuai Ir. Muhammad Hasim, M.Pd., bersama anggota Akmal Hidayat, S.Pd., M.Pd., Hamida Hamris, S.Pd., M.Pd., dan Ummul Masir, S.Pt., M.Si.
Selain memasang dan menguji sistem PLTS, tim juga memberikan pendampingan kepada masyarakat mengenai cara mengoperasikan, merawat, dan mengelola teknologi tersebut agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Ketua Tim Pengabdi, Ir. Muhammad Hasim, M.Pd., mengatakan tantangan yang dihadapi petani bukan hanya keterbatasan sumber air, tetapi juga mahalnya biaya operasional ketika menggunakan pompa berbahan bakar fosil.
Menurutnya, energi surya menjadi pilihan yang lebih efisien karena sesuai dengan potensi wilayah yang mendapatkan paparan sinar matahari sepanjang tahun.
“Melalui pemanfaatan energi surya, masyarakat tidak hanya memperoleh akses energi yang lebih murah dan berkelanjutan, tetapi juga memiliki peluang untuk meningkatkan produktivitas pertanian, khususnya komoditas kacang tanah yang selama ini terdampak musim kemarau,” kata Hasim kepada wartawan Minggu (2/8/2026).
Program tersebut mendapat sambutan positif dari pemerintah desa maupun kelompok tani.
Sejak proses pemasangan hingga uji coba sistem, para petani terlibat aktif dalam setiap tahapan kegiatan sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian masyarakat dalam mengelola teknologi yang telah diterapkan.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Dzulfadhli, mengapresiasi kontribusi sivitas akademika UNM melalui Program Pemberdayaan Desa Binaan yang dinilai mampu menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi bagi masyarakat desa.
Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah menjadi langkah strategis dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan di pedesaan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada sivitas akademika Universitas Negeri Makassar atas pelaksanaan program ini. Harapan kami, kegiatan ini tidak hanya memberikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi petani, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata dalam mendorong pembangunan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan. Sinergi seperti ini sangat penting untuk mewujudkan desa yang lebih mandiri, produktif, dan sejahtera,” ungkap Dzulfadhli.
Melalui Program Pemberdayaan Desa Binaan ini, UNM berharap pemanfaatan energi surya tidak hanya menjadi jawaban atas persoalan kekeringan yang dialami petani kacang tanah di Desa Tondongkura, tetapi juga dapat menjadi model pengembangan pertanian berkelanjutan di daerah lain yang menghadapi tantangan serupa.
Inovasi tersebut sekaligus mempertegas peran perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi berbasis riset yang berdampak langsung bagi masyarakat, mulai dari memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani, hingga mendorong pemanfaatan energi bersih untuk pembangunan desa yang lebih mandiri dan berkelanjutan.