POSBELITUNG.CO, BELTUNG -- Suasana hangat menyelimuti sebuah rumah sederhana di Desa Tanjung Kelumpang, Kecamatan Simpang Pesak, Kabupaten Belitung Timur ( Beltim ), Provinsi Kepulauan Bangka belitung ( Babel ), Minggu (2/8/2026).
Di tengah teduhnya pepohonan yang menaungi halaman rumah tersebut, sekelompok orang datang membawa kepedulian bagi Suhardi, seorang warga yang telah bertahun-tahun hidup dengan gangguan jiwa tanpa perawatan yang memadai.
Rombongan itu dipimpin oleh Nana Adham Murry yang hadir bersama suaminya, Wakapolda Kepulauan Bangka Belitung Brigjen Pol Murry Miranda.
Keduanya menyapa Suhardi dengan hangat dan berbincang bersama keluarga serta warga sekitar yang turut menyaksikan kunjungan tersebut.
Saat ditemui, Suhardi tampak mengenakan kaus merah kusam dengan rambut panjang yang telah menggimbal akibat lama tidak mendapatkan perawatan.
Melihat kondisi tersebut, Nana mengaku tergerak untuk memberikan bantuan dan pendampingan agar Suhardi bisa memperoleh penanganan yang lebih baik.
“Berbuat baik itu bikin ketagihan,” ujar Nana sambil tersenyum.
Kalimat sederhana itu seakan menjadi alasan mengapa langkahnya terus mengarah kepada masyarakat yang membutuhkan.
Menurut Nana, kondisi Suhardi bukan terjadi tanpa sebab. Ia mendengar cerita bahwa pria itu dulunya merupakan sosok yang mapan.
"Pak Suhardi dulu ganteng, masih muda, pengusaha. Katanya punya empat mobil. Setelah mengalami tekanan hidup, beliau mengalami gangguan jiwa," katanya.
Cerita tentang masa lalu Suhardi masih hidup di ingatan warga desa. Ada yang mengaitkannya dengan persoalan berat yang membuatnya stres, bahkan berkembang berbagai cerita yang sulit dipastikan kebenarannya.
Namun bagi Nana, penyebab itu bukan lagi hal utama. Yang lebih penting adalah bagaimana Suhardi bisa mendapatkan kesempatan untuk pulih.
Ia mengaku pertama kali melihat Suhardi saat berada di kawasan Punai. Pemandangan yang ditemuinya membuat hatinya terenyuh.
"Saya lihat rambutnya sudah gimbal, sudah bertahun-tahun. Saya prihatin. Tidak dicukur, tidak dimandikan. Karena itu kami datang berkoordinasi dengan keluarga dan perangkat desa," ujarnya.
Nana mengatakan, pihaknya telah berbicara dengan keluarga, kepala dusun, hingga pemerintah desa agar Suhardi dapat memperoleh penanganan yang lebih baik.
"Kalau keluarga berkenan, kita akan fasilitasi rehabilitasi kejiwaan. Kita juga berkoordinasi soal BPJS supaya prosesnya bisa dibantu," katanya.
Perjalanan menuju pemulihan memang tidak selalu mudah. Nana mengungkapkan, Suhardi pernah menjalani perawatan sekitar 17 tahun silam. Namun ia kemudian dipulangkan karena berbagai keterbatasan.
Kini, ia berharap kesempatan kedua dapat benar-benar mengubah kehidupan Suhardi.
Saat pertama ditemui, Suhardi sempat menunjukkan penolakan. Tubuhnya yang kurus tampak menyimpan kegelisahan yang telah lama bersarang.
"Awalnya memang berontak, tapi kita tenangkan pelan-pelan," tutur Nana.
Baginya, orang dengan gangguan jiwa bukanlah individu yang harus dijauhi, melainkan mereka yang membutuhkan uluran tangan dan kesempatan untuk kembali menjalani hidup secara layak.
Prinsip itulah yang selama ini ia pegang dalam berbagai kegiatan sosial. Nana mencontohkan bagaimana penyandang disabilitas netra yang pernah ia dampingi kini mampu mandiri setelah mendapat pelatihan pijat.
"Ada penyandang disabilitas yang buta. Kami datangkan terapis dari Bekasi Timur untuk memberikan pelatihan. Alhamdulillah sekarang sudah ada yang bisa mandiri. Orang-orang yang rentan seperti ini harus kita berdayakan, karena mereka juga rentan mengalami tekanan mental bahkan keinginan mengakhiri hidup," ujarnya.
Program pemberdayaan tersebut, kata dia, akan terus berlanjut dengan pelatihan secara berkala setiap beberapa bulan. (posbelitung.co/dede suhendar)