Laporan Wartawan Serambi Indonesia Jafaruddin I Aceh Utara
SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Sebuah rapa-i tua yang usianya diperkirakan telah melampaui satu abad, sampai kini masih menjadi andalan Grup Rapa-i Uroeh Tualang Tuha Desa Matang Keupula Sa, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur.
Masyarakat mengenalnya dengan nama Rapa-i Ceureumen Apui (Cermin Api), sebuah rapa-i pusaka peninggalan Abdul Gani atau Nek Gani yang hingga kini terus dirawat oleh cucunya, Iskandar, Ketua Grup Rapai Uroeh Tualang Tuha Matang Keupula Sa.
Secara visual, Rapa-i Ceureumen Apui tidak menampilkan ornamen ukiran atau hiasan mencolok.
Kesederhanaan bentuknya justru memperlihatkan karakter Rapa-i Pase tua yang lebih mengutamakan kualitas bunyi daripada nilai dekoratif.
Bagi masyarakat Matang Keupula, Ceureumen Apui bukan sekadar alat musik tradisional.
Di balik suaranya yang bergemuruh, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan mencari banie (banir) Pohon Tualang di belantara hutan, kegagalan yang nyaris menghapus harapan, hingga kemenangan yang kemudian melahirkan nama legendaris yang masih dikenang sampai sekarang.
Rapa-i Ceureumen Apui kini menjadi salah satu rapa-i andalan Grup Rapai Uroeh Tualang Tuha, kelompok Rapa-i Pase yang sampai kini menjadi satu-satunya yang masih aktif bertahan di Kabupaten Aceh Timur.
Baca juga: Ini Penjelasan Ilmiah Mengenai Dominannya Kayu Tualang pada Baloh Rapa-i Pase
Dalam tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi, setidaknya terdapat dua peristiwa besar yang diyakini menjadi asal-usul nama Ceureumen Apui.
Peristiwa pertama terjadi ketika Nek Gani bersama sejumlah syekh Rapa-i Pase dari Pirak, yang kini masuk wilayah Kecamatan Pirak Timu, Kabupaten Aceh Utara, berangkat menuju hutan belantara di kawasan Alue Mirah, Kecamatan Langkahan.
Tujuannya mencari banir (banie-aceh), Pohon Tualang sebagai bahan utama pembuatan baloh rapa-i.
Peristiwa itu diperkirakan terjadi awal abad ke-19.
Perjalanan itu bukan pekerjaan singkat.
“Sekitar empat bulan di dalam hutan hingga akhirnya berhasil membuat empat buah rapa-i dari satu banie Pohon Tualang dengan alat tradisional pahat tangan,” ujar Iskandar, Ketua Grup Rapa-i Uroeh Tualang Tuha Matang Keupula Sa kepada Serambinews.com, Minggu (2/8/2026).
Namun ketika keempat rapa-i itu pertama kali diuji coba setelah pemasangan membran, musibah justru terjadi.
“Tiga rapa-i pecah berkeping-keping seperti kaca sesaat setelah dipukul. Hanya satu rapa-i yang tetap utuh dan mengeluarkan suara yang nyaring,” ungkap Iskandar.
Baca juga: Cerita Hasan Kadir Soal Warisan Keahlian Memasang Kulit Rapa-i Pase, Pernah Alami Kejadian Mistis
Rapa-i yang bertahan itulah kemudian diberi nama Ceureumen Apui.
Peristiwa kedua terjadi beberapa waktu kemudian saat Nek Gani membawa rapa-i tersebut mengikuti uroeh melawan kelompok rapa-i dari Kuta Binjei Kabupaten Aceh Timur, sekitar tahun 1980-an.
Menurut cerita yang diwariskan para syekh rapa-i, pertandingan itu merupakan laga balas dendam setelah sebelumnya kelompok Nek Gani kalah dari Kuta Binjei.
Nama Ceureumen Apui semakin dikenal setelah Nek Gani membawa rapa-i tersebut mengikuti uroeh melawan kelompok Rapa-i Pase dari Kuta Binjei, Aceh Timur.
Menurut cerita para syekh, pertandingan itu merupakan laga balas setelah kelompok Nek Gani sebelumnya mengalami kekalahan.
Sebelum pertandingan dimulai, kedua kelompok membuat kesepakatan.
Siapa yang kalah harus memakan segenggam cabai rawit sebagai bentuk menerima kekalahan.
"Cerita yang kami dengar seperti itu. Siapa yang kalah harus memakan cabai rawit satu genggam," ungkap ujar Iskandar kepada Serambinews.com, Minggu (2/8/2026).
Dengan dentuman Rapa-i Ceureumen Apui, kelompok Nek Gani berhasil membalikkan keadaan dan memenangkan pertandingan.
Konon, setelah kelompok lawan memenuhi perjanjian dan memakan cabai rawit, mereka merasakan sensasi panas luar biasa hingga seolah-olah api keluar dari mulut.
Baca juga: Raja Mulieng Padukan Rapa-i Tua dengan Karya Milenial dari Kayu Tualang untuk Jaga Warisan Indatu
Cerita itulah yang kemudian dipercaya masyarakat semakin menguatkan penyebutan nama Ceureumen Apui atau Cermin Api.
Sejak saat itu, rapa-i tersebut menjadi salah satu pusaka yang paling dihormati di kalangan awak Rapai Pase.
Dari Pirak Menyebar ke Aceh Timur
Sekitar lima tahun setelah pembuatan Ceureumen Apui, Nek Gani bersama rombongannya kembali memasuki hutan untuk mencari banie tualang.
Kali ini mereka berencana membuat sepuluh rapa-i, tetapi hanya lima yang berhasil diselesaikan.
Pada masa yang hampir bersamaan, masyarakat Matang Keupula mulai mengembangkan tradisi Rapa-i Pase.
Melalui dana zakat masyarakat, mereka membeli empat rapa-i pusaka dari Grup Rapai Pirak, masing-masing bernama Tualang Tuha, Aneuk Bude Meuh, Emping Buso, dan Boh Keuceubong.
Pembelian tersebut difasilitasi oleh seorang warga Matang Keupula yang memiliki hubungan keluarga melalui pernikahan dengan masyarakat Pirak.
Masyarakat setempat meyakini keempat rapa-i itu berasal dari lokasi banie Pohon Tualang yang sama dengan Ceureumen Apui.
Dari salah satu rapa-i pusaka bernama Tualang Tuha, kemudian lahirlah Grup Rapa-i Uroeh Tualang Tuha yang hingga kini menjadi satu-satunya kelompok Rapa-i Uroeh atau Rapa-i Pase yang masih aktif bertahan di Aceh Timur.(*)