Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Ibu Dalangnya, Ingin Gagalkan Pernikahan, Anak Sampai Depresi
ninda iswara August 03, 2026 02:38 AM

TRIBUNTRENDS.COM - Kasus dugaan penculikan yang menimpa atlet golf Jesslyn Wijaya (32) mulai menemui titik terang setelah sejumlah fakta baru terungkap dalam penyelidikan polisi.

Peristiwa yang sempat menghebohkan publik itu berawal saat Jesslyn dijemput secara paksa dari sebuah restoran di kawasan Mangga Besar, Jakarta Pusat, pada Senin (13/7/2026).

Di balik insiden tersebut, aparat menemukan dugaan bahwa peristiwa itu berkaitan dengan persoalan yang terjadi di lingkungan keluarga korban.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Hery Saputra menjelaskan, lima pria bertubuh besar yang membawa Jesslyn dari lokasi ternyata diduga bertindak atas perintah ibunya.

Penjemputan paksa itu dilakukan saat Jesslyn berada di Restoran Saung Kita, Mangga Besar, sebelum kemudian dibawa meninggalkan Jakarta.

Dari ibu kota, perjalanan dilakukan melalui jalur darat menuju Bandara Ahmad Yani yang berada di Semarang, Jawa Tengah.

Pergerakan Jesslyn terus ditelusuri oleh penyidik untuk mengungkap rangkaian kejadian secara utuh.

Baca juga: Jadi Korban Penculikan Settingan Keluarganya Sendiri, Keberadaan Jesslyn Wijaya Masih di Bangkok

Sehari setelah penjemputan tersebut, tepatnya Selasa (14/7/2026), Jesslyn diketahui diterbangkan ke Kuala Lumpur, Malaysia.

Namun perjalanan itu tidak berhenti di Malaysia karena ia kembali melanjutkan penerbangan ke Bangkok, Thailand.

Polisi kemudian menelusuri keberadaan Jesslyn selama berada di luar negeri.

Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa atlet golf tersebut tidak berada seorang diri selama di Thailand.

Penyidik menemukan fakta bahwa Jesslyn berada bersama ibu dan bibinya di negara tersebut.

Temuan ini memperkuat dugaan bahwa kasus yang sedang ditangani memiliki keterkaitan erat dengan konflik internal keluarga.

Meski demikian, aparat masih terus mendalami motif serta peran masing-masing pihak dalam rangkaian peristiwa tersebut.

Penyelidikan pun terus berjalan untuk memastikan seluruh fakta terungkap dan memberikan kejelasan atas kasus yang menjadi sorotan publik itu.

Ibu Tak Restui Hubungan Anak

Polisi menduga penjemputan paksa itu dipicu penolakan keluarga terhadap hubungan asmara Jesslyn dengan calon suaminya, Evan.

Akibatnya, Jesslyn diduga dibawa ke luar negeri agar tidak dapat melangsungkan pernikahan.

"Ya, dugaan sementara karena ada masalah internal keluarga, ketidaksetujuan atas hubungan Jesslyn dengan pacarnya," jelas Roby saat dikonfirmasi melalui panggilan telepon, Jumat (31/7/2026).

Padahal, menurut pengakuan calon suami Jesslyn, Evan, persiapan pernikahan mereka sejatinya sudah hampir rampung dan akan dilaksanakan, meski enggan mengungkap waktu pastinya.

"Saya sebagai calon suaminya Jesslyn dan seharusnya memang kami melaksanakan pernikahan dalam waktu dekat, kami sudah membeli gaun dan mendaftarkan pernikahan ke gereja," ucap Evan.

Jesslyn Pernah Lapor Dugaan Kekerasan hingga Depresi

Konflik Jesslyn dengan ibunya disebut bukan baru terjadi kali ini.

Evan mengungkapkan, pada April hingga Oktober 2025, Jesslyn pernah diisolasi di rumah ibunya sehingga tidak bisa berkomunikasi dengan siapa pun.

"Jadi laporan itu waktu Jesslyn ada di rumah ibunya. Handphone-nya dirampas, laptopnya disita oleh ibunya, sehingga Jesslyn tidak punya alat komunikasi apa pun untuk berhubungan dengan saya ataupun dengan teman-temannya. iPad juga dirampas, kemudian Jesslyn tidak boleh keluar sendiri tanpa didampingi oleh ibunya," jelas Evan di Kantor Komnas Perempuan, Jumat.

Menurut Evan, tekanan tersebut membuat Jesslyn kehilangan pekerjaan dan mengalami tekanan psikologis berat.

"Sehingga dia depresi sekali dan sudah tiga kali melakukan percobaan bunuh diri karena sudah tidak kuat dengan perlakuan ibunya. Sehingga Jesslyn memutuskan untuk keluar dari rumah dan hidup mandiri (pada Oktober 2025)," tutur Evan.

Pada saat itu, Jesslyn didampingi Evan dan kuasa hukumnya melaporkan dugaan kekerasan yang dialaminya ke Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) DKI Jakarta serta Komnas Perempuan.

Namun, menurut Evan, laporan tersebut tidak berlanjut dan Jesslyn hanya memperoleh layanan konsultasi psikologis.

Evan berharap Jesslyn dapat kembali memperoleh kebebasannya sebagai perempuan dewasa.

"Saya hanya memperjuangkan hak asasi manusia atas Jesslyn, dan hak Jesslyn sebagai perempuan dewasa yang sudah berumur 32 tahun, agar Jesslyn ini bisa hidup seperti layaknya manusia normal, manusia dewasa hidup di negara Indonesia," harap Evan.

Baca juga: Atlet Golf Jesslyn Wijaya Selama Ini Diduga Diawasi Ketat Oleh Keluarga, Tak Boleh Keluar Tanpa Ibu

PENCULIKAN ATLET GOLF - Kejanggalan kasus penculikan atlet golf Jesslyn Wijaya
PENCULIKAN ATLET GOLF - Kejanggalan kasus penculikan atlet golf Jesslyn Wijaya (Tribun Trends/Instagram jessylinwijaya)

Calon Suami Minta Polisi Usut

Meski kini Jesslyn berada bersama keluarganya, Evan dan kuasa hukumnya, Andi Darti, meminta kepolisian tetap mengusut dugaan tindak pidana yang terjadi saat penjemputan paksa.

Andi mengatakan, berdasarkan keterangan yang diterimanya, Jesslyn sempat melawan dan meminta pertolongan ketika dibawa dari restoran.

"Ketika Jesslyn meminta tolong, tidak ada yang menolong. Ketika Jesslyn akan meronta untuk keluar dari mobil pun, tubuhnya didorong kembali ke dalam mobil dan Jesslyn dibawa paksa ke Semarang," kata Andi.

Menurut Andi, dugaan tindak pidana tetap harus diproses meski belakangan Jesslyn disebut berada bersama keluarganya atas kemauan sendiri.

"Perlu kami tegaskan di sini bahwa tindak pidana yang terjadi pada tanggal 13 Juli 2026, dan kalaupun saat ini Jesslyn ternyata setuju bersama dengan orang tuanya, itu tidak menghapuskan atau menggugurkan tindak pidana yang terjadi sebelumnya," ujar Andi.

Polisi siapkan pemeriksaan virtual

Sementara itu, Roby memastikan penyelidikan masih terus berlangsung dan belum dapat disimpulkan ada atau tidaknya unsur pidana.

"Belum bisa kita putuskan (unsur pidana), makanya namanya penyelidikan. Kalau sudah ada unsur pidananya namanya penyidikan, sampai saat ini masih dilanjutkan," terang Roby.

Menurut dia, penentuan ada tidaknya tindak pidana akan sangat bergantung pada keterangan Jesslyn, terutama apakah ia merasa keberatan saat dibawa ke Bangkok.

Untuk memperoleh keterangan secara langsung tanpa tekanan, penyidik berencana memeriksa Jesslyn melalui panggilan video setelah menerima rekaman video testimoni darinya.

"Masih, masih (di Bangkok). Kita sudah dikirimi video Jesslyn, video dia testimoni. Nanti kita akan coba bicara melalui video call atau Zoom untuk bisa berkomunikasi dengan Jesslyn di luar negeri," tutur Roby.

(TribunTrends/Kompas)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.