TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Persiapan pembongkaran makam atau ekshumasi terhadap jenazah NA (10), bocah sekolah dasar yang diduga meninggal akibat aksi perundungan, terus dimatangkan di tempat pemakaman umum kawasan Tunggul Hitam.
Langkah hukum ini ditempuh guna mengungkap penyebab pasti kematian murid sekolah dasar tersebut, belakangan menyita perhatian publik.
Sejak Senin (3/8/2026) pagi, suasana di area tempat pemakaman korban tampak diselimuti ketegangan dan rasa haru yang mendalam.
Hasil pantauan langsung di lokasi sekitar pukul 09.24 WIB menunjukkan area tempat peristirahatan terakhir korban telah disterilkan oleh petugas.
Baca juga: Empat Pria di Solok Diciduk Polisi Terkait Sabu, Ada Mahasiswa hingga Petani
Sebuah tenda berdinding terpal warna hitam tampak dipasang menutupi seluruh area kuburan bocah malang tersebut.
Pemasangan terpal tebal ini sengaja dilakukan agar proses penggalian hingga tindakan otopsi berjalan secara tertutup dan menjaga privasi keluarga.
Di luar area tenda, sosok ayah kandung korban terlihat berdiri tegap menyandarkan rasa dukanya.
Dengan raut wajah sayu dan tatapan kosong, sang ayah enggan beranjak dari posisi berdiri yang tak jauh dari pusara anak tercintanya.
Kehadirannya di lokasi menjadi bukti ketegaran pihak keluarga yang terus menuntut keadilan serta kejelasan hukum atas wafatnya sang buah hati.
Baca juga: Cuaca 7 Kota di Sumbar Senin 3 Agustus 2026: Waspada Potensi Hujan Sedang di Pariaman
Petugas kepolisian dari Polresta Padang juga telah bersiap dan menyebar di sekitar lokasi pembongkaran sejak pagi.
Selain personel pengamanan, tim Dokter Kepolisian (Dokpol) beserta ahli forensik juga sudah tampak hadir mengawal persiapan di lapangan.
Kehadiran tim medis ini menandakan tindakan otopsi akan segera dilaksanakan begitu makam berhasil dibongkar secara teknis.
Sisi teknis penggalian pun terlihat sudah diperhitungkan dengan cermat oleh para petugas di lapangan.
Sejumlah alat penggalian seperti sekop dan cangkul tampak sudah diletakkan tepat di samping tenda hitam tersebut.
Peralatan tersebut disiapkan agar tim penggali dapat segera bekerja begitu instruksi resmi dari penyidik kepolisian diturunkan.
Proses ekshumasi ini diharapkan mampu memberikan titik terang secara medis mengenai dugaan kekerasan fisik atau perundungan di sekolah yang dialami oleh korban sebelum menghembuskan napas terakhir.
Sebelumnya, pihak SD Negeri 33 Rawang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, membantah tuduhan mengenai adanya praktik perundungan (bullying) yang menyebabkan salah satu siswinya, berinisial NA (10), meninggal dunia.
Kepala SD Negeri 33 Rawang, Siptah Hayadi, menegaskan bahwa berdasarkan penelusuran internal yang dilakukan pihak sekolah, tidak ditemukan bukti-bukti yang mengarah pada dugaan aksi perundungan terhadap almarhumah.
"Keterangan dari orang tua NH tidak sesuai dengan keterangan guru dan fakta di sekolah," kata Siptah saat memberikan konfirmasi pada Senin (27/7/2026).
Siptah juga mengungkapkan bahwa para guru di sekolah merasa sangat syok dan terkejut saat pertama kali mendengar kabar mengenai dugaan perundungan yang menimpa siswinya tersebut.
Meskipun diterpa isu duka dan tuduhan tersebut, pihak sekolah memastikan bahwa proses dan aktivitas belajar mengajar di SD Negeri 33 Rawang tetap berjalan seperti biasa.
Baca juga: Siswi SMA Semen Padang Lolos ke Kampus Top RI, Australia hingga Hong Kong
Guna mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, Siptah menjelaskan bahwa pihak sekolah selama ini selalu menerapkan aturan ketat dan pengawasan intensif terhadap para murid.
Salah satu langkah antisipasi yang rutin dilakukan adalah membatasi izin keluar kelas saat jam pelajaran berlangsung, di mana murid yang meminta izin tidak boleh lebih dari satu orang secara bersamaan.
Tak hanya di dalam kelas, pengawasan ketat juga tetap dijalankan oleh jajaran guru saat jam istirahat sekolah tiba untuk memastikan keamanan seluruh siswa.
Di mata pihak sekolah dan guru-guru, almarhumah NA sendiri dikenal sebagai sosok anak yang baik serta mudah bergaul dengan kawan-kawan sekelasnya.
Pernyataan dari pihak sekolah ini berbanding terbalik dengan kronologi yang disampaikan oleh ayah korban, Wahid Al Amin, saat ditemui pada Minggu (26/7/2026).
Baca juga: Pencarian Warga Padang Hilang di Hutan Unand Berlanjut, Keluarga Ikut Menyisir
Wahid menceritakan bahwa kecurigaan keluarga bermula ketika putrinya pulang sekolah pada Senin (20/7/2026) dalam kondisi badan yang tidak nyaman.
Keesokan harinya pada Selasa, kondisi kesehatan NA semakin memburuk secara drastis. Korban bahkan tidak mampu lagi pergi ke sekolah karena merasakan sakit yang teramat sangat di sekujur tubuhnya, khususnya di area pinggang.
Puncak kecemasan keluarga terjadi ketika rasa sakit tersebut membuat korban mengalami kesulitan bergerak dan demam tinggi.
Keluarga sempat berencana membawa korban ke fasilitas kesehatan, namun proses evakuasi terkendala karena korban menjerit kesakitan setiap kali hendak dipindahkan.
Setelah berhasil mendapatkan perawatan medis di rumah sakit, nyawa bocah kelas tiga SD tersebut tidak berhasil diselamatkan.
NA akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di ruang perawatan rumah sakit pada Kamis, 23 Juli 2026.
Baca juga: Pelatihan Kopi Bantjah PT Semen Padang Dorong Petani Kembangkan Produk Bernilai Tambah
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis yang diterima keluarga, tidak ditemukan adanya luka lebam atau tanda-tanda benturan pada bagian luar tubuh korban.
Kendati demikian, tim medis mendeteksi adanya cedera serius pada organ bagian dalam tubuh NA.
Pemeriksaan tersebut mengungkapkan adanya pergeseran tulang pada area pinggang korban.
Temuan inilah yang kemudian memicu dugaan kuat dari pihak keluarga bahwa cedera tersebut diakibatkan oleh kekerasan fisik di lingkungan sekolah.
Wahid menduga putrinya sempat mengalami kekerasan fisik, seperti didorong atau dipukul oleh pihak lain, meskipun ia mengaku tidak mengetahui secara pasti bentuk insiden yang menimpa anaknya.
Dugaan tersebut semakin diperkuat oleh pengakuan korban sebelum meninggal dunia.
“Sebelum berpulang, NA sempat memberikan informasi penting kepada keluarganya mengenai nama-nama rekan sekolah yang diduga menjadi pelaku perundungan terhadap dirinya,”ucap Wahid.
Tindakan perundungan tersebut ternyata bukan kali pertama dialami oleh korban.
Keluarga mengungkapkan bahwa NA sejatinya telah menjadi sasaran perundungan sejak duduk di bangku kelas 2 SD.
Baca juga: PT Semen Padang Salurkan 8.000 Liter Air Bersih untuk Warga Lambung Bukik Terdampak Galodo
Pihak keluarga bahkan sempat melaporkan perbuatan tersebut kepada pihak sekolah, namun tindakan intimidasi diduga kembali berulang saat korban naik ke kelas 3.
Kenangan manis bersama sang buah hati kini tinggal kenangan yang menyakitkan bagi Wahid dan keluarga.
Sebelum berpulang dan merayakan hari lahirnya, NA sempat menyampaikan keinginan sederhana kepada keluarganya untuk dibuatkan kue bolu cokelat sebagai kado ulang tahun.
Keinginan terakhir bocah perempuan tersebut kini selamanya tidak akan pernah terwujud. Kue bolu cokelat yang diimpikannya hadir bersamaan dengan kepergiannya untuk selama-lamanya menghadap Sang Pencipta. (*)