Istanbul (ANTARA) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan perundingan dengan Iran akan dimulai Senin sore waktu setempat, seraya menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan terkait Selat Hormuz dan program nuklir Teheran dapat segera tercapai.

Berbicara kepada wartawan di dalam pesawat Air Force One pada Minggu (2/8), Trump mengatakan pembicaraan dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Iran mendorongnya membatalkan rencana serangan besar-besaran yang semula dijadwalkan berlangsung pada Jumat.

"Kami diminta oleh tiga kelompok utama. Kami juga menerima permintaan yang sangat kuat dari Iran, bahwa mereka ingin mencapai kesepakatan" kata Trump.

Trump mengatakan operasi militer itu dibatalkan setelah Iran dan sejumlah negara di kawasan meminta Washington menahan diri.

"Serangan itu akan menjadi operasi besar-besaran. Mereka meminta kami untuk tidak melakukannya. Mereka berkata, tolong jangan lakukan itu. Negara-negara tetangga mereka juga menyampaikan hal yang sama," katanya.

Menurut Trump, Arab Saudi juga berharap agar penyelesaian dilakukan melalui jalur diplomasi.

"Mereka meyakini bahwa kesepakatan sudah semakin dekat, terutama terkait Selat Hormuz dan pada akhirnya menyangkut denuklirisasi," ucapnya.

Ketika ditanya mengenai tenggat waktu untuk mencapai kesepakatan, Trump mengatakan tidak ada batas waktu yang ditetapkan.

"Kita lihat saja nanti," katanya.

Meski demikian, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap siap menggunakan kekuatan militer jika diperlukan.

"Saya lebih memilih mencapai kesepakatan. Saya tidak ingin membunuh orang karena banyak nyawa akan melayang dan kami tidak menginginkannya," ujarnya.

Trump juga menyebut operasi yang direncanakan itu akan membawa dampak besar bagi Iran dan mengeklaim negara tersebut memerlukan waktu bertahun-tahun untuk memulihkan diri.

Namun, ketika ditanya apakah serangan itu akan menyasar infrastruktur energi Iran, Trump menolak memberikan penjelasan lebih lanjut.

Sumber: Anadolu