Di (SPPG) Halim, selain mengelola sampah, KLH/BPLH memberikan IPAL untuk mengelola air limbah, di sebelah SPPG ada sawah sekitar 6,5 hektare, karena air irigasi dari IPAL itu, sawahnya bisa panen 3 kali...
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyatakan siap memberikan pendampingan guna memastikan prinsip ekonomi sirkular diterapkan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), agar seluruh produksi makanan dan limbahnya tidak membebani lingkungan.
Dalam keterangan dikonfirmasi dari Jakarta, Senin, Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH)/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Diaz Hendropriyono menyatakan pihaknya siap mendampingi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar proses produksi, pengelolaan limbah makanan, dan air limbah tidak bocor ke lingkungan, melainkan berputar kembali menjadi sumber daya baru yang bernilai ekonomi dan ekologi.
"Yang mungkin bisa kita capai dengan cepat, apakah proses produksi bisa sirkular, kita punya Program MBG, ada SPPG di mana-mana. Targetnya kita akan dampingi agar SPPG itu bisa membuat ekosistem yang sirkular, itu sedang (KLH/BPLH) lakukan sebenarnya. Di setiap yang kita lakukan harus ada circularity, termasuk program prioritas Presiden," jelas Wamen Diaz.
Pada Indonesia Net-Zero Summit 2026 di Jakarta pada Sabtu (1/8) Wamen Diaz menyampaikan bahwa KLH/BPLH sudah melakukan pendampingan teknis dan penyediaan infrastruktur lingkungan di beberapa SPPG yang menjadi percontohan.
Hasilnya terbukti mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar, salah satunya melalui pemanfaatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang mendukung pengairan sektor pertanian.
"Di (SPPG) Halim, selain mengelola sampah, KLH/BPLH memberikan IPAL untuk mengelola air limbah, di sebelah SPPG ada sawah sekitar 6,5 hektare, karena air irigasi dari IPAL itu, sawahnya bisa panen 3 kali, sehingga dari sini kita bisa lihat bahwa MBG bukan hanya beri makan, tapi bisa juga produksi makan," jelas Wamen Diaz.
KLH/BPLH menyampaikan penerapan ekonomi sirkular tidak selalu bergantung pada teknologi tinggi, melainkan juga berakar pada kearifan lokal.
Setelah meninjau berbagai daerah, Wamen Diaz menemukan salah satu praktik terbaik yang sangat adaptif seperti di SPPG Gorontalo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di lokasi itu sisa makanan digunakan untuk pakan ternak dan minyak jelantah diolah kembali untuk kepentingan masyarakat.
Penguatan prinsip sirkular sendiri merupakan upaya mendesak dalam menghadapi perubahan iklim global yang semakin ekstrem.
Dengan Wamen Diaz mengingatkan adanya ancaman nyata terhadap pulau-pulau di Indonesia apabila tidak ada langkah mitigasi dan adaptasi yang signifikan dari seluruh sektor pembangunan.
"Kita pastikan Indonesia tetap ada, karena kalau kita tidak lakukan apa-apa, ada ramalan dari Maplecroft yang mengatakan bahwa di tahun 2050, sekitar 1500 pulau kecil akan tenggelam dan di tahun 2100, menurut ADB (Asian Development Bank), ada lebih dari 115 pulau sedang yang akan tenggelam, jadi kita harus pastikan apa yang produksi ada circularity, supaya Indonesia tetap exist dan ramalan tersebut menjadi salah," kata Wamen LH Diaz Hendropriyono.





