TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Setiap hari, Puja masih datang ke tempat latihan. Atlet senam Riau itu tetap menjalani rutinitas seperti biasa, menjaga kondisi fisik dan terus berlatih demi mempertahankan prestasinya.
Namun, di balik semangat yang masih ia tunjukkan, tersimpan rasa kecewa yang sudah dipendam hampir dua tahun.
Bonus atas perjuangannya di Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumatera Utara 2024 hingga kini belum juga diterima secara penuh.
Bagi Puja, persoalan ini bukan lagi sekadar soal uang. Yang paling menyakitkan adalah ketidakpastian dan janji yang terus berulang tanpa kejelasan.
"Sudah dua tahun bonus PON Aceh-Sumut 2024 belum dicairkan semuanya. Baru sekitar 45 persen yang dicairkan pada September 2025, sementara sisanya tidak ada kejelasan. Kami cuma dijanji-janjikan saja," ujar Puja, Senin (3/8/2026)
Ia mengatakan, Pemerintah Provinsi Riau sebelumnya sempat menjanjikan pelunasan bonus dilakukan pada awal tahun. Namun hingga kini, janji tersebut belum juga terealisasi.
Kondisi itu perlahan menggerus semangat para atlet. Bahkan, Puja mengaku kini muncul perasaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Sekarang kami merasa takut berprestasi, karena kami takut jadi beban daerah untuk membayarkan bonus kami. Semangat kami rasanya sudah tidak ada lagi untuk membela Riau ini. Karena bonus saja tidak mampu ditangani sama Pemprov Riau," katanya.
Menurut Puja, saat atlet dari provinsi lain sudah fokus mempersiapkan berbagai kejuaraan berikutnya dan menatap PON selanjutnya, atlet Riau justru masih harus memperjuangkan hak yang belum mereka terima.
Meski begitu, latihan tetap berjalan. Hanya saja, pembinaan belum maksimal karena tidak ada program pemusatan latihan (training camp). Para atlet lebih banyak berlatih secara mandiri dengan pendampingan dari KONI Riau.
"Kegiatan sekarang kami tetap latihan. Tapi kalau untuk TC tidak ada sama sekali. Jadi sekarang paling persiapan mandiri dan dibina KONI Riau," ujarnya.
Rasa kecewa yang sama juga dirasakan atlet renang Riau, Vanessa Evato. Satu-satunya wakil Riau di cabang olahraga renang pada PON 2024 itu mengaku belum pernah mengalami persoalan bonus selama membela daerahnya di ajang PON.
Padahal, PON Aceh-Sumut merupakan ajang keempat yang ia ikuti sebagai atlet Riau.
"Ini sudah terlalu lama bonus kami belum dibayarkan seratus persen. Kami menagih hak kami kepada Pemerintah Riau," kata Vanessa.
Ia berharap pemerintah segera memenuhi hak atlet dan pelatih yang telah berjuang mengharumkan nama Bumi Lancang Kuning.
"Kami sudah mempersembahkan yang terbaik untuk Riau, sekarang giliran pemerintah memenuhi hak kami. Saya sudah empat kali PON mewakili Riau. Tapi yang terakhir ini yang paling mengecewakan dalam hal pemberian bonus," ujarnya.
Vanessa juga mempertanyakan alasan keterbatasan anggaran yang selama ini disampaikan pemerintah.
"Yang saya heran, sudah bolak-balik mengadakan konser dan mengundang artis besar yang pastinya mengeluarkan biaya besar. Katanya tidak ada uang karena efisiensi anggaran, sedangkan bonus kami tidak dibayar semuanya," katanya.
Kekecewaan para atlet turut dirasakan pelatih. Ahmad Markos menilai persoalan bonus yang tak kunjung selesai menjadi pukulan besar bagi dunia olahraga Riau.
Menurutnya, kondisi tersebut belum pernah ia temui sebelumnya dan berpotensi merusak pembinaan atlet di masa depan.
"Belum pernah terjadi di tingkat dunia maupun nasional. Ini sangat memalukan. Kami sangat kecewa karena sudah dua tahun hak atlet dan pelatih belum juga dibayarkan sepenuhnya," ujar Markos.
Ia mengungkapkan, beberapa atlet bahkan mulai mempertimbangkan untuk pindah membela provinsi lain karena kehilangan kepercayaan terhadap perhatian pemerintah daerah.
Persoalan bonus PON 2024 memang terus menjadi sorotan. Sebelumnya, pengurus provinsi berbagai cabang olahraga yang berada di bawah naungan KONI Riau telah beberapa kali mendesak Pemerintah Provinsi Riau agar segera melunasi sisa bonus atlet dan pelatih.
Mereka menilai janji pembayaran yang terus disampaikan belum pernah benar-benar diwujudkan. Dari total bonus yang dijanjikan, baru sekitar 45 persen yang dibayarkan pada September 2025, sementara sisanya masih menggantung tanpa kepastian.
Sebagai bentuk protes, para pengurus cabang olahraga, atlet, dan pelatih berencana menggelar aksi damai di Kantor Gubernur Riau pada 8 Agustus 2026. Mereka berharap aksi tersebut menjadi jalan terakhir agar pemerintah segera menyelesaikan hak para atlet yang telah mengharumkan nama Riau di PON Aceh-Sumatera Utara 2024.
Bagi para atlet, bonus bukan semata-mata penghargaan dalam bentuk uang. Lebih dari itu, bonus adalah wujud apresiasi negara dan pemerintah daerah atas pengorbanan, kerja keras, serta prestasi yang mereka persembahkan untuk masyarakat Riau. (Tribun Pekanbaru/Budi Rahmat)