70 Persen Pasien Kanker Lambat Terdeteksi, Pemfokusan Diagnostik Berbasis AI Mulai Diperkuat
Dodi Esvandi August 03, 2026 03:23 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Tingginya angka keterlambatan diagnosis masih menjadi tantangan utama penanganan kanker di Indonesia. 

Data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) mencatat terdapat lebih dari 408 ribu kasus baru kanker dengan 242 ribu kematian di Indonesia setiap tahunnya. 

Mirisnya, lebih dari 70 persen pasien baru berkonsultasi ke fasilitas kesehatan saat penyakit sudah memasuki stadium lanjut, sehingga memperkecil peluang kesembuhan dan memperrumit proses terapi.

Menjawab tantangan tersebut, pendekatan precision oncology (onkologi presisi) kini mulai digalakkan melalui pemanfaatan teknologi medis berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan molecular imaging. 

Pendekatan ini menggeser metode pengobatan konvensional dari yang semula berfokus pada jenis organ menjadi pemetaan spesifik karakteristik penyakit pada tiap pasien.

Chief Executive Officer MRCCC Siloam Semanggi, Tries Nainggolan, mengungkapkan bahwa ketepatan diagnosis di tahap awal merupakan titik krusial dalam menentukan keberhasilan terapi bagi pasien kanker.

"Perjalanan pasien kanker dimulai dari diagnosis yang tepat. Semakin akurat informasi klinis yang diperoleh dokter sejak dini, semakin presisi pula skenario terapi yang bisa diberikan," ujar Tries dalam keterangan resminya.

Dalam mendukung transformasi diagnostik tersebut, MRCCC Siloam Semanggi mengintegrasikan empat modalitas teknologi pencitraan medis generasi terbaru: uMI Panvivo PET/CT, Symbia Pro.specta Q3 SPECT/CT, Spectral CT 7500, dan uAngio AVIVA Intelligent Angiography System.

Baca juga: Hari Kanker Paru Sedunia: Kenali Gejala dan Lakukan Skrining Sejak Dini

Hospital Director MRCCC Siloam Semanggi, dr. Adityawati Ganggaiswari, M.Biomed, MARS, menjelaskan bahwa modalitas PET/CT dan SPECT/CT berperan penting mendeteksi lesi berukuran mikro, mengevaluasi fungsi organ, serta memantau respons jaringan terhadap terapi secara lebih efisien dan minim waktu pindaian.

Sementara itu, teknologi Spectral CT digunakan untuk menganalisis komposisi jaringan secara mendalam untuk membedakan sel normal dan jaringan karsinogenik secara presisi.

Selain penanganan kanker primer, penanganan kondisi komorbiditas—khususnya kardiovaskular—juga menjadi fokus. 

Studi Johns Hopkins University (2020) menunjukkan penyintas kanker memiliki risiko 42% lebih tinggi mengalami penyakit kardiovaskular.

Untuk itu, penggunaan sistem angiografi cerdas (uAngio AVIVA) difungsikan untuk mendukung tindakan minimal invasif, mulai dari biopsi berbasis pencitraan, embolisasi, hingga penanganan komplikasi pembuluh darah dengan dosis paparan radiasi yang lebih rendah bagi pasien.

Langkah penguatan infrastruktur diagnostik ini diharapkan dapat menekan rasio keterlambatan penanganan kanker sekaligus meminimalisasi kecenderungan masyarakat untuk melakukan pemindaian medis ke luar negeri.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.