BANGKAPOS.COM -- Masyarakat Indonesia dipastikan tidak dapat menyaksikan Gerhana Matahari Total yang terjadi pada 12 Agustus 2026.
Hal tersebut disebabkan jalur bayangan inti Bulan hanya melintasi kawasan Belahan Bumi Utara, sehingga fenomena tersebut tidak terlihat dari wilayah Indonesia, baik sebagai gerhana total maupun gerhana sebagian.
Dalam fenomena Gerhana Matahari Total, Bulan berada tepat di antara Matahari dan Bumi sehingga cahaya Matahari tertutup sepenuhnya bagi pengamat yang berada di jalur totalitas.
Ketika kondisi ini terjadi, langit siang akan berubah menjadi gelap layaknya senja selama beberapa menit.
Selain perubahan pencahayaan, suhu udara di sekitar lokasi pengamatan umumnya mengalami penurunan.
Baca juga: Mudah, Cara Cek Status Penerima Bansos Bulan Agustus 2026, Lihat Juga Besaran Bansosnya
Pada saat yang sama, korona Matahari yang biasanya tertutup cahaya terang Matahari dapat terlihat jelas, bahkan beberapa planet dan bintang terang berpotensi muncul di langit.
Menurut Badan Antariksa Eropa (ESA), peristiwa pada Agustus 2026 merupakan Gerhana Matahari Total pertama sejak gerhana yang melintasi Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada pada April 2024.
Setelah jeda lebih dari dua tahun, fenomena ini kembali menjadi perhatian para astronom di berbagai negara.
Bayangan Bulan akan bergerak melintasi Greenland, Islandia, Samudra Atlantik Utara, Rusia bagian utara, Spanyol bagian utara, hingga sebagian kecil wilayah timur laut Portugal. Pengamat yang berada tepat di lintasan tersebut dapat menikmati fase totalitas dengan durasi maksimum sekitar 2 menit 18 detik.
Spanyol menjadi salah satu negara yang paling dinantikan dalam peristiwa ini. Pasalnya, gerhana tersebut merupakan Gerhana Matahari Total pertama yang dapat diamati dari daratan Spanyol sejak 1905.
Selain itu, gerhana tahun 2026 menjadi awal rangkaian tiga Gerhana Matahari yang diperkirakan dapat disaksikan di negara tersebut hingga 2028.
Di luar jalur totalitas, sejumlah negara di Eropa tetap dapat menyaksikan Gerhana Matahari Sebagian.
Tingkat penutupan Matahari berbeda-beda, mulai sekitar 20 persen di Dublin, 30–40 persen di London, 40–50 persen di Brussels dan Amsterdam, 45–55 persen di Paris, 70–80 persen di Lisbon, hingga lebih dari 90 persen di Madrid meski tidak berada tepat di jalur totalitas.
Fenomena serupa juga dapat diamati di beberapa wilayah Amerika Utara. Greenland menjadi salah satu lokasi yang mengalami penutupan Matahari hingga 100 persen, sedangkan sebagian Kanada timur dan sejumlah negara bagian Amerika Serikat seperti Maine, Vermont, Massachusetts, New York, hingga Alaska akan mengalami Gerhana Matahari Sebagian.
Berdasarkan perhitungan astronomi, gerhana dimulai dengan fase sebagian pada pukul 15.34 UTC. Fase total berlangsung mulai pukul 16.58 UTC dengan puncak gerhana pada 17.45 UTC.
Selanjutnya fase total berakhir pukul 18.34 UTC, sementara keseluruhan gerhana selesai pada 19.57 UTC.
Meski durasi totalitasnya lebih singkat dibanding Gerhana Matahari Total 2024 yang berlangsung lebih dari empat menit, peristiwa kali ini tetap memiliki nilai ilmiah tinggi.
Di Spanyol, posisi Matahari yang berada rendah di ufuk saat gerhana diperkirakan menghasilkan panorama langit yang dramatis dan menjadi daya tarik bagi wisatawan astronomi dari berbagai negara.
Bagi masyarakat yang berada di wilayah pengamatan, NASA mengingatkan agar tidak melihat Matahari secara langsung tanpa pelindung khusus.
Pengamatan Gerhana Matahari Sebagian harus menggunakan kacamata gerhana bersertifikat atau filter Matahari yang sesuai standar. Kacamata hitam biasa tidak mampu melindungi mata dari radiasi Matahari.
Penggunaan teleskop, kamera, maupun teropong juga harus dilengkapi filter Matahari pada bagian depan lensa.
Tanpa perlindungan tersebut, cahaya Matahari dapat menyebabkan kerusakan permanen pada mata sekaligus merusak perangkat optik yang digunakan.
(Tribunnews.com/Kompas.com/Bangkapos.com)