BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Waktu baru menunjukkan pukul 07.30 WIB ketika suara sapu lidi memecah kesunyian pagi di kawasan Benteng Toboali. Embun masih menggantung di ujung rerumputan, sementara daun-daun ketapang yang berguguran perlahan dikumpulkan ke sudut halaman.
Di tengah kompleks bangunan tua yang berdiri di atas bukit itu, seorang pria bertopi lusuh berjalan pelan menyusuri setiap sudut benteng. Tangannya menggenggam sapu lidi. Sesekali ia berhenti mengamati dinding bata tua yang mulai diselimuti lumut, memastikan tak ada bagian bangunan yang luput dari perhatiannya.
Pria itu adalah Asnawi, salah seorang Juru Pelihara Cagar Budaya di bawah Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V.
Selama hampir 16 tahun, pria asli Toboali itu mengabdikan dirinya menjaga Benteng Toboali benteng peninggalan kolonial Belanda yang masih berdiri di kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan.
Bagi sebagian orang, pekerjaannya mungkin terlihat sederhana. Menyapu halaman, memangkas rumput, membersihkan lumut, memotong tanaman liar, hingga menyambut wisatawan yang datang.
Namun, di balik pekerjaan itu tersimpan tanggung jawab besar: memastikan bangunan berusia lebih dari 200 tahun tetap bertahan untuk dikenalkan kepada generasi berikutnya.
"Tugas saya sebenarnya sederhana, membersihkan, merawat, dan menjaga. Tapi kalau tidak ada yang melakukan itu setiap hari, bangunan bersejarah ini lama-lama akan rusak dan ditinggalkan,"kata Asnawi kepada Bangkapos,Senin (3/8/2026).
Rutinitas Asnawi nyaris tak pernah berubah.
Setiap pagi ia sudah berada di benteng sebelum kawasan wisata dibuka. Bersama tiga rekannya dua pegawai honor Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan dan seorang pegawai PNS BPK ia membagi tugas menjaga kawasan cagar budaya tersebut.
Meski bekerja berempat, Asnawi memiliki pola kerja yang ia susun sendiri agar seluruh kawasan selalu terawat.
Hari pertama ia membersihkan halaman tengah. Keesokan harinya berpindah ke sisi barat, lalu utara, timur, selatan hingga bagian luar benteng. Dalam satu bulan, Bangunan utama memiliki ukuran sekitar 54 x 34 meter dengan luas sekitar 1.836 meter persegi dan terdiri atas tujuh ruangan.
"Kalau saya, satu bulan itu seluruh kawasan harus selesai dibersihkan. Hari ini halaman tengah, besok bagian barat, kemudian utara, timur sampai selatan. Jadi semuanya terawat," katanya.
Baginya, benteng tidak bisa dirawat sekaligus.
Rumput akan kembali tumbuh. Lumut terus muncul. Daun akan selalu berguguran. Karena itu, sedikit demi sedikit, setiap hari, menjadi cara paling efektif menjaga kawasan tetap bersih.
Menjaga dari Tangan-Tangan yang Merusak
Pekerjaan Asnawi ternyata bukan hanya menyapu halaman.
Ia juga harus menjaga benteng dari tangan-tangan yang ingin merusaknya.
Saat Bangkapos berbincang dengannya, dua pria terlihat memasuki kawasan benteng sambil membawa detektor logam dan sebuah cangkul. Sesekali mereka menggali tanah di sekitar reruntuhan bangunan. Beberapa titik bahkan tampak berlubang kecil.
Satu berkeliling dengan alat detektor tersebut yang berwarna hitam panjang dan bulat dibagian ujung menyisir ke seluruh tempat sedangkan temannya mengali.
Asnawi langsung menghampiri keduanya.
"Cari apa, Bang?" tanyanya.
Ternyata mereka sedang mencari besi tua maupun koin kuno peninggalan zaman Belanda yang diyakini masih tertimbun di sekitar benteng.
Fenomena itu, kata Asnawi, bukan hal baru. Hampir setiap hari selalu ada orang yang datang berharap menemukan benda berharga di kawasan cagar budaya tersebut.
Padahal tindakan itu justru merusak situs bersejarah.
"Mereka berharap menemukan koin kuno atau besi peninggalan Belanda. Kadang tanah digali, padahal itu bisa merusak kawasan benteng," ujarnya.
Tak jarang ia harus menegur mereka. Bahkan pernah suatu ketika, tegurannya dibalas kemarahan.
"Pernah saya menegur orang yang masuk membawa parang di pinggang. Dia marah karena merasa terganggu. Tapi memang tugas saya menjaga tempat ini," katanya.
Selain aksi penggalian liar, Asnawi juga masih menemukan pengunjung yang mencoret-coret dinding benteng menggunakan batu dan perusakan fasilitas yang ada.
Meski kini jumlahnya jauh berkurang dibanding beberapa tahun lalu, ancaman vandalisme tetap menjadi perhatian. Menurutnya, bangunan cagar budaya tidak bisa diperbaiki seperti rumah biasa.
Setiap kerusakan harus ditangani dengan metode konservasi agar nilai sejarahnya tidak hilang.
Saat wisatawan datang, Asnawi berganti peran.
Ia bukan lagi sekadar penjaga.
Ia menjadi pemandu sejarah.
Dengan sabar ia menjelaskan fungsi setiap ruangan, sejarah pembangunan benteng, hingga perubahan fungsi bangunan dari masa ke masa.
Tak sedikit pengunjung yang terkejut mengetahui benteng tersebut masih bertahan setelah hampir dua abad.
Pengunjungnya pun datang dari berbagai daerah, bahkan mancanegara.
Menurut Asnawi, wisatawan dari Belanda, Amerika Serikat, Maroko, India, hingga Pakistan pernah datang khusus untuk melihat langsung benteng peninggalan kolonial tersebut.
"Banyak yang heran bagaimana bangunan hampir 200 tahun masih bisa berdiri sampai sekarang," ujarnya.
Dedikasi Asnawi tidak datang bersama kemapanan ekonomi. Selama sekitar 15 tahun, ia mengabdi sebagai tenaga honorer dengan gaji sekitar Rp1 juta per bulan.
Nominal itu nyaris tak berubah, sementara tanggung jawabnya menjaga salah satu situs cagar budaya terpenting di Bangka Belitung terus berjalan setiap hari.
Agar kebutuhan keluarga dengan dua anak tetap terpenuhi, di luar jam kerja ia berkebun lada. Sementara sang istri membuka warung makan sederhana.
Namun usaha itu harus berhenti ketika pandemi Covid-19 melanda. Meski penghasilannya terbatas, semangat Asnawi tak pernah berkurang.
Baginya, menjaga warisan sejarah bukan soal besar kecilnya gaji, melainkan amanah yang harus dijalankan. "Yang penting tempat ini tetap bersih dan terawat. Itu yang selalu saya pegang,yakin aja dengan apa yang saya lakukan daripada tidak ada kerjaan mending mengabdi seperti ini," ujarnya.
Penantian panjang itu akhirnya berbuah manis.
Pada Oktober 2025, setelah sekitar 15 tahun menjadi honorer, Asnawi resmi diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkungan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V.
Penghasilannya pun meningkat menjadi sekitar dua kali lipat dibanding saat masih berstatus honorer. Meski demikian, perubahan status itu tidak mengubah caranya bekerja.
Ia tetap datang paling pagi, menyapu halaman, memangkas rumput, membersihkan lumut, sekaligus menyambut para wisatawan.
"Alhamdulillah sekarang sudah lebih tenang. Dulu gaji sekitar satu juta, sekarang setelah diangkat PPPK memang lebih baik. Tapi prinsip saya tidak berubah. Hak dari negara sudah diberikan, jadi kewajiban saya menjaga benteng ini sebaik mungkin," katanya.
Benteng Toboali bukan sekadar bangunan tua.
Benteng yang dibangun pemerintah kolonial Belanda pada 1825 itu dahulu menjadi pusat pertahanan sekaligus tempat penyimpanan hasil tambang timah dari Bangka.
Masing-masing ruangan memiliki fungsi berbeda, yakni pos jaga, rumah inspektur, gudang penyimpanan, barak prajurit, ruang mesiu, ruang pengawas, hingga dapur.
Seluruh bangunan dibuat menggunakan bata merah, batu alam, kayu keras, genteng tanah liat, serta keramik berukuran besar yang sebagian masih bertahan hingga kini.
Benteng dibangun di atas bukit dengan ketinggian sekitar 18 meter di atas permukaan laut.
Posisi itu menjadikannya lokasi yang sangat strategis untuk mengawasi jalur pelayaran di Selat Bangka, salah satu jalur perdagangan penting yang menghubungkan Pulau Sumatera dengan Kepulauan Bangka Belitung.
"Benteng ini langsung menghadap laut. Belum ada pepohonan seperti sekarang. Dari sini kapal-kapal yang melintas di bisa terlihat jelas," kata Asnawi.
Menurut cacatan sejarah seiring perjalanan waktu, benteng mengalami beberapa kali perubahan fungsi.
“Saat Jepang menduduki Indonesia pada 1942–1945, benteng dikuasai tentara Jepang. Setelah Indonesia merdeka, bangunan tersebut beralih fungsi menjadi Kantor Kepolisian Sektor Toboali sejak 1950 hingga sekitar 1980,” katanya.
Kawasan ini ditetapkan sebagai situs cagar budaya tahun 2019 berada di bawah pengelolaan Pemda Bangka Selatan dan pengawasan Balai Pelestarian Kebudayaan.
Setiap pagi sebelum memulai pekerjaannya, Asnawi selalu mengawali hari dengan menghormati tempat yang dijaganya.
Bukan karena percaya pada kisah-kisah mistis, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah panjang yang tersimpan di balik dinding-dinding tua benteng.
Baginya, Benteng Toboali bukan sekadar tumpukan bata merah yang menua dimakan waktu tetapi identitas Toboali. (Bangkapos.com/Erlangga)