Tribunlampung.co.id, Jakarta - Diding Boneng sempat memberi pesan kepada adik-adiknya sebelum meninggal dunia pada hari Senin (3/8/2026) di kawasan Mataram, Jakarta Pusat.
Pesan yang disampaikan Diding Boneng sebagai harapan supaya seluruh keluarganya hidup akur. Artinya tidak bersengketa atau berselisih.
Adik Diding Boneng, Zainal Arifin mengatakan bahwa pesan tersebut bukan sebagai pesan terakhir. Sebab detik-detik meninggalnya sang artis tidak memberikan pesan.
Hal itu karena kondisi kesehatannya yang sudah cukup parah sudah tidak bisa bicara.
Namun jauh dari itu, pria yang meninggal diusia 76 tahun itu sempat memberikan pesan kepada semua adik-adiknya.
"Ya dia minta cuma saya, adik-adik saya, 'Janganlah bersengketa, jangan berselisih. Hidup akur-akur.' Itu aja pesannya," ucapnya dikutip dari Tribunnews.com.
Arifin menyebut kalau kondisi kesehatan Diding terus menurun hingga akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di rumahnya di kawasan Matraman, Jakarta Pusat, Senin (3/8/2026).
"Nah saya lihat, memang sudah susah bernapas. Kalau bicara memang sudah nggak bisa. Di situlah saya panggil anak-anaknya semua, suruh mereka mengaji," kata Zainal Arifin di rumah duka, Senin siang.
"Gak lama ya meninggal tadi jam 06.04 WIB," sambungnya.
Sebelum Meninggal, Arifin menceritakan kronologi Diding sebelum dilarikan ke rumah sakit beberapa bulan lalu.
Diding sempat mengeluh sakit perut saat di rumah. Kemudian, keluarga membawa pemain film 'Warkop DKI' itu ke rumah sakit.
"Awalnya dia masih di rumah tuh mengeluh. Sakit perut gitu... Sampai di dokter, dokter bilang, 'Oh ini ada maag, terus sama jantung dan asma' gitu. Terus ya kami bawa pulang lagi," jelasnya.
"Cuma pulang dari dokter, merasa sesak napas. Ya kita, kita bawalah ke rumah sakit Tarakan. Ternyata sampai di Tarakan dia terkena stroke," sambungnya.
Diding Boneng kemudian menjalani perawatan selama 10 hari di rumah sakit. Setelah kondisinya membaik, ia diizinkan pulang.
"Setelah 10 hari, pulang ke rumah. Di rumah 3 hari... Asmanya udah parah sekali," ujar Zainal Arifin.
Arifin menyebut saat dirawat di rumah, kondisi Diding juga terus menurun bahkan napasnya harus dibantu oksigen.
"Setiap hari tuh dia bernapas pakai tabung oksigen karena asma nya sudah akut atau juga sudah komplikasi," ucapnya.
"Sebelum tabung oksigen habis, keluarga udah isi lagi karena sudah ketergantungan," tambahnya.(*)