Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Yolanda Putri Dewanti
TRIBUNBEKASI.COM, TANAH ABANG- Pagar besi berwarna emas setinggi sekitar tiga meter masih mengelilingi kawasan Menara BNI di Jalan Pejompongan Raya, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (3/8/2026).
Keberadaan pagar tersebut berbeda dengan Mal Kota Kasablanka yang sebelumnya telah menurunkan pagar pembatas di area depannya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, pagar bermotif garis dekoratif itu membentang dari sisi depan Menara BNI di Jalan Pejompongan Raya hingga sisi samping yang menghadap Jalan Pejompongan IV dan Jalan Pejompongan V.
Sejumlah banner merah putih bertema HUT Ke-81 Republik Indonesia juga dipasang pada beberapa bagian pagar.
Dengan adanya pagar tersebut, area taman yang sebelumnya terbuka kini tidak lagi dapat diakses secara bebas oleh masyarakat.
Baca juga: Pesan Bos Lippo ke Pemerintah Terkait Fenomena Mal Dipasang Pagar Tinggi
Baca juga: Respons Pramono Anung Banyak Mal dan Perkantoran di Jakarta Tinggikan Pagar
Meski demikian, akses menuju plaza yang terdapat patung Garuda berukuran besar masih tersedia melalui bukaan pagar dan tangga kecil yang disediakan.
Pedagang warung di sekitar Menara BNI, Wiro (42), mengatakan pemasangan pagar dilakukan secara bertahap sejak beberapa bulan terakhir.
"Ya bertahap perubahan dari yang lama ke yang baru. Beberapa bulan ini dipagari. Karena katanya untuk meningkatkan keamanan. Tadinya cuma pagar batu, sekarang dipasang pagar besi warna emas," ujarnya.
Menurut Wiro, sebelum pagar dipasang, kawasan depan gedung sering digunakan warga maupun pedagang kaki lima untuk berkumpul dan beristirahat.
"Banyak orang duduk-duduk di depan. Kayaknya kantornya mau ada standar keamanannya, jadi dipasang yang lebih tinggi," katanya.
Keberadaan pagar menarik perhatian karena kawasan depan Menara BNI sempat menjadi salah satu titik kericuhan saat aksi demonstrasi besar pada Agustus 2025.
Namun, Wiro mengatakan berdasarkan informasi yang diterimanya dari para pekerja di Menara BNI, pemasangan pagar bukan dipicu oleh aksi unjuk rasa tersebut.
"Kemarin memang dari luar itu lari-larinya ke daerah sini. Tapi di sini aman sih, pokoknya katanya memang sudah direncanakan," tuturnya.
Hal senada disampaikan pedagang lainnya, Fadil (37). Menurut dia, kawasan Jalan Pejompongan Raya memang sempat menjadi titik awal kericuhan saat demonstrasi tahun lalu.
"Tahun lalu memang di sini dulu ricuhnya, soalnya dari DPR pada larinya ke sini sampai loncat ke rel kereta. Makanya itu kali dibikin pagar," ucap Fadil.
Pagar besi tinggi yang sempat terpasang di depan Mal Kota Kasablanka (Kokas), Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan, akhirnya dibongkar.
Pagar yang beberapa hari terakhir menjadi sorotan publik itu kini sudah tidak terlihat lagi. Yang tersisa hanya bekas dudukan instalasi pagar di sepanjang area depan pusat perbelanjaan tersebut.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Minggu (2/8/2026), akses menuju pintu masuk Mal Kota Kasablanka kembali terbuka seperti semula.
Jalur pejalan kaki yang sebelumnya tertutup pagar kini kembali dapat dilalui tanpa hambatan sehingga area depan mal tampak lebih terbuka.
Pembongkaran pagar tersebut menarik perhatian publik karena sebelumnya pemasangannya sempat menjadi perbincangan di media sosial.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung meminta pengelola mal, kawasan properti, dan perkantoran tidak lagi perlu memasang pagar tinggi secara berlebihan.
Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menjaga citra Jakarta sebagai kota yang aman, nyaman, dan ramah bagi masyarakat maupun pelaku usaha.
"Dan secara pribadi, sebagai Gubernur Jakarta tentunya saya tetap berkeinginan apa pun Jakarta itu aman, nyaman, dan juga bagi para pelaku bisnis, termasuk pemilik mal, properti, perkantoran, dan sebagainya, tidak perlu kemudian harus memasang pagar yang berlebihan," tutur Pramono, di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Sabtu (1/8/2026).
Pramono mengatakan, Pemprov DKI akan berkoordinasi dengan aparat keamanan dan penegak hukum untuk menertibkan pemasangan pagar tinggi.
Ia menilai keberadaan pagar berlebihan dapat menimbulkan kesan bahwa kondisi keamanan Jakarta sedang memburuk, padahal menurutnya situasi ibu kota tetap aman.
"Dan saya akan segera mengoordinasikan untuk menertibkan itu. Sebab, jangan sampai kemudian ini menjadi image Jakarta sedang tidak baik-baik saja," tuturnya.
"Padahal menurut saya, sebagai Gubernur Jakarta, dan saya melakukan koordinasi dengan aparat keamanan dan aparat penegak hukum di berbagai sektor, saya meyakini bahwa Jakarta aman-aman saja," sambung dia.
Meski demikian, Pramono menegaskan pemerintah tak melarang keberadaan pagar sebagai pembatas kawasan dikompolasi dari wartakota dan kompas.com
Ia hanya meminta desain pembatas tidak berlebihan dan mendorong pengelola memperbanyak ruang hijau serta membuka akses antarkawasan agar lingkungan lebih nyaman.
"Jadi, untuk larangan itu terus terang memang tidak secara spesifik. Tetapi dengan membuat pagar yang berlebihan, itu mengganggu kenyamanan, mengganggu apa ya, Jakarta yang sekarang ini menurut saya harusnya bisa lebih baik. Bahkan saya berpikir pagarnya itu enggak perlu tinggi-tinggi," tutur dia.