TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Setiap pagi, dengan pakaian yang mulai lusuh, Indra mengantar anaknya ke sekolah sebelum berangkat mencari nafkah.
Tak ada tempat kerja yang pasti. Sebagai kuli bangunan, ia berpindah dari satu proyek ke proyek lainnya, mengikuti panggilan pekerjaan yang datang demi menghidupi keluarganya.
Berbeda dengan penampilan Indra dua bulan lalu yang setiap hari terlihat rapi, dengan kemeja lengkap pakai sepatu berangkat ke tempat kerjanya saat itu di sebuah Hotel yang ada di Pekanbaru.
Indra menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) tempatnya bekerja sebelumnya, kebijakan itu diambil menurut Indra karena berkurangnya pendapatan perusahaan dan main tidak mau karyawan harus dikorbankan.
Memang selama puluhan tahun mengabdi menjadi karyawan di perusahaan perhotelan itu, Indra mengaku merasa sedih bercampur kesal saat harus dirumahkan, hanya saja menurutnya harus dihadapi dengan lapang dada.
Indra sudah bekerja di perusahaan perhotelan itu lebih kurang, 12 tahun, selama ini bisa membeli rumah dan menyekolahkan anak serta biaya hidup bergantung dengan pekerjaannya tersebut.
Namun takdir berkehendak lain, Indra harus menelan pahit pada awal Juni 2026 lalu masuk dalam daftar karyawan yang di PHK.
"Kaget dan sempat depresi juga awalnya pas dapat surat pemberhentian itu, tapi lama-kelamaan bisa menenangkan pikiran juga,"ujar Indra bercerita yang tinggal di Kulim Pekanbaru ini.
Baca juga: Jelang Hari Buruh 2026, KSBSI Soroti Upah hingga PHK Buruh Perkebunan Sawit di Riau
Yang membuat Indra depresi karena ia memiliki tiga anak, dua sudah bersekolah di tingkat SMP dan SD, sedangkan satu lagi masih usia dua tahun.
Sementara istrinya sendiri sudah lama berhenti bekerja, karena harus mengurus anak di rumah, selama ini hanya bergantung hidup dari gaji Indra yang bekerja di perhotelan itu.
Indra masih bisa bernafas sedikit karena memang masih menerima pesangon dadi perusahaan dan dana dari BPJS Ketenagakerjaan, untuk bisa bertahan sebelum mendapatkan pekerjaan baru.
Hanya saja, bagi Indra yang biasanya sudah bekerja setiap hari, tiba-tiba menjadi pengangguran tentu menjadi beban yang cukup berat, maka Indra memutuskan mencari pekerjaan apapun yang bisa menghasilkan uang yang penting halal untuk keluarganya.
"Kebetulan ada teman saya cerita, katanya butuh kuli bangunan proyek, jadi saya ikut saja, meskipun selama ini belum pernah saya kerja bangunan, tapi demi keluarga, main tidak mau harus saya kerjakan,"ujar Indra.
Saat ini Indra bekerja sebagai kuli bangunan dengan penghasilan Rp750 per pekan, seharian bekerja di proyek-proyek bangunan tersebut di Pekanbaru.
"Istri saya pun sekarang mau tidak mau harus bekerja, kebetulan ada lowongan di tempat laundry, istri juga kerja disana,"ujarnya.
Ia juga sudah banyak melamar kerja ke banyak perusahaan, namun sampai sekarang tak kunjung mendapatkan panggilan, maka langkah ini dijalani Indra demi bertahan hidup keluarganya dan khususnya sekolah anak-anaknya.
"Pulang kampung juga tidak mungkin, di kampung juga serba sulit,"ujar Indra yang merupakan perantau di Pekanbaru itu.
Tidak Hanya Indra, kisah warga Pekanbaru lainnya Hadi yang juga menjadi korban PHK, dialami seorang pekerja di sebuah pergudangan di Pekanbaru, di sana Hadi sudah bekerja 15 tahun menjadi petugas pengamanan.
Ia diberhentikan juga karena adanya kebijakan perusahaan untuk pengurangan karyawan untuk efisiensi anggaran di perusahaan tersebut.
Usianya memang sudah tidak muda lagi, hanya saja Hadi masih memiliki tanggungan anak yang masih bersekolah di jenjang pendidikan SMA sederajat di Pekanbaru.
Langkah yang dilakukan Hadi untuk bisa bertahan hidup dan menyekolahkan anaknya adalah membuka usaha warung dan isi ulang air minum di rumahnya serta berjualan peralatan rumah secara online.
"Uang pesangon ada sedikit, buka usaha di rumah sama jualan juga di online, tapi dengan situasi sekarang berat juga, orang juga pada susah beli barang peralatan rumah di media sosial,"ujarnya.
Hadi menempakan pintu trali dan pagar untuk dijualnya melalui aplikasi jualan di media sosial, meskipun pembelinya tidak seperti yang diharapkan, Hadi tetap bersemangat untuk jualan demi penghasilan untuk keluarga.
Hadi berharap ada perhatian pemerintah kepada para korban PHK seperti dirinya, apakah diberikan pekerjaan atau diberi pelatihan untuk bisa membuka usaha baru, terutama di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah.
"Kalau kami yang di PHK ini tidak diperhatikan takutnya nanti kriminalitas makin tinggi, karena ini soal perut dan bertahan hidup,"ujar Hadi yang tinggal di Tenayan Raya Pekanbaru ini.
( Tribunpekanbaru.com / Nasuha Nasution)