IPOT Prediksi Pergerakan Pasar Pekan Pertama Agustus Masih Dipengaruhi Data Ekonomi AS
Adrianus Adhi August 03, 2026 06:32 PM

SURYA.co.id, Surabaya - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat 0,64 persen sepanjang pekan lalu dan ditutup di level 6.236. Kenaikan ini terjadi meski pergerakan indeks sempat diwarnai volatilitas akibat kombinasi sentimen domestik dan global, sementara investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp1,4 triliun di pasar reguler.

Pada awal pekan, pasar sempat tertekan oleh kabar pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia yang memicu ketidakpastian arah kebijakan moneter. Namun, sentimen berangsur membaik setelah Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya sesuai ekspektasi. Keputusan ini memberi sinyal bahwa bank sentral AS masih mengambil pendekatan wait and see terhadap inflasi dan ekonomi.

“Kombinasi meredanya kekhawatiran global serta dukungan investor domestik berhasil menjaga IHSG tetap berada di zona hijau, meskipun arus keluar dana asing masih berlanjut,” kata Hari Rachmansyah, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Senin (3/8/2026).

Sentimen Global dan Domestik Pekan Ini

Memasuki pekan pertama Agustus, pergerakan pasar global diperkirakan masih dipengaruhi data ekonomi Amerika Serikat, arah kebijakan moneter The Fed, serta dinamika pasar komoditas. Fokus utama investor akan tertuju pada rilis FOMC Minutes, data S&P Global Services PMI, Trade Balance AS, dan Jobless Claims.

“Dari sisi korporasi, dimulainya musim laporan keuangan emiten besar seperti PepsiCo juga akan menjadi barometer awal terhadap kinerja perusahaan di tengah perlambatan ekonomi,” jelas Hari.

Pasar komoditas akan mencermati harga minyak seiring kondisi geopolitik di Timur Tengah, distribusi melalui Selat Hormuz, serta kebijakan produksi OPEC+. Faktor-faktor ini berpotensi memengaruhi sektor energi dan ekspektasi inflasi global.

Hari menambahkan, kombinasi sentimen global tersebut akan menentukan arah pergerakan Wall Street, pasar obligasi, nilai tukar Dolar AS, hingga aliran dana ke pasar negara berkembang termasuk Indonesia.

Dari domestik, IHSG pekan ini diperkirakan dipengaruhi rilis Cadangan Devisa Indonesia, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), serta data Penjualan Ritel. Investor juga akan memantau perkembangan nilai tukar Rupiah dan arus dana asing setelah tekanan jual asing masih berlanjut.

Selain itu, pelaku pasar menunggu pernyataan lanjutan dari Bank Indonesia terkait langkah menjaga stabilitas Rupiah dan prospek suku bunga pasca dinamika kepemimpinan bank sentral.

“Di sisi korporasi, perhatian investor juga akan tertuju pada rilis laporan keuangan emiten semester I-2026 yang mulai berlangsung dan berpotensi menjadi katalis bagi pergerakan saham-saham sektoral,” ungkap Hari.

Proyeksi IHSG dan Strategi Trading

Secara fundamental, prospek IHSG masih ditopang oleh stabilitas ekonomi domestik, ekspektasi suku bunga global yang cenderung akomodatif, serta musim laporan keuangan emiten semester I-2026.

Meski demikian, investor perlu mencermati keberlanjutan arus dana asing, pergerakan Rupiah, dan sentimen global yang dapat memengaruhi volatilitas pasar. Dari sisi teknikal, IHSG saat ini berada pada fase konsolidasi dan sedang menguji area EMA50 di kisaran 6.250.

“Apabila indeks mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut dengan didukung peningkatan volume transaksi serta kembalinya aksi beli investor asing maka peluang penguatan menuju area 6.400 akan semakin terbuka,” tambah Hari.

Sebaliknya, jika IHSG gagal melewati area EMA50, pergerakan indeks diperkirakan masih bergerak sideways dalam rentang 6.150–6.250 sambil menunggu katalis baru.

“Oleh karena itu, strategi yang dapat dipertimbangkan adalah melakukan akumulasi secara bertahap pada saham-saham berfundamental baik, sembari menunggu konfirmasi arah pergerakan IHSG di atas level resistance tersebut,” terang Hari

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.