Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami deflasi sebesar 0,31 persen pada Juli 2026. Sementara inflasi tahunan tercatat sebesar 2,54 persen. Sedangkan inflasi tahun kalender pada Juli 2026 sebesar 1,27 persen.
Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Endang Tri Wahyuningsih mengatakan deflasi yang terjadi pada Juli 2026 merupakan yang kedua sepanjang tahun 2026. Deflasi pertama terjadi pada Januari 2026 sebesar 0,16 persen.
Penyumbang deflasi terbesar Juli 2026 adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,39 persen dengan andil deflasinya 0,39 persen. Kemudian kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami deflasi sebesar 0,92 persen dan memberikan andil 0,07 persen.
“Pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau utamanya disebabkan oleh penurunan harga cabai rawit, bawang merah, dan cabai merah. Lalu kelompok pribadi dan jasa lainnya utamanya disebabkan oleh turunnya harga emas perhiasan,” katanya melalui keterangan daring, Senin (3/8/2026).
Sebaliknya, kelompok yang mendorong inflasi pada Juli 2026 ialah transportasi sebesar 0,82 persen. Penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah bensin. Hal ini karena harga BBM non subsidi masih lebih tinggi dibanding Juni 2026, meski pada awal Juli sempat turun.
Kelompok pendidikan juga mengalami inflasi sebesar 0,28 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen. Inflasi pada kelompok pendidikan berkaitan dengan dimulainya tahun ajaran baru.
Lebih lanjut Endang memaparkan komoditas yang menahan laju inflasi. Komoditas utama yang menahan laju inflasi adalah emas perhiasan sebesar 0,08 persen. Disusul cabai rawit sebesar 0,07 persen, bawang merah sebesar 0,06 persen, cabai merah sebesar 0,05 persen, dan tomat yaitu 0,03 persen.
“Emas perhiasan masih menjadi komoditas utama penyumbang deflasi. Secara month to month emas perhiasan menjadi yang terbesar pada Juli 2026, penurunan harga emas sejalan dengan tren atau perubahan di dunia. Komoditas lainnya ini dipicu oleh melimpahnya hasil panen di beberapa wilayah,” paparnya.
Sementara komoditas terbesar yang mendorong laju inflasi ialah bensin sebesar 0,10 persen. Komoditas lainnya yang mendorong inflasi adalah wortel, sepeda motor, dan ketimun masing-masing 0,02 persen, serta bawang putih sebesar 0,01 persen.
Secara tahunan inflasi DIY pada Juli 2025 masih dalam rentang target sasaran yakni 2,5 persen±1 % . Pada Juli 2026, inflasi tahunan tercatat 2,54 persen yang lebih rendah dari bulan sebelumnya yaitu 2,91 persen.
Inflasi tahunan pada Juli 2026 disumbang oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil 0,90 persen. Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah emas perhiasan.
Kelompok lainnya ialah transportasi dengan andil 0,58 persen. Sedangkan komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah bensin. (maw)