KEDAI Tok Awang kedatangan dua tamu jauh sekaligus. Stok-stok lama, Sangkot Mujahid dan Selwa Kumar alias Ballu.
Kepada tiap orang yang dikenalnya bertahun-tahun lalu, Selwa, yang sering juga disapa ‘Ane’, mengatakan alias ini berangkat dari satu film India di tahun 1993. Judulnya ‘Khal Nayak’, dan Ballu, persisnya Balram ‘Ballu’ Prasad, merupakan karakter anomali, “bandit” tapi sekaligus juga “anak mudanya” di film itu; diperankan aktor tampan bertatap mata sayu, Sanjay Dutt.
Tak banyak yang berubah pada diri Selwa sejak ia memutuskan merantau ke negeri seberang, membantu pamannya berjualan teh tarik dan martabak kari di Damansara. Hanya rambut ikalnya yang dibiarkan tumbuh memanjang, digerai hingga menyentuh bahu.
Ada pun Sangkot tampak jauh lebih rapi. Lebih bersih dan makin kelihatan terpelajar, bilang Leman Dogol. Kurang dua tahun lalu, setelah menuntaskan kuliahnya, Sangkot pamit ke Jogja untuk melanjutkan pendidikan tingkat master di Kampus Bulaksumur.
Sembari menonton Ucok Morning dan Jek Buntal bermain catur, Sangkot sesekali membuka lembar-lembar buku yang dibawanya, ‘Sejarah Estetika’ dari Martin Suryajaya.
“Udah laen kali bacaan kau sekarang, ya, Kot,” kata Jek Buntal seraya melirik buku yang tebalnya hampir menyaingi bantal itu.
“Kalok yang kayak-kayak Fredy S gitu masih kau baca jugak, Kot?” ujar Leman Dogol pula menimpali.
Sangkot tertawa. “Masih, lah, abangda. Apa pun kita baca. Sepanjang memang sor, kita baca. Apalagi Fredy S. Itu buku bermutu tinggi.”
“Eh, yang dibilang Pigai, kan, gak kek gitu, Kot,” sahut Ucok Morning. “Harus orang barat yang nulis, baru bagus bukunya.”
“Orang barat mana? Jakarta Barat? Jawa Barat, ato Sumatra Barat?”
“Orang barat, lah! Bule!”
“Oke, tapi orang barat yang mana? Buku yang mana?”
“Tak tahu, lah, aku, Kot. Aku cumak dengar cakap Si Pigai. Gak ada pulak disebutnya siapa.”
“Nah, itulah! Memang makin-makin gak jelas menteri sebijik ini. Aku dengar jugak yang dibilangnya soal buku rekomendasi untuk pembaca-pembaca di Indonesia, dan lucu aja memang alasannya. Penulis Indonesia dibilangnya subjektif. Jadi menurut dia penulis barat gak subjektif? Hemingway gak subjektif? Kafka gak subjektif? George Orwell gak subjektif? Lalu, Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow, saat menulis ‘The Grand Design’, tidak subjektif? Mereka harus subjektif untuk mematahkan pandangan deterministik fisika Newton tentang tata kerja alam semesta.”
“Makjang, apa, lah, yang kau cakapkan ini, Kot. Gak ngerti aku,” ujar Ucok Morning seraya menggaruk-garuk kepala dan memamerkan cengiran lebar. Langkah gajah menyusul gerakan pertukaran mengejutkan kuda dengan pion sukses mendesak posisi Jek Buntal. “Bisa kau pakek bahasa yang agak-agak gampang masuk ke otakku yang udah bekarat ini?
Sangkot ikut nyengir. “Awak cumak mo bilang kalok menteri ini asal letup aja, Ketua. Gak ngerti dia apa yang dicakapkannya. Subjektif tak subjektif, kan, bukan ukuran tunggal untuk mutu, seperti jugak tak selamanya buku yang ditulis secara objektif itu otomatis bagus. Macam mana, lah, dia menjelaskan Chairil Anwar? Cemana pulak dia menjelaskan Pramoedya Ananta Toer? Ini masih ngomong soal konteks isi bukunya. Belum jejaring yang berkaitan dengan buku. Cemana produksi buku? Cemana distribusi? Cemana royalti dan kesejahteraan penulis? Gak tepikir Si Pigai semua ini. Asal sodok aja ngomong kek bosnya waktu bilang mobil Pindad bocor dan per-nya gak alus. Siapa, lah, lagi yang mo belik mobil itu?”
“Memang pengaruh jugak, ya, ternyata kalok kelewat sering dengar pidato blio,” sergah Leman Dogol. “Lama-lama jadi makin bengak.”
“Betul, Mak Leman,” ucap Selwa Kumar menyela. “Sepakat awak. Pejabat-pejabat makin lama memang makin bengak. Tapi sebenarnya itu masih belum seberapa, untuk kita-kita malah lebih bahaya lagi.”
“Bahaya cemana, Ne?”
“Bahaya untuk kesehatan!”
“Kesehatan?”
“Gini,” Selwa berdehem, lalu membetulkan posisi duduknya. “Soal ini di tempat kami pun banyak dibahas. Di kalangan peranto-peranto, banyak yang share pidato-pidato blio di medsos. Memang diketawa-ketawai, ya, diejek-ejek, tapi tetap aja bikin sakit ati. Bikin geram. Bikin gondok. Percaya gak percaya kelen, di tempat kami sana, ada yang sampek trauma.”
“Trauma?”
“Iya, tiap dengar pidato Bapak itu, walopun gak sengaja, kek orang kenak sawan babi dia. Temenung kek orang bodo, tros kejang-kejang gitu.”
“Bah! Gawat kali itu,” seru Jek Buntal. Posisi yang makin terdesak memaksanya untuk menumbangkan raja. Ia sudah kalah untuk kali ketiga. Pertarungan selesai. “Orang kita itu? Maksudku, perantoan dari sini?”
“Iya, abangda. Pas pemilu lalu dia dengar-dengar milih Bapak itu. Agak nyesal mungkin.”
Sangkot lagi-lagi tertawa, menyebut penyesalan seperti ini, diam-diam maupun terang-terangan, sudah makin masif mengemuka. Selain hasil survei yang menunjukkan penurunan aproval rating presiden yang turun ke angka 51 persen [dan 46 persen responden menyatakan kurang atau tidak puas terhadap kinerja presiden], berbagai macam meme dan video bertendensi olok-olok, sedikit banyak menggambarkan situasinya.
“Khusus perkara pidato-pidato, tau kelen, sekarang malah udah banyak aja yang mempelesetkan PTSD.”
“PTSD?”
“PTSD, Post-Traumatic Stress Disorder. Semacam penyakit kejiwaan. Gangguan mental, stres pascatrauma karena pernah ngalami ato jadi saksi kejadian mengerikan yang mengancam nyawa. Nah! Sekarang kepanjangan PTSD diganti jadi President Traumatic Speech Disorder.”
“Berarti trauma dengar pidato presiden, Kot?”
“Iya, kek kawan Ane Selwa tadi. Sampek kejang-kejang dia kerna teganggu kesehatan jiwanya.”
“Jadi cemana, lah, itu solusinya, ya?” tanya Jek Buntal.
Leman Dogol menyeletuk. “Kalok tak silap dulu Ocik Nensi pernah bilang, supaya Bapak tu jangan dikasih mikropon lagi. Jadi kalok dia mo pidato, sembunyikan mic-nya.”
“Bisa gitu?”
“Dibisa-bisakan, lah,” potong Sangkot. “Kan, sebenarnya udah pas jugak memang sama pemikiran dia. Prabowonomic. Iya, kan? Prabowo-no-mic.”
Sangkot tawa berderai. Selwa Kumar, Leman Dogol, Ucok Morning, dan Jek Buntal juga tertawa. Ocik Nensi yang sedari tadi tekun mendengarkan akhirnya angkat bicara juga.
“O, kalok sekarang udah gak bisa lagi, Kot. Sekarang ke mana-mana udah bawa mic sendiri keknya dia. Kek Prinses Syahrini.”
“Oh, gitu, ya, Cik. Tak sampek ke situ pulak tadi nalar awak.”
“Yoi! Tapi, di luar soal mic, memang nampak, lah, kau yang satu kuliahan sama Pak Jokowi ini, Kot. Mantap kali cakapmu sekarang. Gak beserak kek dulu lagi. Udah dengar-dengar jaz jugak, lah, kau sekarang, ya?”
“Jaz?”
“Ya, Indra Lesmana! Ato minimal Fariz RM, lah.”
Sangkot tergelak sembari mengibaskan tangan. “Apa, lah, Ocik, ni. Gak ada hubungannya itu. Tetap dangdut kita,” serunya di sela tawa.
“Tetap Mansyur, Kot?” timpal Selwa.
“Tetap Mansyur!”
Tawa pun berderai-derai di Kedai Tok Awang. Leman Dogol mengambil gitar lalu merambaskan kocokan senar yang khas, dan lagu itu, segera merayap, melayang-layang, seperti terdengar sepanjang tahun.
Barulah sekarang aku menyadari
cintamu padaku, oh, sekulit ariii....
(t agus khaidir)