Tokyo (ANTARA) - Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menyatakan bahwa pihaknya dan Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah melakukan intervensi bersama untuk menjaga nilai tukar yen dengan membeli mata uang Jepang tersebut di pasar valuta asing pada Jumat (31/7).

Langkah tersebut diambil untuk pertama kalinya dalam 15 tahun terakhir. Kedua negara pun menyatakan siap untuk kembali bekerja sama dalam hal ini jika diperlukan.

"Langkah bersama ini diambil berdasarkan Pernyataan Bersama Menteri Keuangan AS-Jepang yang diterbitkan pada September 2025 serta untuk menangkal volatilitas ekstrem dan ketidaknormalan pergerakan mata uang yen dalam beberapa bulan terakhir," kata Katayama dalam pernyataannya pada Senin.

"Kementerian Keuangan Jepang tetap waspada dan terus menjalin komunikasi erat dengan Departemen Keuangan AS. Kami tidak akan ragu untuk melakukan intervensi gabungan lebih lanjut," lanjutnya.

Langkah intervensi yang dilakukan selama sesi perdagangan di New York pada Jumat tersebut diambil setelah yen anjlok ke level 163,99 per dolar AS pada 23 Juli lalu, yang merupakan level terlemahnya dalam lebih dari 39 tahun terakhir.

Presiden AS Donald Trump pada Minggu (2/8) mengisyaratkan bahwa Pemerintah AS telah melakukan intervensi pembelian yen atas permintaan pemerintahan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi.

Ia mengatakan kepada wartawan bahwa tindakan tersebut akan memberikan keuntungan ekonomi bagi negaranya.

Kedua negara sebelumnya juga pernah mengimplementasikan langkah serupa untuk menahan lonjakan nilai tukar yen pascabencana gempa bumi dan tsunami dahsyat yang melanda wilayah timur laut Jepang pada Maret 2011.

Dalam sesi perdagangan di New York pada Jumat, nilai tukar yen menguat ke kisaran bawah level 157 terhadap dolar AS, dengan sejumlah narasumber dari kalangan pemerintahan Jepang mengonfirmasi adanya aksi pembelian yen dan penjualan dolar AS oleh otoritas moneter.

Langkah tersebut diambil setelah kurs yen sempat menguat hampir 5 poin dalam waktu sekitar 50 menit ke kisaran 157 per dolar AS pada Kamis (30/7), sebelum akhirnya kembali turun ke level 160.

Penguatan tersebut merupakan hasil dari upaya intervensi valas oleh Jepang yang belakangan dikonfirmasi oleh narasumber dari kalangan pelaku pasar maupun pemerintah.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Kamis menyatakan bahwa yen "sepertinya dinilai terlalu rendah".

Reuters melaporkan bahwa sebuah foto yang diambil saat rapat kabinet Trump pada Jumat memperlihatkan daftar tugas di meja Bessent, yang mengindikasikan rencana pembelian yen oleh AS senilai 5 miliar hingga 10 miliar dolar AS (Rp90,37 triliun hingga Rp180,74 triliun, dengan kurs Rp18.074 per Senin pagi).

Sumber: Kyodo