Belum Ada Krisis Air Bersih di Kota Gorontalo, BPBD Gencar Sosialisasi ke Kelurahan
Fadri Kidjab August 03, 2026 08:46 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Musim kemarau yang mulai terasa di Provinsi Gorontalo mendorong pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan krisis air bersih.

Meski sejumlah kabupaten telah merasakan dampak cukup serius, kondisi di Kota Gorontalo hingga saat ini dipastikan masih aman.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Gorontalo mengonfirmasi belum menerima laporan terkait wilayah yang mengalami kekeringan maupun krisis air bersih.

Kendati demikian, langkah antisipasi telah dilakukan sejak dini agar masyarakat lebih siap menghadapi kemungkinan terburuk jika musim kemarau berlangsung lebih panjang.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kota Gorontalo, Darwin Bagou, menyampaikan bahwa pihaknya terus melakukan upaya pencegahan melalui pemerintah kelurahan.

"Alhamdulillah, sampai sekarang belum ada (laporan kekeringan). Namun, saat ini kami terus melakukan sosialisasi melalui kelurahan sebagai langkah antisipasi sesuai Edaran Wali Kota," kata Darwin Bagou kepada TribunGorontalo.com, Senin (3/8/2026).

Menurutnya, sosialisasi ini bertujuan sebagai langkah preventif agar masyarakat mulai menghemat penggunaan air bersih serta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kemarau yang masih melanda wilayah Gorontalo.

Darwin menjelaskan bahwa BPBD Kota Gorontalo terus memantau perkembangan cuaca dan ketersediaan sumber air di setiap kelurahan. Koordinasi intensif juga dilakukan bersama pemerintah kecamatan dan kelurahan jika sewaktu-waktu ditemukan daerah yang mulai kesulitan memperoleh air bersih.

Kondisi sebaliknya justru terjadi di sejumlah kabupaten di Provinsi Gorontalo.

Data BPBD Provinsi Gorontalo menunjukkan bahwa kekeringan telah berdampak pada ribuan warga di Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Gorontalo, dan Kabupaten Gorontalo Utara.

Baca juga: BREAKING NEWS: Eks Pj Gubernur Gorontalo Hamka Hendra Noer Jadi Tersangka Kasus Command Center

GORONTALO KEKERINGAN -- Sebuah potret petani sawah di Gorontalo. Sebagai informasi, sejak Juli 2026 Gorontalo masuk musim kemarau hingga belasan ribu jiwa terdampak.
MUSIM KEMARAU -- Sebuah potret petani sawah di Gorontalo. Sejak Juli 2026, Provinsi Gorontalo masuk musim kemarau. (TribunGorontalo.com)

Hingga akhir Juli 2026, sebanyak 4.232 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 13.735 jiwa tercatat terdampak kekeringan. 

Situasi tersebut memaksa pemerintah mengerahkan bantuan air bersih ke daerah-daerah krisis.

Selama penanganan berlangsung, sebanyak 173.250 liter air bersih telah disalurkan kepada masyarakat terdampak melalui operasi gabungan lintas instansi.

Distribusi air bersih dilakukan secara kolaboratif oleh BPBD Provinsi Gorontalo bersama BPBD kabupaten/kota, Palang Merah Indonesia (PMI), PDAM, Dinas Sosial, Balai Wilayah Sungai (BWS), Kepolisian, serta Taruna Siaga Bencana (Tagana).

Penyaluran bantuan tersebut mengandalkan armada mobil tangki dan kendaraan pikap yang dilengkapi tandon air agar kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi.

Sebaran Wilayah Terdampak Kekeringan
Kabupaten Bone Bolango menjadi salah satu daerah dengan cakupan dampak cukup luas. Kekeringan melanda beberapa kecamatan, seperti Bone Pantai, Bulango Timur, Tilongkabila, Suwawa Tengah, dan Suwawa Selatan.

Desa-desa yang mengalami krisis air bersih meliputi Desa Batu Hijau, Tongo, Pelita Hijau, Uwabanga, Bulotalangi Timur, Butu, Tamboo, Lonuo, Duano, Libungo, Pancuran, hingga Molingkapoto.

Sementara di Kabupaten Gorontalo, penyuplaian air bersih menyasar Kecamatan Boliyohuto, Tibawa, Pulubala, dan Bongomeme, khususnya di Desa Iloheluma, Parungi, Dulohupa, Motoduto, Mootilango, Bakti, Bukit Aren, Molalahu, Batulayar, dan Liyoto.

Bahkan, BPBD Kabupaten Gorontalo telah mengajukan permohonan bantuan tambahan armada ke BPBD Provinsi Gorontalo seiring meningkatnya permintaan dari pemerintah desa.

Adapun di Kabupaten Gorontalo Utara, bantuan difokuskan ke Kecamatan Tomilito—tepatnya di Desa Molantadu dan Desa Bulango Raya—yang mengalami penurunan debit sumber air secara drastis.

Dalam operasi penyaluran tersebut, BPBD Provinsi Gorontalo mengerahkan dua unit mobil tandon berkapasitas masing-masing 2.200 liter, dibantu armada dari instansi gabungan lainnya.

Antisipasi dan Imbauan untuk Warga Kota
Selain mendistribusikan air bersih, pemerintah daerah terus mendata kawasan yang mulai menunjukkan gejala kekeringan sebagai acuan penetapan prioritas penanganan. Kabupaten Gorontalo sendiri telah menetapkan status Siaga Darurat Kekeringan.

Di tengah situasi ini, BPBD Kota Gorontalo memilih memperkuat langkah pencegahan agar krisis serupa tidak meluas ke wilayah ibu kota provinsi.

Melalui Surat Edaran Wali Kota Gorontalo, masyarakat diimbau untuk:

Menggunakan air bersih secara bijak dan tidak boros.
Segera melaporkan ke pemerintah kelurahan setempat apabila mulai kesulitan memperoleh air bersih.
Belum adanya laporan kekeringan di Kota Gorontalo menjadi kabar baik di tengah meluasnya kemarau. Kendati demikian, pemerintah mengingatkan masyarakat agar tidak lengah mengingat potensi kekeringan masih ada jika curah hujan terus rendah dalam beberapa pekan ke depan.

Melalui mitigasi sejak dini, Pemkot Gorontalo berharap ketersediaan air bersih bagi warga tetap terjaga sekaligus meminimalkan risiko dampak kemarau panjang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.