Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Haliyudin Ulima
BULA, TRIBUNAMBON.COM – Dinas Kehutanan Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) menduga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah Bula lebih banyak dipicu oleh aktivitas manusia dibandingkan faktor alam.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas Kehutanan Kabupaten SBT, Musa Rumakat, mengatakan hasil pengawasan di lapangan menunjukkan sebagian besar titik api muncul di lokasi yang memiliki akses jalan.
Menurutnya, kondisi tersebut mengindikasikan adanya aktivitas manusia sebelum kebakaran meluas.
"Dari hasil pengawasan, kalau kita melihat kondisi yang ada ini, bukan saja faktor alam. Ada faktor manusia juga di dalamnya," ujarnya, Senin (3/8/2026).
Ia menjelaskan, titik awal kebakaran umumnya berada di lokasi yang dapat dijangkau kendaraan maupun masyarakat.
Api kemudian dengan cepat merambat ke kawasan semak belukar yang kering sehingga luas kebakaran terus bertambah.
"Api itu terbakar di area yang memang akses manusia ada. Mobil bisa lewat dan orang bisa masuk. Di situlah mulainya api muncul. Di situ ada semak belukar yang memang mudah terbakar. Itu yang menjadi penyebab kebakarannya bertambah luas," jelasnya.
Baca juga: Pemprov Maluku Genjot Hilirisasi Ubi Kayu di Bursel, Sekda : Lahan Harus Clear and Clean
Baca juga: Wali Kota Ambon Pastikan Program Transmigrasi Lokal : Pertimbangkan Kesiapan Masyarakat
Menurut Musa, pengaruh faktor alam hanya mempercepat penyebaran api, sedangkan pemicu awal lebih banyak berasal dari aktivitas manusia.
"Kalau faktor alam pengaruhnya sangat kecil. Faktor manusia lebih banyak karena ada unsur kesengajaan ataupun kelalaian," tegasnya.
Di sisi lain, Dinas Kehutanan SBT mengaku menghadapi berbagai keterbatasan dalam menangani karhutla yang telah menghanguskan sekitar 280 hektare lahan di wilayah Bula.
Musa mengatakan pihaknya hanya memiliki delapan personel untuk menangani kebakaran di wilayah yang cukup luas.
"Jumlah personel kami di sini hanya sekitar delapan orang. Jadi kemampuan kami untuk mengatasi seluruh wilayah Bula memang terbatas," bebernya.
Selain kekurangan personel, minimnya dukungan anggaran operasional juga menjadi kendala dalam penanganan kebakaran.
"Kami juga tidak didukung dengan jumlah anggaran. Ini yang menjadi kendala kami saat ini," katanya.
Meski demikian, pihaknya tetap berupaya merespons setiap laporan kebakaran yang disampaikan masyarakat melalui Call Center 112.
Ia menjelaskan, petugas akan memprioritaskan pemadaman di lokasi yang mengancam permukiman warga, sementara kebakaran di kawasan hutan yang jauh kerap terkendala akses.
"Kalau sudah dekat permukiman tentu kami langsung bergerak. Tetapi kalau di kawasan hutan yang jauh, aksesnya sulit sehingga tidak semuanya bisa kami jangkau," lanjutnya.
Dirinya berharap masyarakat tidak lagi menggunakan api saat membuka lahan maupun melakukan aktivitas lain yang dapat memicu kebakaran agar jumlah titik api di Kecamatan Bula dapat ditekan selama musim kemarau.(*)