Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Novanda Halirat
AMBON, TRIBUNAMBON.COM- Pemerintah Kota Ambon telah melakukan pemetaan wilayah yang rentan mengalami kekeringan akibat dampak El Nino.
Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, menegaskan pemetaan tersebut telah dilakukan sejak sebelum potensi kekeringan terjadi, dengan fokus utama pada wilayah perbukitan yang selama ini rawan kekurangan air.
Baca juga: Kejati Tahan 5 Tersangka Korupsi Haruku, 4 Masuk Lapas Perempuan Ambon
Baca juga: Tarif Pesawat, Kesehatan, hingga Kelompok Makan Dongkrak Inflasi Maluku Juli 2026 Capai 2,75 Persen
Kawasan yang menjadi perhatian antara lain Farmasi Atas, Gunung Nona, Wara, Lorong Putri, Kampung Tomia, dan kawasan Bentas.
"Kita sudah petakan dari sebelum El Nino untuk wilayah yang terjadi ancaman kekeringan dan debit air," katanya usai menghadiri peletakan batu pertama Kantor BPD Gereja Bethel Indonesia di Passo, Senin (3/8/2026).
Ia menjelaskan, daerah dataran rendah relatif masih memiliki akses air bersih, meskipun tetap perlu penataan ulang. Sementara itu, wilayah ketinggian dinilai lebih rentan karena keterbatasan sumber air.
Wali Kota juga mengungkapkan bahwa debit air tanah saat ini mulai berkurang, dan kondisi tersebut berpotensi memburuk seiring cuaca panas ekstrem.
"Rata-rata di daerah ketinggian itu rentan kekeringan, kalau di dataran ada sumur, tapi memang debit air tanah sudah berkurang," tambahnya.
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Pemerintah Kota Ambon menyatakan kesiapsiagaan menghadapi musim El Nino, dengan fokus utama pada penyaluran air bersih kepada masyarakat.
"Cara kita dan solusinya akan salurkan air bersih kepada masyarakat," tegasnya.
Selain itu, dinas terkait juga disiagakan untuk memberikan layanan cepat dan tepat dalam penanganan dampak kekeringan.
Diketahui, El Nino dan La Nina merupakan fenomena iklim alami di Samudra Pasifik yang saling berlawanan. El Nino menyebabkan peningkatan suhu air laut yang memicu kekeringan, kekurangan air bersih, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan. Sebaliknya, La Nina ditandai dengan penurunan suhu air laut yang memicu curah hujan tinggi.
Fenomena cuaca ekstrem ini kerap terjadi di Indonesia, termasuk di Kota Ambon, Maluku. (*)