Sosok Asnawi 16 Tahun Menjaga Benteng Toboali, Merawat Sejarah dengan Sapu Lidi dan Keteguhan Hati
M Zulkodri August 03, 2026 09:03 PM

 

BANGKAPOS.COM--Waktu baru menunjukkan pukul 07.30 WIB. Embun masih menggantung di ujung rerumputan ketika suara sapu lidi perlahan memecah kesunyian pagi di kawasan Benteng Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung.

Daun-daun ketapang yang berguguran dikumpulkan ke satu sudut halaman.

Rumput liar dipangkas. Lumut yang menempel di sela-sela bata tua dibersihkan.

Di tengah kompleks bangunan bersejarah yang berdiri di atas bukit itu, seorang pria bertopi lusuh berjalan perlahan menyusuri setiap sudut benteng.

Tangannya menggenggam sapu lidi.

Sesekali langkahnya terhenti. Matanya mengamati dinding-dinding bata tua yang mulai diselimuti lumut.

Ia memastikan tidak ada bagian kawasan yang luput dari perhatiannya.

Pria itu adalah Asnawi.

Selama hampir 16 tahun, pria asli Toboali tersebut mengabdikan hidupnya sebagai Juru Pelihara Cagar Budaya di bawah Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V.

Tugasnya sederhana jika dilihat sekilas.

Menyapu.

Membersihkan rumput.

Memangkas tanaman liar.

Merawat bangunan.

Menjaga lingkungan.

Sesekali, ia juga menjadi pemandu bagi wisatawan yang datang.

Namun, pekerjaan yang terlihat sederhana itu sesungguhnya menyimpan tanggung jawab besar.

Di tangannya, ada sebuah warisan sejarah yang usianya telah mencapai ratusan tahun.

Benteng Toboali bukan sekadar bangunan tua.

Ia adalah bagian dari perjalanan panjang Toboali dan Bangka Selatan.

Karena itu, setiap pagi Asnawi datang untuk memastikan sejarah tersebut tidak perlahan hilang dimakan waktu.

"Tugas saya sebenarnya sederhana, membersihkan, merawat, dan menjaga. Tapi kalau tidak ada yang melakukan itu setiap hari, bangunan bersejarah ini lama-lama akan rusak dan ditinggalkan," kata Asnawi kepada Bangkapos, Senin (3/8/2026).

Baca juga: Wanita Tewas dengan Senjata Api di Rumah Mewah Medan, Ternyata Mantan Istri Anggota Polisi

Datang Saat Orang Lain Masih Terlelap

Asnawi Juru Pelihara Cagar Budaya Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V. Selama hampir 16 tahun merawat dan menjaga benteng peninggalan Belanda yang dibangun pada 1825 agar tetap lestari dan terhindar dari vandalisme, Senin (3/8/2026).
Asnawi Juru Pelihara Cagar Budaya Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V. Selama hampir 16 tahun merawat dan menjaga benteng peninggalan Belanda yang dibangun pada 1825 agar tetap lestari dan terhindar dari vandalisme, Senin (3/8/2026). (Bangkapos.com/Erlangga/Erlangga)

Rutinitas Asnawi hampir tidak pernah berubah.

Saat sebagian orang masih menikmati pagi di rumah masing-masing, ia sudah berada di kawasan benteng.

Ia datang sebelum kawasan wisata dibuka.

Bersama tiga orang rekannya, dua tenaga honorer Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan dan seorang pegawai PNS BPK, Asnawi berbagi tugas untuk memastikan kawasan cagar budaya tersebut tetap terawat.

Namun, Asnawi memiliki cara sendiri untuk menjaga seluruh area benteng.

Ia tidak membersihkan semuanya sekaligus.

Hari pertama, ia membersihkan halaman tengah.

Hari berikutnya, ia berpindah ke sisi barat.

Kemudian bagian utara, timur, selatan, hingga kawasan di luar benteng.

Siklus tersebut terus berulang.

Dalam satu bulan, seluruh kawasan harus sudah mendapatkan perawatan.

"Kalau saya, satu bulan itu seluruh kawasan harus selesai dibersihkan. Hari ini halaman tengah, besok bagian barat, kemudian utara, timur sampai selatan. Jadi semuanya terawat," ujarnya.

Baginya, merawat benteng adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai.

Rumput akan kembali tumbuh.

Daun akan kembali berguguran.

Lumut akan kembali menempel di dinding.

Tanaman liar akan kembali muncul.

Karena itulah, menurut Asnawi, perawatan harus dilakukan sedikit demi sedikit setiap hari.

Tidak boleh menunggu kawasan terlihat kotor terlebih dahulu.

Baca juga: Misteri Kematian Satpam PJT II di Waduk Jatiluhur, Warga Dengarkan Keributan & Jeritan Minta Tolong

Bukan Sekadar Menyapu

Asnawi Juru Pelihara Cagar Budaya Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V. Selama hampir 16 tahun merawat dan menjaga benteng peninggalan Belanda yang dibangun pada 1825 agar tetap lestari dan terhindar dari vandalisme, Senin (3/8/2026).
Asnawi Juru Pelihara Cagar Budaya Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V. Selama hampir 16 tahun merawat dan menjaga benteng peninggalan Belanda yang dibangun pada 1825 agar tetap lestari dan terhindar dari vandalisme, Senin (3/8/2026). (Bangkapos.com/Erlangga/Erlangga)

Menjadi juru pelihara cagar budaya ternyata bukan hanya tentang membersihkan halaman.

Asnawi juga harus menjaga benteng dari berbagai ancaman.

Salah satunya adalah aktivitas penggalian liar.

Ketika Bangkapos berbincang dengannya, dua orang pria terlihat memasuki kawasan benteng.

Mereka membawa detektor logam dan cangkul.

Salah seorang berjalan menyusuri kawasan sambil mengoperasikan alat pendeteksi logam. Sementara rekannya sesekali menggali tanah di sekitar reruntuhan bangunan.

Beberapa titik bahkan tampak memiliki lubang bekas galian.

Asnawi pun langsung menghampiri mereka.

"Cari apa, Bang?" tanyanya.

Keduanya diketahui tengah mencari benda-benda yang diyakini masih tertimbun di sekitar kawasan benteng, seperti besi tua atau koin kuno peninggalan zaman Belanda.

Bagi Asnawi, aktivitas semacam itu bukan perkara sepele.

Penggalian liar dapat merusak struktur kawasan cagar budaya.

"Mereka berharap menemukan koin kuno atau besi peninggalan Belanda. Kadang tanah digali, padahal itu bisa merusak kawasan benteng," ujarnya.

Karena itu, Asnawi tidak ragu menegur orang-orang yang dianggap melakukan tindakan yang berpotensi merusak kawasan.

Risikonya tidak selalu ringan.

Ia bahkan pernah mendapat respons keras saat menegur seseorang yang datang ke kawasan benteng dengan membawa parang di pinggang.

"Pernah saya menegur orang yang masuk membawa parang di pinggang. Dia marah karena merasa terganggu. Tapi memang tugas saya menjaga tempat ini," katanya.

Ancaman lain juga datang dari aksi vandalisme.

Asnawi masih menemukan pengunjung yang mencoret-coret dinding benteng menggunakan batu maupun merusak fasilitas.

Jumlahnya memang telah berkurang dibandingkan beberapa tahun lalu.

Namun, menurutnya, ancaman tersebut tetap harus diwaspadai.

Sebab, bangunan cagar budaya tidak bisa diperlakukan seperti rumah biasa.

Setiap kerusakan membutuhkan penanganan khusus melalui metode konservasi agar nilai sejarah yang terkandung di dalamnya tidak hilang.

Baca juga: Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 Bisa DIlihat Puluhan Negara, Indonesia Tidak, Ini Alasannya

Dari Penjaga Menjadi Pemandu Sejarah

Ketika wisatawan datang, peran Asnawi berubah.

Ia tidak lagi sekadar menjadi penjaga.

Ia menjadi pemandu sejarah.

Dengan sabar, Asnawi menjelaskan berbagai hal tentang Benteng Toboali kepada para pengunjung.

Ia menceritakan fungsi ruangan, sejarah pembangunan benteng, hingga perubahan fungsi bangunan tersebut dari masa ke masa.

Tidak sedikit wisatawan yang terkejut melihat benteng tua itu masih mampu bertahan hingga sekarang.

Pengunjung yang datang pun tidak hanya berasal dari Bangka Belitung.

Wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia pernah berkunjung.

Bahkan, wisatawan dari luar negeri seperti Belanda, Amerika Serikat, Maroko, India hingga Pakistan juga pernah datang untuk melihat langsung bangunan bersejarah tersebut.

"Banyak yang heran bagaimana bangunan hampir 200 tahun masih bisa berdiri sampai sekarang," katanya.

Bagi Asnawi, rasa kagum para wisatawan menjadi pengingat bahwa apa yang ia rawat setiap hari memiliki nilai yang jauh lebih besar dari sekadar bangunan tua.

Bertahan dengan Gaji Rp1 Juta

Asnawi Juru Pelihara Cagar Budaya Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V. Selama hampir 16 tahun merawat dan menjaga benteng peninggalan Belanda yang dibangun pada 1825 agar tetap lestari dan terhindar dari vandalisme, Senin (3/8/2026).
Asnawi Juru Pelihara Cagar Budaya Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V. Selama hampir 16 tahun merawat dan menjaga benteng peninggalan Belanda yang dibangun pada 1825 agar tetap lestari dan terhindar dari vandalisme, Senin (3/8/2026). (Bangkapos.com/Erlangga/Erlangga)

Di balik pengabdiannya selama bertahun-tahun, perjalanan hidup Asnawi tidak selalu mudah.

Selama sekitar 15 tahun, ia menjalani pekerjaan sebagai tenaga honorer dengan penghasilan sekitar Rp1 juta per bulan.

Jumlah tersebut tentu tidak mudah untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Terlebih, Asnawi memiliki dua anak.

Untuk menambah penghasilan, ia mencoba berkebun lada di luar jam kerja.

Sementara istrinya membantu ekonomi keluarga dengan membuka warung makan sederhana.

Namun, pandemi Covid-19 akhirnya membuat usaha tersebut harus berhenti.

Di tengah keterbatasan ekonomi, Asnawi tetap bertahan.

Ia tidak meninggalkan pekerjaannya.

Tidak pula berhenti merawat Benteng Toboali.

Baginya, pekerjaan tersebut bukan sekadar mencari penghasilan.

Ada amanah yang harus dijalankan.

"Yang penting tempat ini tetap bersih dan terawat. Itu yang selalu saya pegang, yakin aja dengan apa yang saya lakukan daripada tidak ada kerjaan mending mengabdi seperti ini," tuturnya.

Penantian 15 Tahun Berbuah Manis

Setelah bertahun-tahun menjadi tenaga honorer, sebuah kabar baik akhirnya datang.

Pada Oktober 2025, Asnawi resmi diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkungan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V.

Penantian panjangnya selama sekitar 15 tahun akhirnya terbayar.

Penghasilannya pun meningkat sekitar dua kali lipat dibandingkan saat masih berstatus honorer.

Namun, perubahan status kepegawaian itu tidak mengubah kebiasaan Asnawi.

Ia tetap datang pagi.

Tetap memegang sapu lidi.

Tetap memangkas rumput.

Tetap membersihkan lumut.

Tetap menegur orang yang berpotensi merusak situs.

Dan tetap menyambut wisatawan yang datang.

"Alhamdulillah sekarang sudah lebih tenang. Dulu gaji sekitar satu juta, sekarang setelah diangkat PPPK memang lebih baik. Tapi prinsip saya tidak berubah. Hak dari negara sudah diberikan, jadi kewajiban saya menjaga benteng ini sebaik mungkin," katanya.

Menjaga Identitas Toboali

Benteng Toboali memiliki sejarah panjang.

Bangunan tersebut didirikan pemerintah kolonial Belanda pada 1825.

Pada masa itu, benteng memiliki fungsi strategis sebagai pusat pertahanan sekaligus tempat penyimpanan hasil tambang timah dari Bangka.

Bangunan utama benteng memiliki ukuran sekitar 54 x 34 meter dengan luas sekitar 1.836 meter persegi.

Di dalamnya terdapat tujuh ruangan dengan fungsi yang berbeda.

Mulai dari pos jaga, rumah inspektur, gudang penyimpanan, barak prajurit, ruang mesiu, ruang pengawas hingga dapur.

Bangunan tersebut menggunakan berbagai material, seperti bata merah, batu alam, kayu keras, genteng tanah liat dan keramik berukuran besar yang sebagian masih bertahan hingga kini.

Benteng berdiri di atas bukit dengan ketinggian sekitar 18 meter di atas permukaan laut.

Lokasinya yang strategis membuat benteng memiliki fungsi penting dalam pengawasan jalur pelayaran di Selat Bangka.

Dari atas benteng, kapal-kapal yang melintas di jalur tersebut dapat dipantau.

"Benteng ini langsung menghadap laut. Belum ada pepohonan seperti sekarang. Dari sini kapal-kapal yang melintas bisa terlihat jelas," kata Asnawi.

Seiring perjalanan waktu, fungsi Benteng Toboali mengalami perubahan.

Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942 hingga 1945, kawasan tersebut berada di bawah penguasaan tentara Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, bangunan tersebut kemudian beralih fungsi menjadi Kantor Kepolisian Sektor Toboali sejak 1950 hingga sekitar 1980.

Pada 2019, kawasan tersebut ditetapkan sebagai situs cagar budaya.

Pengelolaannya berada di bawah Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan dengan pengawasan Balai Pelestarian Kebudayaan.

Ketika Sejarah Menjadi Bagian dari Hidup

Setiap pagi, sebelum memulai pekerjaan, Asnawi selalu mengawali aktivitasnya dengan penghormatan terhadap tempat yang dijaganya.

Bukan karena ia percaya pada cerita mistis yang berkembang di sekitar bangunan tua.

Baginya, itu adalah bentuk penghormatan terhadap sejarah.

Sebab, selama hampir 16 tahun, Asnawi tidak hanya membersihkan Benteng Toboali.

Ia telah menjadi bagian dari perjalanan panjang bangunan tersebut.

Ia melihat bagaimana rumput tumbuh dan kembali dipangkas.

Melihat lumut datang dan dibersihkan.

Melihat wisatawan berdatangan.

Melihat orang-orang yang kagum pada bangunan tua tersebut.

Namun ia juga melihat bagaimana situs bersejarah itu masih harus dijaga dari tangan-tangan yang ingin mengambil sesuatu dari dalam tanah atau merusak dindingnya.

Bagi Asnawi, semua itu adalah bagian dari tugas.

Sapu lidi yang setiap pagi digenggamnya mungkin terlihat sederhana.

Namun dari gerakan sederhana itulah, ia ikut menjaga sebuah sejarah agar tidak hilang.

Ia mungkin bukan orang yang namanya tercatat dalam buku-buku sejarah.

Namun, selama hampir 16 tahun, Asnawi telah memilih untuk berdiri di antara masa lalu dan masa depan.

Ia merawat bangunan yang dibangun lebih dari dua abad lalu agar tetap dapat dilihat oleh generasi yang akan datang.

Benteng Toboali, baginya, bukan sekadar tumpukan bata merah yang menua dimakan waktu.

Benteng itu adalah identitas Toboali.

Dan selama Asnawi masih mampu menggenggam sapu lidinya, ia akan terus menjaga agar identitas itu tetap hidup.

(Bangkapos.com/Erlangga)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.