Kisah Buchari Pengusaha Bendi di Minahasa, Dulu Berkembang, Kini Bertahan Hanya untuk Pelestarian
Frandi Piring August 03, 2026 10:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - MINAHASA - Bendi sempat menjadi transportasi primadona di Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara.

Khusus di Tondano, dulu ada sekitar 800 bendi yang beroperasi.

Itu diceritakan oleh Muhammad Buchari, pengusaha bendi di Kampung Jawa, Tondano Timur.

"Memang dulu banyak sekali bendi di Tondano," katanya saat ditemui wartawan Tribun Manado, Alpen Martinus di kediamannya, Senin (3/8/2026) siang.

Buchari pun mulai bergelut di dunia bendi tahun 1973.

"Waktu itu kami beli kuda dan bendi di Bitung masih Rp70 ribu," ujarnya.

Pengusaha Bendi di Tondano, Minahasa, Sulut, Muhammad Buchari 1
MINAHASA - Pengusaha Bendi di Tondano, Minahasa, Sulut, Muhammad Buchari saat ditemui wartawan Tribun Manado, Alpen Martinus

Bendi tersebut kemudian dipakainya untik mengantar penumpang.

"Dulu sering dicarter, dari Tondano ke Remboken itu Rp 2000, itu banyak sekali kalau uang dulu, nah saya tertarik di situ, karena gampang cari uang," ucap Buchari.

Sempat terhenti lantaran bendinya dibeli orang.

Namun kemudian ia kembali menekuni usaha bendi di Tondano.

Tak hanya usaha bendi, ia pun terjun ke usaha jual beli kuda.

"Saya cari kuda itu sampai ke Ujung Pandang, Bantaeng, pernah sampai Bulukumba, Sinjay, Bone, Pinrang, Pare-pare, Sopeng, Sidrap, dan Polewali Mandar. Bahkan sempat keluar dua bulan," katanya.

Selain juga untuk dijual kembali, saat itu ada lima kuda yang digunakan untuk bendi.

"Saya pakai joki untuk bawa bendi, dulu mereka setor setiap hari itu Rp60-90 ribu," kata Buchari.

Ia juga sempat mengalami perubahan pada bendi, mulai dari roda hingga bentuk bendi.

"Dulu bendi itu pakai roda kayu, kemudian berubah mengunakan ban. Juga bendi itu hanya benggunakan sedikit tiang, kemudian berubah menjadi seperti sekarang gunakan sekitar 12 tiang," kata dia.

Namun pada tahun 2000 pengguna bendi mulai berkurang, akibatnya jumlah bendi pun berkurang, lantaran munculnya alat transportasi lain.

Selain itu, berkurangnya juga pembuat sepatu kuda, bendi, dan makanan untuk kuda.

"Dulu itu hasil bendi bisa pakai belanja banyak, itupun ada sisa uang masih banyak," ujar Buchari.

Usaha bendi sempat membuatnya berhasil membangun rumah, sekolahkan anak, bahkan beli tanah.

Sekarang ia tinggal memiliki dua kuda untuk bendi. Juga saat ini hanya beroperasi di sekitaran Tondano saja dengan tarif Rp5000 rupiah per orang.

Satu bendi bisa memuat sampai 4 orang.

"Kalau sekarang joki setor tidak terlalu banyak juga," kata pria yang sering disapa Utu Kari ini.

Tak untuk menjadi kaya, ia bertahan berusaha bendi saat ini hanya untuk mempertahankan budaya Minahasa saja.

Kudanya sering disewa dari dinas untuk digunakan pada acara tertentu.

"Tujuan saya masih bertahan, supaya nendi masih bisa lestari. Harapan saya Pemerintah usahakan agar bendi bisa bertahan, karena itu penunjang pariwisata," katanya.

Ia tetap akan mempertahankan bendi, meski pendapatannya sudah berkurang jauh.

Selain bendi, Muhammad Buchari juga bisnis jual beli kuda.

Ia membeli kuda dan melatihnya agar bisa dijadikan kuda bendi, lalu dijual lagi.

"Melatih kuda itu harus butuh ketenangan," jelasnya.

Dulu kudanya berjumlah sekitar 40 ekor dibeli orang.

"Kuda saya diberi cap SE, bukan sarjana ekonomi, tapi sosial ekonomi," katanya.

Sekarang kebanyakan ia mejual kuda ke Makassar. (amg)

Baca juga: Galeri Tolour Waya Jual dan Sewakan Pakaian Kawasaran Minahasa, Penjualan Tembus Luar Negeri

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.