TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado – Akademisi Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Manado, Dwars Soukotta, menilai penanganan sistem drainase di ruas Jalan Manado-Tomohon memang penting untuk mencegah kerusakan jalan.
Namun menurutnya, kualitas pengaspalan dan pengawasan pekerjaan di lapangan juga harus menjadi perhatian utama agar jalan memiliki umur layanan yang panjang.
Hal itu disampaikan Dwars menanggapi langkah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Manado yang memastikan akan segera menangani saluran drainase.
Hal tersebut menyebabkan kerusakan Jalan Raya Manado-Tomohon di Desa Winangun Atas, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.
Kerusakan jalan tersebut diduga dipicu tersumbatnya saluran air setelah pekerjaan pembangunan jaringan pipa air milik PDAM Wanua Wenang Manado yang dikerjakan Dinas PUPR Kota Manado.
Meski demikian, ia menegaskan persoalan ketahanan jalan tidak hanya ditentukan oleh drainase.
Menurutnya, proses pengaspalan harus diawasi secara ketat oleh tenaga yang benar-benar memiliki kompetensi di bidang teknik sipil, khususnya spesialis jalan dan jembatan.
“Butuh pengawasan yang ekstra. Pengawas jangan hanya di balik meja, tetapi harus turun langsung ke lapangan untuk mengecek mutu pekerjaan jalan,” ujarnya.
Dwars menjelaskan kerusakan jalan umumnya berawal dari lapisan permukaan atau Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC).
Lapisan tersebut berfungsi melindungi struktur jalan agar kedap air sehingga air tidak meresap ke lapisan pondasi di bawahnya.
“Kalau air sudah masuk ke lapisan bawah, maka pondasi akan rusak dan akhirnya lapisan aspal bagian atas ikut terkelupas,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan spesifikasi lapisan AC-WC harus disesuaikan dengan beban kendaraan yang melintasi ruas jalan.
Menurutnya, jalan yang setiap hari dilalui kendaraan bertonase besar membutuhkan spesifikasi material yang berbeda dibanding jalan yang hanya dilalui kendaraan ringan.
Selain kualitas pengaspalan, Dwars mengatakan pembangunan drainase juga harus memenuhi standar teknis.
Tidak hanya memperhatikan lebar dan kedalaman saluran, tetapi juga kemiringan drainase agar air dapat mengalir menuju titik terendah.
“Standar kemiringannya sekitar dua hingga tiga persen. Kalau tidak ada kemiringan yang cukup, air tidak akan mengalir dengan baik,” katanya.
Ia menyarankan pemerintah memanfaatkan teknologi pemetaan digital.
termasuk penggunaan drone, untuk menentukan titik-titik terendah sehingga pembangunan sistem drainase dapat dirancang lebih efektif.
Menurut Dwars, apabila kualitas pengaspalan dan sistem drainase sama-sama memenuhi spesifikasi teknis, umur layanan jalan dapat bertahan lebih dari 20 tahun dengan kebutuhan perawatan yang jauh lebih sedikit.
(TribunManado.co.id/Pet)