Libatkan 500 Mahasiswa di Arcamanik, Unisba Berhasil Tekan Sampah Rumah Tangga Hingga 16 Persen
Muhamad Syarif Abdussalam August 03, 2026 09:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Universitas Islam Bandung (Unisba) mengklaim program pendampingan pengelolaan sampah yang dijalankan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemkot Bandung berhasil menurunkan volume sampah rumah tangga di Kecamatan Arcamanik hingga 16 persen dalam tiga bulan.

Capaian tersebut akan dijadikan model kolaborasi yang diharapkan bisa diterapkan perguruan tinggi lain di Kota Bandung melalui Program Aksi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (Aksara Mahasiswa) 2026.

Rektor Unisba Prof. Ir. A. Harits Nu'man mengatakan perguruan tinggi tidak cukup hanya menjalankan pendidikan dan penelitian, tetapi juga harus hadir menyelesaikan persoalan masyarakat.

"Unisba ingin menjadi kampus yang menjadi ragi bagi masyarakat. Salah satu persoalan yang sedang menjadi perhatian pemerintah adalah pengelolaan sampah, dan kami sudah memulainya di Arcamanik," ujarnya, (3/8/2026).

Dikatakannya, program tersebut melibatkan sekitar 500 mahasiswa yang diterjunkan ke 50 RW dengan pendampingan 100 dosen. 

Mahasiswa melakukan edukasi pemilahan sampah melalui pendekatan rekayasa sosial serta penerapan teknologi reaktor plasma dingin. 

Prof. Harits menjelaskan target awal penurunan volume sampah rumah tangga hanya 10 persen. Namun, hasil evaluasi selama tiga bulan menunjukkan penurunan mencapai 16 persen.

"Artinya masyarakat mulai sadar bahwa pemilahan sampah itu penting. Target kami berikutnya bisa mencapai 20 persen," katanya.

Menurut Prof. Harits, keberhasilan tersebut tidak boleh berhenti di Arcamanik. Dia berharap model yang dikembangkan Unisba dapat direplikasi oleh perguruan tinggi lain sehingga penanganan sampah di Bandung dilakukan secara bersama-sama.

"Nah, itu kita saling berkolaborasi, bersinergi. Modelnya pentahelix karena melibatkan pemerintah, kementerian, masyarakat, NGO. Kemudian ada media berperan di dalamnya selain perguruan tinggi dan mahasiswa tentunya," imbuhnya. 

Dia memastikan pendampingan di Arcamanik juga tidak akan dihentikan. Bersama pemerintah provinsi, pemerintah kota, dinas lingkungan hidup, masyarakat, media hingga organisasi lainnya, pihaknya akan terus melakukan pembinaan agar budaya memilah sampah tetap terjaga.

Prof. Harits menambahkan, pendekatan tersebut mengantarkan Unisba memperoleh rekognisi sebagai Kampus Berdampak dari pemerintah.

Selain menjalankan program pengabdian masyarakat, Unisba juga mencatat peningkatan dukungan pendanaan dari pemerintah pada tahun ini.

Menurutnya, total bantuan yang diterima mencapai sekitar Rp5 miliar yang berasal dari berbagai program, mulai dari sertifikasi dosen, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), hingga Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K).

Sementara itu, Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. I Ketut Adnyana, mengatakan Program Aksara Mahasiswa dirancang agar mahasiswa menjadi ujung tombak penyelesaian persoalan masyarakat dengan membawa hasil inovasi yang telah dikembangkan dosen di kampus.

"Mahasiswa hadir di tengah masyarakat membawa inovasi perguruan tinggi untuk menyelesaikan persoalan yang nyata, misalnya pengelolaan sampah. Dosen berperan sebagai pendamping," katanya.

Dia menjelaskan, tahun ini program difokuskan pada dua skema utama. Pertama, pengelolaan sampah di empat kota besar yakni Jakarta, Bogor, Bandung, dan Denpasar karena persoalan sampah dinilai sudah sangat mendesak.

Skema kedua menyasar daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), wilayah dengan kemiskinan ekstrem dan stunting, serta daerah rawan bencana.

Menurut dia, tingginya antusiasme perguruan tinggi juga terlihat dari lonjakan proposal yang masuk ke Kemdiktisaintek.

"Tahun lalu proposal yang kami terima sekitar 50 ribu, tahun ini menjadi sekitar 110 ribu proposal secara nasional. Jadi yang berkurang bukan anggarannya, tetapi jumlah proposal yang bisa didanai karena peminatnya meningkat dua kali lipat," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Lukman, mengungkapkan bahwa minat perguruan tinggi mengajukan hibah pengabdian terus meningkat setiap tahun, meski jumlah penerima pendanaan mengalami penurunan. 

Oleh karena itu, ia berharap adanya peningkatan alokasi anggaran agar semakin banyak proposal berkualitas yang dapat didanai. (*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.