Senyum Terakhir Sopir Truk Korban KMP Mutiara Sentosa II, Ajakan Lompat Ditolak
Titis Jati Permata August 04, 2026 07:32 AM

 

SURYA.co.id, TULUNGAGUNG – Senyum dan anggukan menjadi kenangan terakhir Bambang Susilo terhadap rekan kerjanya, Sari Sukoco (39).

Di tengah kobaran api yang melalap KMP Mutiara Sentosa II di Perairan Sumenep Madura, Minggu (2/7/2026), Bambang sempat mengajak Sari melompat ke laut untuk menyelamatkan diri. Namun ajakan itu hanya dibalas senyum.

Sehari berselang, jenazah Sari akhirnya dipulangkan ke kampung halamannya di Tulungagung, Senin (3/8/2026) malam.

Korban tiba di rumah duka di Perumahan Mutiara Alam Regency, Kelurahan Tertek, Kecamatan Tulungagung, sekitar pukul 21.09 WIB menggunakan ambulans Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur.

Baca juga: Duka Keluarga Korban KM Mutiara Sentosa II, Dua Pekan Lagi Istri akan Melahirkan

Setelah disemayamkan sejenak dan keluarga menggelar ibadah penghiburan, peti jenazah kembali diberangkatkan menuju rumah asal korban di Jalan Kawi, Desa Sidorejo, Kecamatan Kauman, untuk dimakamkan.

Ajakan Menyelamatkan Diri Ditolak

Bambang, kernet yang telah delapan tahun bekerja bersama Sari, menjadi orang terakhir yang berbincang dengan korban sebelum keduanya terpisah di atas kapal.

Menurutnya, mereka mengangkut cold storage dari Jakarta menuju Makassar menggunakan truk ekspedisi yang diparkir di dek dua KMP Mutiara Sentosa 2.

Saat api mulai membesar, suhu lantai kapal semakin panas. Bambang memutuskan menyelamatkan diri dengan melompat ke laut dan mengajak Sari melakukan hal yang sama.

"Saya mengajak beliau terjun ke laut. Tapi beliau bilang, 'nanti saja'. Akhirnya saya pamit loncat duluan. Beliau hanya tersenyum dan mengangguk," kenang Bambang.
Itulah percakapan terakhir mereka.

Menunggu Kapal Selama Sepekan

Bambang menceritakan, sebelum berlayar mereka sempat menunggu jadwal keberangkatan kapal selama sekitar sepekan.

Setelah menyelesaikan pengiriman dari Jakarta, mereka pulang lebih dulu sebelum kembali ke Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

"Kami menunggu kapal sekitar seminggu. Dari Jakarta sempat pulang dulu, lalu antre di Pelabuhan Tanjung Perak sejak Jumat," ujarnya.

Mereka baru bisa masuk ke kapal pada Sabtu (1/7/2026) sekitar pukul 12.00 WIB bersama empat kru lain dari dua truk berbeda.

Dari enam orang dalam rombongan ekspedisi tersebut, hanya Sari yang tidak berhasil selamat.

Mengira Rekannya Diselamatkan

Usai berhasil dievakuasi, Bambang mengaku masih yakin Sari berhasil ditolong kapal lain.

Apalagi, telepon genggamnya rusak sehingga ia tidak dapat berkomunikasi dengan keluarga maupun rekan kerja.

Ia baru mengetahui kenyataan pahit itu setelah tiba di Surabaya.

"Saya pikir beliau diselamatkan kapal lain. Baru setelah sampai Surabaya saya diberi tahu kalau beliau tidak selamat," katanya.

Bambang bahkan sempat menunggu di RS Bhayangkara Surabaya karena mendapat informasi jenazah Sari akan dibawa ke sana. Namun yang datang adalah jenazah korban lain.

"Saya sempat menunggu di rumah sakit, tetapi ternyata yang datang jenazah orang lain. Setelah itu saya pulang ke Tulungagung," ujarnya.

Rekan Kerja yang Akan Menikah Tahun Ini

Bagi Bambang, kehilangan Sari terasa begitu berat. Selama delapan tahun bekerja bersama, ia mengenal rekannya sebagai pribadi yang mudah bergaul dan menyenangkan.

Korban yang masih lajang itu bahkan sempat bercerita akan menikah pada tahun ini.

Peristiwa kebakaran kapal tersebut juga meninggalkan trauma bagi Bambang.

Meski demikian, ia mengaku belum berencana meninggalkan pekerjaannya di dunia ekspedisi barang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.