SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palembang mencatat tingkat inflasi Year on Year (YoY) Kota Palembang pada Juli 2026 sebesar 2,33 persen.
Angka tersebut dinilai relatif stabil dan berada di bawah rata-rata inflasi Provinsi Sumatera Selatan (2,50 persen) maupun inflasi nasional (2,88 persen).
Rilis perkembangan inflasi dan indikator pariwisata tersebut disampaikan langsung di Ruang Pelayanan Statistik Terpadu (PST) BPS Kota Palembang, dengan dihadiri Asisten II Setda Kota Palembang, Isnaini Madani, beserta jajaran BPS, Senin (3/8/2026).
Isnaini Madani mengklaim kondisi inflasi di Kota Palembang saat ini masih aman dan terkendali sesuai sasaran pemerintah.
Baca juga: Menakar Daya Saing: Romantisme Mangrove Langsa vs Raksasa Pangan Banyuasin
Menurutnya, capaian ini merupakan hasil optimalisasi kerja sama antara Pemerintah Kota (Pemko) Palembang, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), dan pemangku kepentingan terkait.
"Capaian ini tergolong baik dan menunjukkan kondisi ekonomi daerah tetap terjaga. Pemkot Palembang akan terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas harga serta ketersediaan pasokan barang di masyarakat," ujar Isnaini.
Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu, yang menyebabkan nilai uang atau daya beli masyarakat menurun
Berdasarkan catatan BPS Kota Palembang, sejumlah komoditas utama yang memberi andil terhadap inflasi pada Juli 2026 meliputi Bahan Bakar Minyak (BBM), nasi beserta lauk-pauk, beras, timun, ketupat, dan sawi.
Di sisi lain, laju inflasi tertahan oleh deflasi pada beberapa komoditas, seperti penurunan harga emas perhiasan, bawang merah, cabai merah, cabai rawit, tomat, dan ikan patin.