SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Di tengah dinamika harga kebutuhan pokok yang membayangi Indonesia, angin segar bertiup dari Sumatera Selatan pada pertengahan tahun ini.
Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan mencatat Provinsi Sumsel mengalami deflasi month-to-month (m-to-m) sebesar 0,24 persen pada Juli 2026, dengan tingkat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) berada di angka 2,50 persen dan inflasi kalender (year-to-date/y-to-d) sebesar 1,62 persen.
Sektor Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi juru selamat utama yang meredam gejolak harga bulanan dengan memberikan andil deflasi terbesar hingga 0,29 persen.
Melimpahnya pasokan bumbu dapur seperti bawang merah, cabai merah, cabai rawit, tomat, hingga telur ayam ras berhasil mendinginkan harga di pasaran.
Baca juga: Inflasi Palembang Juli 2026 Tercatat 2,33 Persen, BBM dan Nasi Lauk Jadi Penyumbang Utama
Meski demikian, jika ditarik secara tahunan (y-on-y), komoditas seperti minyak goreng, beras, jeruk, hingga emas perhiasan masih menjadi penyumbang utama inflasi Sumsel.
Bahkan, Kabupaten Muara Enim mencatatkan laju inflasi y-on-y tertinggi di Sumsel yang menyentuh angka 3,48 persen.
Di tengah kontras tersebut, ada tiga daerah yang sukses mengendalikan laju harga dan mencatatkan angka inflasi terendah di Bumi Sriwijaya per Juli 2026. Daerah mana sajakah itu?
Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) tampil sebagai daerah dengan tingkat inflasi tahunan paling adem di Sumatera Selatan, yakni berada di angka 2,28 persen.
Penurunan tajam harga bawang merah di tingkat petani dan pedagang lokal menjadi pendorong utama meredamnya gejolak pasar di Bumi Bende Seguguk.
Penekan Inflasi (Deflasi Utama): Bawang merah menjadi pahlawan utama penyumbang deflasi sebesar 0,26 % , disusul cabai merah (0,12 % ), emas perhiasan (0,11 % ), telur ayam ras (0,04 % ), serta ikan nila (0,03 % ).
Pendorong Inflasi: Kenaikan masih tertahan pada beras (0,10 % ), bensin (0,07 % ), bawang putih (0,03 % ), kacang panjang (0,03 % ), dan biaya pendidikan SD (0,02 % ).
Sebagai pusat perekonomian dan konsumsi terbesar di Sumsel, Kota Palembang berhasil menjaga laju inflasinya di tingkat 2,33 persen lebih rendah dari rata-rata provinsi maupun nasional.
Metropolis ini diuntungkan oleh koreksi harga emas dan komoditas sayuran segar:
Penekan Inflasi (Deflasi Utama): Penurunan harga emas perhiasan memberikan andil deflasi terbesar hingga 0,20 % , disusul bawang merah (0,14 % ), cabai merah (0,06 % ), cabai rawit (0,02 % ), dan tomat (0,02 % ).
Pendorong Inflasi: Komoditas penopang aktivitas harian masyarakat seperti bensin (0,08 % ), nasi beserta lauk-pauk (0,02 % ), timun (0,02 % ), sawi putih/pitsai (0,01 % ), dan beras (0,01 % ) masih mencatatkan kenaikan tipis.
Kota Lubuklinggau menduduki posisi ketiga dalam daftar daerah dengan inflasi terendah di Sumsel, mencatatkan inflasi tahunan sebesar 2,95 % .
Sebagai kota perlintasan dan jasa di bagian barat Sumsel, dinamika harga di Lubuklinggau sangat dipengaruhi oleh kombinasi harga komoditas pangan dan sektor pendidikan:
Penekan Inflasi (Deflasi Utama): Bawang merah (0,14 % ) dan emas perhiasan (0,12 % ) menjadi penahan utama laju inflasi, disokong oleh turunnya harga cabai rawit (0,03 % ), tomat (0,02 % ), serta labu siam (0,02 % ).
Pendorong Inflasi: Kenaikan harga terdorong oleh BBM jenis bensin (0,05 % ), biaya sekolah dasar (0,04 % ), bawang putih (0,04 % ), biaya SMP (0,03 % ), serta sigaret kretek tangan (0,02 % ).
Keberhasilan tiga daerah ini dalam menekan laju inflasi menunjukkan pentingnya pasokan pangan yang lancar serta efektivitas intervensi pasar.
Ketika komoditas bumbu dapur seperti bawang dan cabai melimpah di pasaran, efek dominonya langsung terasa pada terjaganya daya beli masyarakat di Sumatera Selatan.