20 Desa di Polman Krisis Air Bersih Selama Musim Kemarau
Nurhadi Hasbi August 04, 2026 11:47 AM

 

TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), mencatat ada 20 desa yang mengalami krisis air bersih selama musim kemarau, Selasa (4/8/2026).

Musim kemarau di wilayah Polman telah berlangsung selama dua bulan terakhir.

Kondisi tersebut menyebabkan sumur warga mulai mengering sehingga masyarakat mengalami kekurangan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Baca juga: Warga Desa Rea Polman Dapat Bantuan Air Bersih di Tengah Kemarau Panjang

Baca juga: Tak Hanya Kemarau Alih Fungsi Hutan Diduga Buat Pasokan Air Bersih Mamuju Anjlok

Tak hanya kekurangan air bersih, musim kemarau juga menyebabkan sawah tadah hujan mengalami kekeringan.

BPBD Polman kini menyiapkan satu unit mobil tangki berkapasitas empat meter kubik untuk mendistribusikan air bersih kepada warga terdampak.

Kepala BPBD Polman, Andi Candra Sigit, menyampaikan 20 titik lokasi yang mengalami kekurangan air bersih tersebut tersebar di tujuh kecamatan.

"Ada 20 titik lokasi desa yang tersebar di tujuh kecamatan yang membutuhkan penyaluran air bersih," kata Andi Candra Sigit kepada wartawan.

BPBD Siapkan Distribusi Air Bersih dan Usulkan Bantuan Sumur Bor

Ia menyebut BPBD Polman telah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) tanggap darurat musim kemarau 2026.

Warga diimbau untuk tetap siaga menghadapi musim kemarau yang diproyeksikan berlangsung hingga September 2026.

Terkait penyaluran air bersih ke wilayah terdampak, personel BPBD Polman masih menunggu data jumlah kepala keluarga dari pemerintah desa dan kelurahan.

"Kita menunggu surat dari pemerintah desa dan kelurahan untuk mengetahui jumlah kepala keluarga di desa itu yang akan disuplai air bersih," ungkapnya.

Ia menambahkan, data 20 titik lokasi yang sangat membutuhkan air bersih tersebut juga telah dikirim ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai usulan bantuan pembangunan sumur bor.

Adapun 20 desa yang tercatat mengalami krisis air bersih merupakan wilayah yang paling membutuhkan penanganan.

Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Balanipa, yakni Desa Tamajarra, Karama, dan Mosso.

Di Kecamatan Binuang meliputi Desa Tonyamang dan Amola.

Kemudian Kecamatan Campalagian meliputi Desa Lapeo, Kenje, Suruang, Laliko, Parappe, dan Samasundu.

Di Kecamatan Mapilli meliputi Desa Napo, Buku, Landi Kanusuang, Segerang, dan Rumpa.

Selanjutnya Kecamatan Tinambung meliputi Desa Tandung dan Buttu Layya.

Sedangkan di Kecamatan Wonomulyo meliputi Desa Galeso dan Nepo. (*)

Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Fahrun Ramli

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.