Liputan6.com, Jakarta - Di era yang serba cepat ini, budaya hustle atau kerja keras tanpa istirahat menjadi sangat populer. Banyak orang percaya bahwa nilai diri seseorang bergantung pada seberapa sibuk dan produktifnya mereka. Akibatnya, istirahat dan mengambil jeda sering dianggap sebagai kemalasan.
Padahal, menurut psikolog dan terapis hubungan Dr. Mindy DeSeta, Ph.D., sebagaimana dilansir dari parade.com, tidak semua kebiasaan yang tampak seperti rasa malas berhubungan dengan kurangnya motivasi. Terkadang, orang melindungi waktu, energi, dan kesehatan mental mereka dengan menetapkan batasan yang sehat.
Lalu, bagaimana cara mengenali EQ orang dari sifat malasnya? Berikut adalah 7 kebiasaan "malas" yang justru menjadi tanda kecerdasan emosional tinggi, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Selasa (4/8/2026).

Pernah merasa sangat membutuhkan waktu untuk sendiri, lalu merasa bersalah dan menganggap diri "malas" menghadiri sebuah acara? Jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri.
Menurut Dr. DeSeta, mampu mendeteksi kebutuhan akan waktu sendirian sebenarnya merupakan pertanda baik bagi kecerdasan emosional. Orang dengan EQ tinggi menyadari kapan mereka perlu mengisi ulang energi daripada memaksakan diri melakukan segalanya.
Menolak undangan tidak selalu berarti seseorang tidak peduli. Sering kali itu berarti mereka menghormati batasan mereka sendiri. Waktu sendirian dapat meningkatkan suasana hati, mengurangi stres, dan membantu seseorang lebih hadir sepenuhnya ketika bersama orang lain.
Tips mengenali: Perhatikan apakah seseorang mampu mengatakan "tidak" pada undangan sosial tanpa rasa bersalah berlebihan, dan apakah mereka menggunakan waktu sendiri untuk benar-benar memulihkan diri.

Ada perbedaan antara batasan yang ditetapkan secara cerdas secara emosional dengan kemalasan. Beristirahat 30 menit untuk makan siang atau berjalan-jalan di sekitar kantor setiap jam bukanlah kemalasan.
Dr. DeSeta menjelaskan bahwa seseorang yang menjauh dari meja sepanjang hari mungkin terlihat seperti menghindari pekerjaan. Pada kenyataannya, istirahat singkat membantu orang untuk menyegarkan diri, tetap fokus, dan membuat keputusan yang lebih baik daripada bekerja sampai mereka kelelahan secara mental.
Penelitian juga menunjukkan bahwa tidur siang singkat antara 10 sampai 30 menit terbukti dapat meningkatkan memori, suasana hati, fokus, dan kreativitas.
Tips mengenali: Amati apakah seseorang mengambil jeda secara teratur dan kembali bekerja dengan energi yang lebih baik, atau justru menghindari pekerjaan secara konsisten tanpa alasan jelas.

Di dunia yang serba terhubung, ada tuntutan tinggi bahwa kita harus membalas pesan dengan cepat. Namun, orang dengan kecerdasan emosional tinggi paham bahwa dirinya bukanlah robot yang harus tersedia setiap saat.
"Beberapa orang berasumsi bahwa pesan teks atau email yang tertunda berarti seseorang tidak termotivasi atau tidak peduli," kata Dr. DeSeta, dikutip dari parade.com. "Sering kali, itu adalah batasan yang sehat yang memungkinkan seseorang untuk tetap fokus pada pekerjaan, keluarga, atau waktu pribadi mereka daripada merasa harus selalu tersedia 24/7."
Kebiasaan tidak langsung membalas pesan sering dilihat sebagai sikap tidak sopan, padahal ini adalah salah satu cara orang cerdas untuk melindungi kesehatan ruang mental mereka.
Tips mengenali: Perhatikan apakah seseorang merespons dengan bijaksana ketika akhirnya membalas, atau justru mengabaikan pesan sama sekali tanpa alasan.

Budaya hustle membuat orang yang pulang kerja tepat waktu sering dianggap pemalas dan kurang berdedikasi. Padahal, pulang kerja tepat waktu adalah bentuk menghargai diri sendiri.
"Orang-orang yang secara konsisten pulang kerja tepat waktu dapat dicap secara tidak adil sebagai kurang berdedikasi," ungkap Dr. DeSeta. "Dalam banyak kasus, mereka hanya melindungi waktu pribadi mereka dan menyadari bahwa terus-menerus bekerja lembur bukanlah sama dengan produktif".
Mereka paham bahwa produktivitas dan nilai diri tidak dihitung dari seberapa banyak jam kerja lembur.
Tips mengenali: Amati apakah seseorang menyelesaikan pekerjaannya dengan efektif dalam jam kerja, atau justru meninggalkan pekerjaan menumpuk.
![Ini Cara Atur Energi Kerja Lewat Ritme Tubuh yang Bikin Produktif Seharian Pagi hari adalah waktu fokus terbaik. [Dok/Pexels.com/Lucie Liz].](https://shengbo-xjp.oss-ap-southeast-1.aliyuncs.com/Upload/File/2026/08/04/1030336544.webp)
Mengatakan "tidak" pada tanggung jawab tambahan ketika kapasitas sudah penuh adalah tindakan yang bijaksana.
"Menolak tanggung jawab tambahan terkadang disalahartikan sebagai kemalasan atau kurangnya ambisi," tegas Dr. DeSeta. "Orang yang cerdas secara emosional mengetahui batasan mereka dan memahami bahwa melakukan beberapa hal dengan baik seringkali lebih berharga daripada melakukan banyak hal dengan buruk."
Orang dengan EQ tinggi tahu bahwa fokus pada kualitas lebih berharga daripada kuantitas yang mengorbankan hasil.
Tips mengenali: Perhatikan apakah seseorang selektif dalam mengambil tugas dan mampu menyelesaikannya dengan baik, atau justru mengambil banyak tugas namun hasilnya setengah-setengah.

Mengosongkan jadwal untuk tidak melakukan apa-apa atau yang dalam bahasa Inggris disebut white space, bisa menjadi tanda kecerdasan emosional yang tinggi.
Menurut Dr. DeSeta, menciptakan waktu luang dan istirahat untuk diri sendiri dapat membantu mengurangi stres, memulihkan energi mental, dan mencegah kelelahan sebelum terjadi.
"Seorang yang cerdas secara emosional biasanya akan mengosongkan jadwal mereka untuk tidak melakukan apa-apa. Ini membantu mereka untuk berpikir jernih yang dapat meningkatkan kecerdasan emosional".
Tips mengenali: Perhatikan apakah seseorang memiliki waktu jeda dalam jadwalnya dan memanfaatkannya untuk pemulihan, atau justru mengisinya dengan aktivitas yang tidak produktif.
![6. Jangan Ragu Minta Bantuan Saat Perlu Apabila kamu sudah merasa energi benar-benar habis, tidak ada salahnya untuk meminta bantuan pada pasangan, keluarga, atau orang terpercaya, [Dok/freepik.com]](https://shengbo-xjp.oss-ap-southeast-1.aliyuncs.com/Upload/File/2026/08/04/1030344410.webp)
Meskipun waktu menyendiri adalah hal baik untuk kecerdasan emosional, melakukan semuanya sendiri justru tidak dianjurkan. Meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda EQ tinggi.
"Orang yang cerdas secara emosional menyadari bahwa kolaborasi adalah sebuah kekuatan dan mengetahui kapan harus mengandalkan orang lain sering kali menghasilkan hasil yang lebih baik daripada mencoba menangani semuanya sendiri," jelas Dr. DeSeta.
Orang cerdas yang terkesan malas sebenarnya ahli dalam mendelegasikan tugas kepada orang yang tepat. Mereka memahami kekuatan dan kelemahan diri sendiri, sehingga bisa mengalokasikan tugas dengan efisien.
Tips mengenali: Amati apakah seseorang mampu meminta bantuan dengan tepat dan mendelegasikan tugas secara efektif, atau justru menghindari tanggung jawab sepenuhnya.

Tidak semua sifat malas mencerminkan kecerdasan emosional yang tinggi. Ada kalanya perilaku yang tampak seperti kemalasan atau penghindaran justru menyembunyikan tingkat EQ yang rendah. Berikut adalah rangkumannya:
A: Perbedaan utamanya terletak pada tujuan dan dampaknya. Kemalasan sesungguhnya cenderung menghindari tanggung jawab tanpa alasan jelas, disertai dengan membuat alasan, defensif, dan mengabaikan perasaan orang lain. Sementara itu, kebiasaan yang terlihat malas namun mencerminkan EQ tinggi dilakukan dengan kesadaran diri—untuk melindungi energi, menjaga kesehatan mental, dan hadir sepenuhnya saat dibutuhkan.
A: Tidak semua. Kuncinya adalah kesadaran dan motivasi di baliknya. Orang dengan EQ tinggi menyendiri karena mereka secara sadar mengenali kebutuhan untuk mengisi ulang energi. Sementara itu, orang dengan EQ rendah mungkin menyendiri karena ketidakmampuan membangun relasi atau sikap narsis yang selalu ingin mendominasi.
A: Istirahat produktif, seperti jeda 30 menit untuk makan siang atau berjalan-jalan sebentar, akan membantu seseorang menyegarkan diri, tetap fokus, dan membuat keputusan lebih baik. Kemalasan di tempat kerja biasanya ditandai dengan keluhan terus-menerus tentang pekerjaan dan selalu mencari jalan termudah tanpa perhitungan.
A: Budaya hustle menciptakan mitos bahwa nilai diri bergantung pada seberapa sibuk dan produktif seseorang. Ini membuat istirahat, batasan, dan waktu sendiri dianggap sebagai kelemahan. Padahal, menurut Dr. DeSeta, kesuksesan tidak diukur dari seberapa lelahnya Anda. Budaya ini membuat kita terjebak dalam menilai orang dari seberapa sibuk mereka, bukan dari seberapa sehat dan efektif mereka.
A: Beberapa langkah yang bisa dilakukan:
A: Ya. Sebuah studi dalam jurnal psikologi dan penelitian neurosains menunjukkan bahwa individu dengan tingkat kecerdasan lebih tinggi cenderung lebih selektif dalam memilih kegiatan dan mengandalkan efisiensi mental (efisiensi saraf), sehingga menghindari situasi stres yang tidak perlu.