TRIBUNNEWS.COM, RUSIA – Perang Rusia-Ukraina kembali memunculkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga sipil.
Kali ini, serangan drone menghantam pantai yang dipadati wisatawan di kawasan resor Laut Hitam, Rusia, menewaskan sedikitnya enam orang sementara laporan lainnya korban tewas 7 orang, termasuk tiga anak-anak, serta melukai sedikitnya 40 orang.
Insiden terjadi di Arkhipo-Osipovka, bagian dari kawasan wisata Gelendzhik, pada Senin (3/8/2026).
Serangan ini menjadi salah satu insiden paling mematikan yang menimpa warga sipil di wilayah Rusia sejak perang pecah pada Februari 2022.
Video yang beredar di media sosial, meski belum dapat diverifikasi secara independen, memperlihatkan sebuah drone yang diduga jatuh di pantai yang saat itu dipenuhi wisatawan.
Beberapa pengunjung terlihat berada di tepi pantai maupun berenang di laut ketika ledakan terjadi, sehingga memicu kepanikan.
Baca juga: Rudal Balistik Rusia Hantam Kyiv, 9 Tewas, Ukraina Kembali Desak Tambahan Sistem Patriot
Dalam rekaman tersebut juga terdengar rentetan tembakan antipesawat beberapa saat sebelum ledakan.
Hal ini memunculkan dugaan bahwa sistem pertahanan udara Rusia berupaya mencegat drone di udara. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi independen mengenai target sebenarnya dari serangan tersebut.
Kementerian Kesehatan Rusia menyatakan sedikitnya 21 orang, termasuk tiga anak-anak, dilarikan ke rumah sakit. Sembilan korban dilaporkan mengalami luka serius.
Serangan ini menyita perhatian karena terjadi tidak jauh dari Gelendzhik, kota resor di pesisir Laut Hitam yang selama bertahun-tahun menjadi sorotan setelah muncul tuduhan adanya kompleks mewah yang dikaitkan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Kompleks yang kerap dijuluki para pengkritiknya sebagai "Putin's Palace" atau "Istana Putin" itu telah beberapa kali dibantah Kremlin sebagai milik Putin.
Meski demikian, hingga kini tidak ada bukti yang menunjukkan kompleks tersebut menjadi sasaran serangan. Lokasi kejadian yang berada di sekitar kawasan itu membuat insiden ini mendapat perhatian luas.
Pemerintah Rusia menyalahkan Ukraina atas serangan tersebut.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyebut serangan ke kawasan wisata yang dipenuhi warga sipil sebagai tindakan terorisme.
Zakharova juga menuding negara-negara Barat ikut bertanggung jawab karena terus memberikan dukungan militer kepada Kyiv.
Pernyataan tersebut memperkuat narasi yang belakangan semakin sering disampaikan Moskwa setiap kali terjadi serangan drone di wilayah Rusia yang menimbulkan korban sipil.
Selama ini, Kyiv secara konsisten menyatakan tidak pernah dengan sengaja menargetkan warga sipil dalam setiap operasi militernya.
Baca juga: Rudal Rusia Nyasar Hantam Polandia Saat Hajar Ukraina, Negara NATO Siaga Perang
Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyatakan Rusia tidak menunjukkan keinginan untuk mengakhiri perang.
Dalam pidatonya di Kyiv, Zelenskyy mengatakan Ukraina akan terus meningkatkan tekanan melalui jalur diplomasi, sanksi internasional, dan operasi militer hingga Rusia bersedia berunding.
"Ukraina menginginkan perdamaian. Ukraina tidak pernah menginginkan perang ini," ujar Zelenskyy.
Ia juga menuduh Presiden Vladimir Putin sengaja memperpanjang konflik dengan terus meningkatkan serangan terhadap Ukraina.
Dalam beberapa bulan terakhir, Ukraina meningkatkan serangan drone jarak jauh yang umumnya menyasar kilang minyak, pusat logistik, lapangan udara, dan fasilitas lain yang mendukung operasi militer Rusia.
Di sisi lain, Rusia juga terus melancarkan serangan rudal dan drone ke berbagai kota di Ukraina.
Insiden di Gelendzhik menunjukkan bahwa dampak perang kini semakin meluas hingga ke kawasan yang sebelumnya relatif jauh dari garis depan.
Pantai yang biasanya menjadi tujuan wisata musim panas berubah menjadi lokasi ledakan yang menewaskan dan melukai warga sipil.