Ibu Kandung Diduga Jadi Dalang Hilangnya Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Sebut Bukan Penculikan
Weni Wahyuny August 04, 2026 11:32 AM

 

TRIBUNSUMSEL.COM -- Penyelidikan kasus dugaan penculikan yang menimpa atlet golf nasional, Jesslyn Wijaya (32), mulai menemukan titik terang. 

Aparat kepolisian mengungkap fakta baru yang mengarah pada sosok utama di balik aksi penjemputan paksa tersebut, yang ternyata berasal dari lingkungan keluarga korban sendiri.

Ibu kandung Jesslyn diduga kuat menjadi dalang utama yang menginstruksikan sekelompok pria berbadan tegap untuk membawa pergi putrinya secara paksa dari sebuah restoran di kawasan Mangga Besar, Jakarta Pusat, pada Senin (13/7/2026).

Baca juga: Polisi Ungkap Penjemputan Paksa Atlet Jesslyn Wijaya Diduga Karena Keluarga Tak Restui Calon Suami

Peran Ibu Menggerakkan Lima Pria Bertubuh Besar

Berdasarkan hasil penyelidikan Polres Metro Jakarta Pusat, aksi penjemputan paksa itu berlangsung di tengah keramaian acara ulang tahun di Restoran Saung Kita. 

Lima pria bertubuh besar yang mendatangi dan membawa Jesslyn diketahui tidak bergerak atas inisiatif pribadi, melainkan menjalankan perintah dari ibu kandung korban.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Roby Hery Saputra, mengonfirmasi bahwa pergerakan kelompok tersebut dikendalikan oleh pihak keluarga.

Usai dibawa dari lokasi kejadian di Jakarta Pusat, Jesslyn langsung dibawa melintasi jalur darat menuju Bandara Ahmad Yani di Semarang, Jawa Tengah. 

Skenario perjalanan yang dirancang tidak berhenti di situ. 

Pada Selasa (14/7/2026), Jesslyn diterbangkan ke Kuala Lumpur, Malaysia, sebelum akhirnya melanjutkan penerbangan ke Bangkok, Thailand.

Baca juga: Profil Jesslyn Wijaya Lay, Atlet Golf Diduga Diculik saat Ulang Tahun Nenek di Jakpus

Pelarian ke Luar Negeri dan Keterlibatan Keluarga

Sinyal kuat bahwa ibu kandung Jesslyn merupakan aktor intelektual dari peristiwa ini semakin dipertegas oleh temuan penyidik selama korban berada di luar negeri.

Dari hasil penelusuran polisi di Thailand, Jesslyn tidak diisolasi oleh pihak asing, melainkan berada dalam pengawasan keluarga terdekatnya.

Penyidik menemukan fakta bahwa Jesslyn berada di Thailand bersama ibu kandung serta bibinya. 

Temuan ini menguatkan dugaan polisi bahwa rangkaian peristiwa penjemputan paksa hingga pembawaan korban ke luar negeri merupakan bagian dari aksi terencana yang didalangi oleh sang ibu.

Motif Dalang: Penolakan Rencana Pernikahan

Mengenai motif di balik tindakan nekat sang ibu, polisi menduga hal tersebut dipicu oleh ketidaksetujuan keluarga terhadap hubungan asmara Jesslyn dengan kekasihnya, Evan. 

Penjemputan paksa hingga pembawaan korban ke luar negeri diduga dilakukan sengaja untuk menggagalkan rencana pernikahan pasangan tersebut.

"Ya, dugaan sementara karena ada masalah internal keluarga, ketidaksetujuan atas hubungan Jesslyn dengan pacarnya," jelas Roby saat dikonfirmasi melalui panggilan telepon, Jumat (31/7/2026), dikutip dalam Bangka Pos.

Padahal, pihak calon suami mengonfirmasi bahwa seluruh persiapan pernikahan mereka sebenarnya sudah hampir selesai. 

Evan mengungkapkan bahwa mereka telah mengurus berbagai keperluan formal untuk mengikat janji suci.

"Saya sebagai calon suaminya Jesslyn dan seharusnya memang kami melaksanakan pernikahan dalam waktu dekat, kami sudah membeli gaun dan mendaftarkan pernikahan ke gereja," ucap Evan.

Meski dugaan peran ibu kandung sebagai dalang utama telah menguat, pihak kepolisian menegaskan masih terus mendalami kasus ini. 

Penyidik tetap memeriksa peran masing-masing pihak yang terlibat dalam aksi penjemputan paksa tersebut guna memastikan seluruh fakta hukum terungkap secara utuh.

ATLET GOLF DICULIK -- Jesslyn Wijaya Lay, atlet golf putri mandiri dan berprestasi sekaligus putri pengusaha Pontu Wijaya, diduga diculik lima pria saat ultah neneknya di Jakpus, Senin (13/7/2026).
ATLET GOLF DICULIK -- Jesslyn Wijaya Lay, atlet golf putri mandiri dan berprestasi sekaligus putri pengusaha Pontu Wijaya, diduga diculik lima pria saat ultah neneknya di Jakpus, Senin (13/7/2026). (Kompas.com/Dok. Kuasa Hukum Pelapor)

Pernah Depresi dan Lapor Dugaan Kekerasan

Konflik Jesslyn dengan ibunya disebut bukan baru terjadi kali ini.

Evan mengungkapkan, pada April hingga Oktober 2025, Jesslyn pernah diisolasi di rumah ibunya sehingga tidak bisa berkomunikasi dengan siapa pun.

"Jadi laporan itu waktu Jesslyn ada di rumah ibunya. Handphone-nya dirampas, laptopnya disita oleh ibunya, sehingga Jesslyn tidak punya alat komunikasi apa pun untuk berhubungan dengan saya ataupun dengan teman-temannya. iPad juga dirampas, kemudian Jesslyn tidak boleh keluar sendiri tanpa didampingi oleh ibunya," jelas Evan di Kantor Komnas Perempuan, Jumat.

Menurut Evan, tekanan tersebut membuat Jesslyn kehilangan pekerjaan dan mengalami tekanan psikologis berat.

"Sehingga dia depresi sekali dan sudah tiga kali melakukan percobaan bunuh diri karena sudah tidak kuat dengan perlakuan ibunya. Sehingga Jesslyn memutuskan untuk keluar dari rumah dan hidup mandiri (pada Oktober 2025)," tutur Evan.

Pada saat itu, Jesslyn didampingi Evan dan kuasa hukumnya melaporkan dugaan kekerasan yang dialaminya ke Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) DKI Jakarta serta Komnas Perempuan.

Namun, menurut Evan, laporan tersebut tidak berlanjut dan Jesslyn hanya memperoleh layanan konsultasi psikologis.

Evan berharap Jesslyn dapat kembali memperoleh kebebasannya sebagai perempuan dewasa.

"Saya hanya memperjuangkan hak asasi manusia atas Jesslyn, dan hak Jesslyn sebagai perempuan dewasa yang sudah berumur 32 tahun, agar Jesslyn ini bisa hidup seperti layaknya manusia normal, manusia dewasa hidup di negara Indonesia," harap Evan.

Calon Suami Jesslyn Minta Polisi Usut

Meski kini Jesslyn berada bersama keluarganya, Evan dan kuasa hukumnya, Andi Darti, meminta kepolisian tetap mengusut dugaan tindak pidana yang terjadi saat penjemputan paksa.

Andi mengatakan, berdasarkan keterangan yang diterimanya, Jesslyn sempat melawan dan meminta pertolongan ketika dibawa dari restoran.

"Ketika Jesslyn meminta tolong, tidak ada yang menolong. Ketika Jesslyn akan meronta untuk keluar dari mobil pun, tubuhnya didorong kembali ke dalam mobil dan Jesslyn dibawa paksa ke Semarang," kata Andi.

Menurut Andi, dugaan tindak pidana tetap harus diproses meski belakangan Jesslyn disebut berada bersama keluarganya atas kemauan sendiri.

"Perlu kami tegaskan di sini bahwa tindak pidana yang terjadi pada tanggal 13 Juli 2026, dan kalaupun saat ini Jesslyn ternyata setuju bersama dengan orang tuanya, itu tidak menghapuskan atau menggugurkan tindak pidana yang terjadi sebelumnya," ujar Andi.

Drama Berakhir, Polisi Sebut Bukan Penculikan

Setelah melakukan penyelidikan selama hampir dua pekan, Polres Metro Jakarta Pusat menyimpulkan tidak ada unsur penculikan maupun tindak pidana dalam peristiwa tersebut. 

Kesimpulan itu diambil setelah penyidik berkomunikasi langsung dengan Jesslyn melalui panggilan video saat ia berada di Bangkok, Thailand. 

Di balik berakhirnya penyelidikan itu, kisah asmara Jesslyn dengan calon suaminya, Evan (37), juga dipastikan kandas, dilansir dari Kompas.com

Polisi Hentikan Penyelidikan 

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra mengatakan, dalam panggilan video tersebut Jesslyn menegaskan kepergiannya ke luar negeri dilakukan atas kemauan sendiri, bukan karena menjadi korban penculikan. 

"Benar, bukan kasus penculikan. Saat ini yang bersangkutan sedang berada di luar negeri atas kemauannya sendiri. Dan itu disampaikan langsung oleh Jesslyn," ungkap Roby saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Minggu (2/8/2026). 

Karena tidak ditemukan adanya unsur tindak pidana, polisi memutuskan menghentikan penyelidikan kasus tersebut.

(*)

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com   

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.