TRIBUNBENGKULU.COM – Sejak menerima mandat negara pada 1999 di masa Presiden ke-3 Republik Indonesia, PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM mengemban tugas yang tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga sosial, yakni menyalakan harapan bagi pelaku usaha kecil yang tumbuh jauh dari pusat perhatian.
Mandat tersebut terus dijaga melintasi berbagai periode kepemimpinan hingga pemerintahan Presiden ke-8 Republik Indonesia.
Dari kota hingga tepian negeri, dari jalan utama hingga gang-gang sempit dan desa yang jauh dari keramaian, PNM terus memperluas jangkauan layanan agar kehadiran negara dapat dirasakan masyarakat di berbagai pelosok Indonesia.
Melalui program Membina Ekonomi Keluarga Prasejahtera (Mekaar), negara hadir dengan cara yang lebih dekat dan mudah dijangkau. Kehadirannya terasa melalui pertemuan sederhana, percakapan di teras rumah, hingga pendampingan yang menemani perempuan prasejahtera mengembangkan usahanya.
Modal mungkin menjadi awal, tetapi kepercayaan dan keberanian menjadi fondasi yang menumbuhkan perubahan. Dari tangan para perempuan, usaha ultra mikro berkembang, kebutuhan keluarga tetap terpenuhi, dan masa depan anak-anak mulai menemukan harapan baru.
Baca juga: PNM dan Danantara Bangun Ketahanan Keuangan Keluarga Prasejahtera untuk Generasi Masa Depan
Semangat tersebut terus dirawat PT Permodalan Nasional Madani (Persero). Bersama Danantara Indonesia, PNM memperluas berbagai inisiatif pemberdayaan yang memberikan dampak nyata bagi jutaan keluarga prasejahtera, sejalan dengan pemikiran Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, yang mendorong BUMN untuk tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas.
"BUMN didorong tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi keberlanjutan sosial dan lingkungan,” terang Dony.
Direktur Utama PNM, Kindaris, mengatakan perjalanan panjang PNM dalam memperkuat pembiayaan dan pemberdayaan tidak terlepas dari keteguhan para nasabah yang terus berjuang di tengah berbagai keterbatasan.
“PNM membersamai sebagian kecil dari perjalanan mereka. Kekuatan sesungguhnya ada pada para ibu yang setiap hari memilih untuk bangkit, bekerja, dan menjaga harapan keluarganya. Tugas kami adalah memastikan mereka tidak berjalan sendiri dan terus memiliki ruang untuk bertumbuh,” ujarnya.
Langkah tersebut sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang mendorong pemerataan pembangunan, penguatan ekonomi rakyat, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Melalui pemberdayaan perempuan pelaku usaha ultra mikro hingga wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), PNM turut menjembatani cita-cita besar negara dengan kehidupan masyarakat di tingkat akar rumput.
Bagi PNM, pembangunan yang bermakna tidak hanya diukur dari megahnya infrastruktur, tetapi juga dari semakin banyaknya keluarga yang mampu berdiri teguh melalui usaha yang mereka bangun sendiri.
Di wilayah 3T dan pelosok negeri, kehadiran layanan tidak selalu diwujudkan dalam sesuatu yang besar. Terkadang, kehadiran itu hadir melalui langkah sederhana yang menempuh perjalanan panjang, menyusuri jalan yang tidak mudah, lalu duduk bersama masyarakat untuk mendengar dan memahami kebutuhan mereka.
Melalui PNM Mekaar, negara berupaya hadir dengan cara yang paling nyata, yakni membuka akses, menjaga harapan, dan mendampingi perempuan-perempuan tangguh agar terus bertumbuh dari tempat mereka berpijak. Sebab, setiap sudut Indonesia, sejauh apa pun letaknya, berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk maju.
Baca juga: PNM Serap Lebih dari 70 Ribu Tenaga Kerja, Mayoritas Lulusan SMA/SMK