Gianni Infantino berpaling ke pemerintahan Trump dalam upaya putus asa menyelamatkan kursi presiden FIFA di tengah skandal penjualan Piala Dunia
Cengkeraman Gianni Infantino atas jabatan presiden FIFA tampak mulai melemah ketika administrator Swiss-Italia itu berupaya mencari penyelamat dari pemerintah Amerika Serikat. Setelah rencana kontroversial untuk menjual hak komersial Piala Dunia runtuh, Infantino dilaporkan tengah mengupayakan intervensi politik tingkat tinggi demi mengamankan masa depan profesionalnya.
Pembicaraan diplomatik mendesak dijadwalkan dengan Rubio
Infantino dilaporkan sedang menjangkau pemerintahan Trump dalam upaya berisiko tinggi untuk mempertahankan posisinya di pucuk pimpinan sepak bola dunia. Sumber yang mengetahui situasi tersebut mengonfirmasi kepada New York Post bahwa Infantino telah menjadwalkan pembicaraan pribadi dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio pada Senin pagi, ketika tekanan agar ia mundur terus meningkat setelah upaya yang berujung bencana untuk memprivatisasi aset komersial Piala Dunia.
Langkah itu muncul ketika Infantino merasa semakin terisolasi di dunia olahraga, terutama setelah hubungan dekatnya dengan Presiden Donald Trump tampak mendingin secara signifikan. Terlepas dari usahanya membangun kedekatan dengan Presiden Amerika Serikat menjelang Piala Dunia 2026, orang dalam mengklaim bahwa panglima tertinggi saat ini tidak bersedia menerima panggilannya. Seorang sumber kedua menyebut bos FIFA itu merasa “terisolasi” oleh gelombang terbaru pemberitaan media yang negatif dan secara aktif “mencari sekutu penting untuk secara terbuka mendukungnya.”
Kesepakatan Kushner senilai $20 miliar yang gagal
Pemicu krisis yang belum pernah terjadi ini adalah terungkapnya rencana rahasia untuk membentuk anak perusahaan bernama FIFA Forward Enterprise. Entitas ini akan mengelola hak komersial turnamen paling bergengsi dalam olahraga tersebut, dengan Thrive Capital milik Josh Kushner siap mengambil 20 persen saham dengan nilai sekitar $4 miliar. Total valuasi kesepakatan itu diperkirakan mencapai $20 miliar, tetapi proposal tersebut langsung memicu kemarahan luas dari federasi-federasi nasional. Banyak petinggi sepak bola mengaku dibiarkan tidak mengetahui apa pun, dan baru mengetahui potensi penjualan itu melalui laporan media.
Gesekan internal telah mencapai titik didih, dengan para pejabat senior FIFA mengungkapkan rasa dikhianati. Kevin Lamour, kepala petugas operasional FIFA, secara terbuka menyuarakan frustrasinya setelah negosiasi itu gagal. Lamour mengatakan kepada Associated Press pada Jumat bahwa ia merasa “ditipu” oleh tindakan Infantino, seraya menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak mengetahui pembicaraan rahasia yang melibatkan perusahaan ekuitas swasta tersebut. Perpecahan internal ini dilaporkan telah memicu terbentuknya gerakan yang dijuluki “Project Kill The Monster,” sebuah inisiatif para eksekutif FIFA yang secara khusus bertujuan menyingkirkan Infantino dari kursi presiden.
Boikot yang dipimpin UEFA dan pemberontakan Eropa
Pukulan paling besar terhadap otoritas Infantino datang dari UEFA, badan pengatur sepak bola Eropa. Pada 30 Juli, anggota UEFA memberikan suara bulat untuk memboikot seluruh kompetisi yang diselenggarakan FIFA, termasuk Piala Dunia putra 2030. Keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini merupakan respons langsung terhadap usulan kesepakatan $20 miliar tersebut, dan hal itu menciptakan mimpi buruk logistik serta politik bagi FIFA. Turnamen 2030 dijadwalkan digelar di Spanyol, Portugal, dan Maroko, yang berarti boikot itu dapat memunculkan skenario ganjil ketika dua negara tuan rumah menolak berpartisipasi dalam kompetisi mereka sendiri.
Situasi yang hampir mirip dengan era Blatter
Ketika tekanan semakin mengepung, ketergantungan Infantino pada figur politik Amerika Serikat menegaskan betapa serius situasi yang dihadapinya. Panggilannya yang dijadwalkan dengan Rubio dipandang banyak pihak sebagai upaya terakhir untuk menemukan pelindung kuat dari luar dunia sepak bola. Namun, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dan FIFA masih belum memberikan komentar resmi mengenai sifat pembicaraan tersebut. Administrator Swiss-Italia yang mengambil alih FIFA setelah skandal korupsi yang mengakhiri kekuasaan Sepp Blatter itu kini mendapati dirinya menghadapi ancaman eksistensial terhadap kariernya yang serupa.