TRIBUN-TIMUR.COM, PINRANG - Salah satu warung kopi direkomendasikan dikunjungi di Pinrang ialah Warkop Cikiang.
Warkop Cikiang berada di Jalan Poros Pinrang-Polman atau Jalan Sultan Hasanuddin, Kelurahan Sawitto, Kecamatan Watang Sawitto, Pinrang.
Pendirinya adalah Thamfi Min atau kerap disapa Pimming.
Thamfi Min merupakan tokoh Tionghoa.
Menu khas dari Warkop ini ialah kopi tradisional dan roti kaya.
Pengunjung dapat memesan kopi susu dan hitam pendampingnya adalah roti kaya.
Thamfi Min sudah berada di Pinrang dan mendirikan usahanya jauh sebelum Indonesia merdeka (sebelum tahun 1945).
Baca juga: Tangis Bahagia Warga Tanratuo Pinrang, Puluhan Tahun Pakai Air Keruh Kini Dibantu Sumur Bor TMMD
Thamfi Min merintis warung kopi Cikiang yang awalnya dikenal masyarakat setempat sebagai warkop Pimming sebelum tahun 1945 atau era kolonial.
Masuk di Tahun 1950-an, Thamfi Min menyerahkan dan mewariskan pengelolaan warkop tersebut kepada anaknya yang bernama Cikiang.
Cikiang merupakan generasi kedua dalam mengurus warkop tersebut.
Tahun 2007 hingga sekarang, Nama tempatnya diresmikan menjadi Warkop Cikiang oleh generasi ketiga yakni Nilawati Thamrin (cucu dari Thamfi Min).
Sosok Meme Nilawati Thamrin kini berdiri kokoh menjaga warisan usaha kuliner milik keluarganya tersebut.
Perempuan yang akrab disapa Meme itu merupakan pengelola sekaligus penerus generasi ketiga Warkop Cikiang.
"Sejarah awalnya saya kurang tahu, cuma yang saya tahu saya meneruskan saja," ujar Meme Nilawati ditemui Tribun-Timur.com, Senin (3/8/2026).
Nilawati menyebutkan, usaha warung kopi ini dirintis pertama kali oleh kakeknya bernama Thamfi Min.
Pimming meletakkan batu pertama tradisi racikan kopi keluarga sebelum akhirnya diturunkan kepada Cikiang.
Cikiang merupakan ayah dari Mimi Nilawati menjadi pengelola generasi kedua usaha kopi ternama di Bumi Lasinrang ini.
Nilawati mengenang sosok kakeknya sebagai pribadi yang sangat tegas dan disiplin mendidik cucu-cucunya.
"Waktu kecil saya takut sama kakek saya karena didikannya keras dan disiplin," kenang Nilawati.
Ketegasan Pimming bahkan terasa saat mengajari Nilawati kecil belajar menulis menggunakan tangan kanan.
"Dulu saya kalau menulis kidal, jadi setiap saya pakai tangan kiri pasti dipukul pakai lidi," ungkapnya.
Selain gigih membangun warung kopi, Pimming juga dikenal sebagai pesepak bola tangguh di Pinrang.
Sang kakek tercatat pernah menjadi bagian dari skuat Persatuan Sepak Bola Pinrang atau Perspin.
"Dia dulu pemain sepak bola Pinrang, Perspin namanya, sambil membuka usaha warkop," cerita Mimi Nilawati.
Reputasi cita rasa kopi Cikiang menarik perhatian pelbagai tokoh penting dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan dan Barat.
Tokoh nasional seperti Syahrul Yasin Limpo hingga pejabat kepolisian berlangganan menikmati racikan kopi tersebut.
"Ada Pak Syahrul, Pak Kapolres Edy Sabhara Manggabarani, Mantan Wakapolri Komjen Pol Yusuf Manggabarani yang selalu singgah di sini bahkan tokoh penting dari Sulawesi Barat juga singgah disini sebelum ke Makassar," kata Meme Nilawati mengingat pelanggan pentingnya.
Kunci keharmonisan keluarga Meme Nilawati di tanah Bugis terletak pada nilai kebersamaan yang diajarkan ayahnya.
"Bapak saya bilang jangan membeda-bedakan, tapi tetap harus tahu diri bahwa kita orang China," ucapnya.
Konsistensi rasa dan standar kebersihan tinggi menjadi rahasia utama Warkop Cikiang bertahan puluhan tahun.
"Kompornya juga harus selalu menyala supaya kopi tetap panas karena pengunjung bisa datang kapan saja," tuturnya.
Dedikasi Warkop Cikiang bahkan meraih penghargaan khusus dari Bupati Pinrang Andi Iwan pada periode pertama.
Penghargaan itu diberikan pada HUT Pinrang ke-60 di Tahun 2020 sebagai Warkop terfavorit.
Saat ini tantangan terbesar yang dihadapi Meme Nilawati hanyalah masalah keterbatasan tenaga kerja atau pegawai.
"Tantangannya kalau kurang pegawai," jelas perempuan pemilik satu anak laki-laki tersebut.
Meme Nilawati menaruh harapan besar agar usaha legendaris keluarga ini diteruskan oleh anak tunggalnya.
"Saya berharap anak saya bisa melanjutkan," tutup Mimi memungkas kenangannya bersama Warkop Cikiang.
Siapa Nilawati Thamrin?
Nilawati Thamrin (atau akrab disapa Meme) adalah seorang pengusaha kuliner tradisional asal Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, yang saat ini menginjak usia sekitar 56 tahun.
Ia memiliki satu orang anak, atau anak tunggal seorang laki-laki.
Ia dikenal luas sebagai sosok penting di balik kelestarian salah satu warung kopi paling legendaris dan bersejarah di daerah tersebut.
Sebagai pemegang tongkat estafet bisnis keluarga, Meme Nilawati mendedikasikan dirinya untuk menjaga eksistensi kedai kopi yang telah menjadi bagian dari identitas kuliner lokal.
Dalam silsilah keluarga pendiri, Meme merupakan pemilik sekaligus pengelola generasi ketiga Warkop Cikiang.
Usaha ini awalnya dirintis oleh kakeknya yang bernama Pimming pada era sebelum kemerdekaan Indonesia, tepatnya tahun 1945, dengan nama Warkop Pimming.
Kepengurusan kedai kemudian diwariskan kepada orang tua Meme, yaitu Cikiang dan istrinya, The Ai Tho, pada tahun 1950-an sebelum akhirnya resmi menggunakan nama Warkop Cikiang pada tahun 2007.
Sebagai pemimpin generasi ketiga, Meme memegang tanggung jawab besar dalam menjaga otentisitas rasa yang telah bertahan lebih dari tujuh dekade.
Ia mengawasi langsung pembuatan menu andalan yang menjadi daya tarik utama para pelanggan setianya, mulai dari racikan kopi hitam tradisional yang unik hingga selai srikaya rumahan (Roti Kaya) yang resepnya tidak pernah berubah sejak pertama kali kedai didirikan.
Di bawah kendali manajemennya, Warkop Cikiang secara konsisten menerapkan kebijakan yang sangat ketat untuk tidak membuka cabang di tempat lain.
Keputusan ini diambil oleh Meme demi mengontrol kualitas bahan baku secara terpusat dan memastikan keaslian rasa tetap terjaga langsung dari dapur utamanya.
Kebijakan ini justru membuat kedai satu-satunya yang berlokasi di Kecamatan Watang Sawitto tersebut selalu ramai dikunjungi oleh pencinta kopi lintas generasi.
Meskipun statusnya sebagai figur publik di dunia kuliner Pinrang sangat kuat, Meme memilih untuk menjaga kehidupan pribadinya tetap tertutup dari konsumsi media.
Informasi mengenai latar belakang pendidikan formal, nama suami, hingga jumlah anak sengaja tidak dipublikasikan demi menjaga privasi dan ketenangan rumah tangganya.
Ia lebih memilih untuk dikenal masyarakat murni melalui dedikasi dan kerja kerasnya dalam merawat warisan budaya kopi legendaris di Sulawesi Selatan.