SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan masih tergolong tinggi memasuki puncak musim kemarau 2026.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Sumsel hingga Selasa (4/8/2026), tercatat sebanyak 781 kejadian karhutla sejak 1 Januari hingga 3 Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, luas lahan terdampak diperkirakan mencapai 664,87 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sumsel, Muhammad Iqbal Alisyahbana, mengatakan seluruh personel gabungan tetap disiagakan untuk mengantisipasi meningkatnya potensi karhutla selama musim kemarau.
"Potensi karhutla di Sumatera Selatan masih cukup tinggi. Karena itu kami terus meningkatkan patroli, pemantauan hotspot, pemadaman darat dan udara, serta mengajak seluruh masyarakat ikut berperan aktif mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan," ujar Iqbal, Selasa (4/8/2026).
Menurutnya, upaya penanganan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan, terutama dengan tidak membuka lahan menggunakan api.
113 Titik Panas Terdeteksi
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) Kementerian Kehutanan per 4 Agustus 2026, terdapat 113 titik panas (hotspot) di Sumatera Selatan.
Sebaran hotspot meliputi:
BPBD Sumsel juga mengungkapkan berdasarkan Fire Danger Rating System (FDRS) BMKG, sebagian besar wilayah Sumatera Selatan berada pada kategori Very High atau sangat mudah terjadi kebakaran, terutama pada lapisan atas permukaan tanah.
Kondisi tersebut diperparah oleh luasnya kawasan rawan karhutla, sulitnya akses menuju lokasi kebakaran, keterbatasan sumber air, potensi kebakaran berulang, kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar, serta angin kencang saat musim kemarau.
11.567 Personel dan 7 Armada Udara Disiagakan
Untuk menghadapi ancaman karhutla, BPBD Sumsel bersama instansi terkait telah menyiapkan 11.567 personel gabungan yang berasal dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, Lanud Sultan Mahmud Badaruddin II, Polhut, Satpol PP, Kelompok Tani Peduli Api (KTPA), Masyarakat Peduli Api (MPA), perusahaan perkebunan, hingga perusahaan hutan tanaman industri (HTI).
Selain personel darat, dukungan udara juga telah disiapkan berupa:
Seluruh armada ditempatkan di Lanud Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang agar dapat bergerak cepat apabila terjadi kebakaran.
Iqbal menambahkan, pemantauan ASEAN Specialized Meteorological Centre (ASMC) pada 3 Agustus 2026 menunjukkan adanya asap kategori sedang (Moderate Haze) di sebagian wilayah Banyuasin, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir (OKI), dan Musi Banyuasin.
Sementara kualitas udara berdasarkan konsentrasi PM2.5 masih berada pada kategori sedang di Ogan Ilir, Prabumulih, Musi Banyuasin, Muara Enim, Musi Rawas, dan Lahat.
Ia kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.
"Karhutla adalah tanggung jawab kita bersama. Pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk melindungi lingkungan, kesehatan masyarakat, serta menjaga keberlanjutan hutan dan lahan di Sumatera Selatan," tegasnya.