TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Setiap desa memiliki cerita sejarah yang menjadi identitas dan warisan bagi masyarakatnya.
Salah satunya adalah Desa Mrisen di Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yang memiliki kisah menarik di balik asal-usul namanya.
Lokasi Desa Mrisen ini berjarak 21,3 kilometer dari Pusat Kota Solo, bisa ditempuh kurang lebih 41 menit kendaraan pribadi.
Baca juga: Asal-usul Nama Desa Gemampir Klaten, Desa Agraris yang Menyimpan Jejak Sejarah Kuno
Nama Mrisen dipercaya berasal dari perpaduan dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu “Mri” yang memiliki arti mriki atau “di sini”, serta “Sen” yang merujuk pada mata uang sen yang digunakan masyarakat pada masa sebelum hadirnya rupiah.
Dari perpaduan tersebut, muncul pemaknaan bahwa Mrisen dahulu dikenal sebagai wilayah yang banyak dihuni saudagar atau masyarakat berkecukupan yang telah memiliki uang sen.
Konon, masyarakat dari daerah sekitar yang membutuhkan atau ingin menukar mata uang sen dapat datang ke wilayah tersebut. Ungkapan “mriki sen” atau “di sini ada sen” kemudian dipercaya menjadi asal mula penyebutan nama Mrisen.
Sebelum menjadi satu wilayah administrasi seperti sekarang, Desa Mrisen awalnya terdiri dari dua desa atau kelurahan yang masing-masing dipimpin oleh kepala desa atau lurah.
Dua wilayah tersebut yakni:
Seiring perkembangan pemerintahan dan penataan wilayah oleh Pemerintah Kabupaten Klaten, kedua desa tersebut kemudian digabung menjadi satu wilayah dengan nama Desa Mrisen, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten.
Desa Mrisen hingga kini tercatat dengan Nomor Kode Desa 33.10.14.2014.
Baca juga: Asal-usul Nama Desa Bolopleret Klaten : Berawal dari Bendungan Air dan Makna Persahabatan Warga
Desa Mrisen berada di Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, dan terbagi menjadi 14 dusun.
Dusun-dusun tersebut meliputi:
Secara geografis, Desa Mrisen memiliki batas wilayah:
Sebelah utara berbatasan dengan Desa Tlobong dan Desa Pundungan.
Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Butuhan dan Desa Trasan.
Sebelah timur berbatasan dengan Desa Jaten.
Sebelah barat berbatasan dengan Desa Sabrang dan Desa Karang.
Dengan wilayah yang berada di kawasan pedesaan Juwiring, Mrisen berkembang sebagai desa dengan kehidupan masyarakat yang masih mempertahankan nilai gotong royong dan budaya Jawa.
Selain memiliki sejarah nama yang unik, Desa Mrisen juga mencatat sejumlah prestasi dalam pembangunan desa.
Salah satunya adalah keberhasilan meraih penghargaan sebagai Desa Layak Anak (DLA) Kategori Nindya.
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas komitmen Pemerintah Desa Mrisen dalam menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak.
Predikat Nindya menunjukkan bahwa Desa Mrisen telah memenuhi berbagai indikator pemenuhan hak anak dan perlindungan khusus anak secara berkelanjutan.
Capaian tersebut diraih setelah desa menjalankan berbagai program yang mendukung kesejahteraan anak, mulai dari penyediaan lingkungan ramah anak hingga penguatan peran masyarakat dalam perlindungan anak.
Pemerintah Desa Mrisen menyatakan pencapaian tersebut bukan menjadi akhir, melainkan menjadi motivasi untuk terus meningkatkan fasilitas dan inovasi agar dapat mencapai kategori tertinggi Desa Layak Anak.
Baca juga: Asal-usul Nama Desa Bonyokan di Klaten, Terdengar Nyeleneh tapi Menyimpan Kisah Korban Perang
Selain memiliki nilai sejarah dan prestasi pembangunan, Desa Mrisen juga berada tidak jauh dari sejumlah destinasi wisata menarik di kawasan Juwiring dan sekitarnya.
Beberapa pilihan wisata yang dapat dikunjungi antara lain:
Omah Trasan merupakan tempat wisata edukasi dan budaya yang menghadirkan suasana rumah tradisional Jawa.
Berlokasi di Desa Trasan, Kecamatan Juwiring, tempat ini menawarkan pengalaman mengenal budaya Jawa dalam suasana pedesaan yang asri.
Jaraknya dari Desa Mrisen sekitar 3–5 kilometer.
Desa Wisata Payung Tanjung menjadi salah satu ikon kerajinan khas Juwiring.
Di tempat ini, pengunjung dapat melihat proses pembuatan payung tradisional sekaligus menikmati seni lukis payung yang menjadi ciri khas daerah tersebut.
Wisata ini cocok bagi pengunjung yang ingin mengenal kreativitas dan budaya lokal.
Taman Bersinar Bagor menawarkan suasana wisata pedesaan dengan berbagai spot foto menarik.
Salah satu daya tariknya adalah hamparan bunga refugia yang memberikan pemandangan warna-warni di tengah area persawahan.
Tempat ini menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana santai dan berfoto di ruang terbuka.
(*)