Seorang penumpang menggugat Singapore Airlines karena mengaku menelan serpihan tusuk sate saat makan menu pesawat. Begini kronologinya.
Sebuah kasus yang melibatkan makanan dalam penerbangan menarik perhatian publik. Peristiwa tersebut bahkan berlanjut ke jalur hukum karena diduga menyebabkan cedera serius.
Dilansir dari Mothership, (3/8/2026), seorang penumpang mengajukan gugatan terhadap maskapai setelah mengalami insiden saat menyantap hidangan yang disajikan di kabin. Kasus ini kini tengah diproses di pengadilan.
Wanita bernama Briohny Smyth menggugat Singapore Airlines di pengadilan federal Amerika Serikat. Gugatan itu diajukan setelah insiden yang terjadi dalam penerbangan pada Juli 2024.
Saat itu, Smyth terbang dengan penerbangan SQ36 rute Singapura menuju Los Angeles. Ia duduk di kelas bisnis dan menerima hidangan sate ayam sebagai menu makannya.
Seorang penumpang maskapai Singapore Airline mengajukan tuntutan. Foto: Reuters
|
Menurut dokumen gugatan, serpihan kayu dari tusuk sate diduga patah saat dimakan. Potongan sepanjang sekitar 3,8 centimeter itu disebut tersangkut di tenggorokannya.
Akibat kejadian tersebut, Smyth mengalami batuk hebat dan sensasi tersedak. Ia juga merasakan nyeri yang cukup parah ketika berusaha mengeluarkan serpihan kayu itu.
Setelah penerbangan berakhir, keluhan pada tenggorokannya tidak kunjung hilang. Ia mengaku mengalami suara serak, cepat lelah saat berbicara, hingga nyeri ketika bernyanyi.
Pemeriksaan oleh dokter spesialis THT disebut menemukan trauma dan jaringan parut pada pita suara. Temuan itu dinilai konsisten dengan cedera akibat benda asing yang tajam.
Smyth mengaku mengalami cedera gegara tusuk sate yang disajikan pada makanan di dalam pesawat. Foto: Instagram
|
Smyth mengaku harus menjalani pemeriksaan dan perawatan lanjutan. Kondisi tersebut disebut memengaruhi aktivitas sehari-hari yang bergantung pada kualitas suaranya.
Perempuan berusia 44 tahun itu diketahui pernah menjadi penyanyi cilik populer di Thailand. Kini ia juga bekerja sebagai pelatih kebugaran, instruktur yoga, dan pembicara publik.
Dalam gugatan, Smyth menyatakan mata pencahariannya sangat bergantung pada kemampuan vokal. Karena itu, cedera pada pita suara disebut menimbulkan kerugian yang besar.
Ia meminta persidangan dengan juri serta menuntut ganti rugi. Tuntutan mencakup biaya pengobatan, kehilangan pendapatan, dan kerugian lain yang akan ditentukan pengadilan.
Singapore Airlines belum memberikan tanggapan rinci terkait perkara tersebut. Maskapai menyatakan tidak dapat mengomentari kasus yang masih dalam proses hukum.







