TRIBUNSTYLE.COM - IRGC mengklaim berhasil menggunakan sistem rudal pertahanan udara terbaru untuk menembak jatuh drone pengintai MQ-9 milik Amerika Serikat (AS) di kawasan Selat Hormuz.
Mengutip Al Mayadeen pada (4/8/2026), klaim tersebut disampaikan IRGC melalui pengumuman resminya pada Senin (3/8/2026) waktu setempat.
Melalui operasi tersebut, IRGC kembali menunjukkan kekuatan militernya di wilayah perairan strategis yang berbatasan langsung dengan jalur pelayaran internasional.
Dalam pernyataannya, IRGC menyebut drone pengintai MQ-9 milik AS berhasil ditembak jatuh saat berada di ruang udara Selat Hormuz.
Insiden itu sekaligus menjadi ajang bagi Iran untuk memperlihatkan kemampuan sistem pertahanan udara terbaru yang kini telah dioperasikan oleh IRGC.
Menurut IRGC, drone pengintai bernilai tinggi milik Amerika Serikat tidak mampu menghindari serangan setelah menjadi sasaran sistem persenjataan terbaru mereka.
Baca juga: Perbatasan Memanas! Bongkar Jaringan Mossad & CIA, Pasukan Khusus Iran Lancarkan 14 Operasi di Irak
Peristiwa ini terjadi ketika hubungan antara Teheran dan Washington kembali memanas.
Ketegangan kedua negara meningkat setelah kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya dicapai pada (18/6) berakhir.
Presiden AS Donald Trump kemudian membatalkan gencatan senjata, yang diikuti dengan serangkaian serangan militer Amerika Serikat ke wilayah Iran.
Komando Pusat AS menyatakan operasi militer itu dilakukan sebagai respons terhadap ancaman Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.
Namun, Iran membantah tuduhan AS dan mengecam langkah yang diambil Washington.
Pemerintah Iran menilai Amerika Serikat telah mengingkari komitmen perdamaian dan terus melakukan tindakan agresif terhadap Republik Islam.
Keberhasilan menembak jatuh drone MQ-9 itu pun disebut menjadi pesan tegas dari Iran bahwa setiap pelanggaran wilayah udaranya akan mendapat respons keras.
Sebelumnya, Iran juga sempat memperkenalkan drone bunuh diri (kamikaze) Hadid 110 versi terbaru.
Drone ini diklaim mengalami peningkatan kemampuan berkat penggunaan mesin turbojet, kecepatan yang lebih tinggi, serta teknologi siluman yang membuatnya lebih sulit dideteksi sistem pertahanan udara lawan, termasuk milik Amerika Serikat.
Kemampuan baru itu disebut sebagai bagian dari perkembangan teknologi militer Iran di tengah meningkatnya tensi keamanan di kawasan Timur Tengah.
Dilansir dari Telegraph.co.uk pada Kamis (30/7/2026), Hadid 110 bermesin turbojet dilaporkan mulai digunakan dalam dua pekan terakhir.
Baca juga: Trump Dituding Sembunyikan Fakta Konflik AS-Iran Lewat Sidang Rahasia, Serangan dari Dalam Negeri?
Hadid 110 dikerahkan dalam operasi yang menargetkan pangkalan militer dan kapal perang Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Dibandingkan versi sebelumnya, Hadid 110 membawa sejumlah pembaruan kemampuan.
Salah satu peningkatan utamanya adalah penggunaan mesin turbojet yang memungkinkan drone melaju dengan kecepatan sekitar 508 kilometer per jam.
Saat diluncurkan, drone terlebih dahulu didorong menggunakan booster berbahan bakar padat hingga mencapai kecepatan dan ketinggian tertentu.
Setelah itu, mesin turbojet mulai bekerja sehingga pesawat tanpa awak itu dapat melesat menuju sasaran dengan kecepatan lebih tinggi.
Selain memiliki kecepatan yang lebih baik, Hadid 110 juga dirancang untuk terbang pada ketinggian rendah.
Kemampuan tersebut membuat drone lebih sulit dideteksi radar maupun sistem pertahanan udara lawan.
Drone kamikaze itu mampu membawa hulu ledak seberat sekitar 30 kilogram.
Dalam satu kali misi, Hadid 110 memiliki jangkauan hingga sekitar 354 kilometer dengan waktu operasi mencapai satu jam.
Dengan berbagai peningkatan tersebut, Hadid 110 versi terbaru menjadi salah satu sistem persenjataan paling modern yang saat ini dimiliki Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Penggunaan perdananya dinilai menunjukkan upaya Iran untuk terus memperkuat kemampuan teknologi militernya di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. (Tribun Style/Tribun Video)