Khawatir Waduk di Indonesia Kering Akibat El Nino, BMKG Rencanakan Modifikasi Cuaca
Robertus Didik Budiawan Cahyono August 04, 2026 04:19 PM

Tribunlampung.co.id, Jakarta - Sejumlah lokasi yang menjadi tempat penampungan air dikhawatirkan kering imbas fenomena cuaca ekstrem El Nino yang melanda Indonesia.

Beberapa tempat yang menjadi penampungan air itu seperti waduk atau danau buatan manusia yang dibuat dengan membendung aliran sungai, menggali tanah, atau memanfaatkan area lembah untuk menampung cadangan air dalam jumlah besar.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkap kekhawatiran itu karena saat ini El Nino dengan fase kuat dan lebih kering sedang menerpa sebagian besar wilayah Indonesia bagian Selatan.

Dampak fenomena cuaca ekstrem El Nino, curah hujan menjadi sangat rendah. Oleh karena itu, BMKG memastikan akan melakukan modifikasi cuaca dalam upaya memitigasi terjadinya kekeringan yang meluas dan berkepanjangan.

"Iya, tentu saja dampaknya adalah berkurangnya curah hujan, dampak langsungnya. Berkurangnya curah hujan itu mengakibatkan pasokan air yang masuk waduk-waduk di Indonesia berkurang," kata Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Rihandoko Seto saat jumpa pers di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa (4/8/2026) dikutip dari Tribunnews.com.

Seto menyebut, pihaknya telah menjalin koordinasi dengan stakeholder dan kementerian terkait untuk melakuka modifikasi cuaca sebagai bagian dari upaya merespons fenomena ini.

Adapun modifikasi cuaca yang dilakukan oleh pemerintah yakni dengan tetap membuat sebagian wilayah masuk dalam musim hujan, agar waduk-waduk yang ada bisa tetap terisi air.

"Oleh karena itu BMKG bekerjasama dengan para stakeholder, dengan pengelola waduk, Kementerian PU dan sebagainya melaksanakan operasi modifikasi cuaca untuk menambah pasokan air waduk. Paduk ini bisa untuk hutan air bakau, untuk pertanian, untuk energi PLTA," ucap dia.

Lebih jauh, BMKG juga kata dia, turut menerapkan modifikasi cuaca di kawasan hutan gambut guna menghindari terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang potensinya meningkat saat musim kemarau.

Harapannya kata dia, dengan dilakukannya modifikasi cuaca maka sebagian besar lahan gambut akan tetap lembab dan berair agar kebakaran minim terjadi.

"Untuk mitigasi itu juga dilakukan operasi modifikasi cuaca dengan metode pembasahan lahan-lahan gambut. Supaya apa? Gambut tetap basah, gambut sulit dibakar, apalagi sulit terbakar. Jadi itu yang sudah kita lakukan," tutur Seto.

Meski begitu, BMKG mengakui melakukan modifikasi cuaca di masa El Nino di fase saat ini tidaklah mudah.

Sebab kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, kondisi awan yang biasa dijadikan serapan untuk menyemai menjadi lebih sedikit.

Sehingga pihaknya bersama dengan BNPB melakukan beragam kemungkinan guna meminimalisir dampak dari apabila terjadinya kebakaran hutan.

"Kalau kurang dari 1 meter, maka BMKG kerja sama dengan BNPB itu melakukan operasi modifikasi cuaca untuk menaikkan muka air, menjemukkan tanah, sehingga lebih sulit untuk terbakar. Kemudian apabila tidak bisa dipadamkan, karena awannya juga tidak bisa kita semai, karena masuk musim kemarau, awannya lebih sedikit maka nanti BNPB mengkoordinir pelaksanaan pemadaman, dengan water booming, dengan penyemprotan," kata dia.

Potensi El Nino Masuk Fase Sangat Kuat 

Kata Faisal, sejak bulan Juni 2026 kemarin, kondisi cuaca El Nino di Indonesia sudah mulai masuk dalam fase kuat. Dimana, fase ini menjadikan sebagian besar wilayah selatan Indonesia menjadi sangat kering.

"Sejalan dengan waktu pada 2 Juni 2026, WMO (World Meteorological Organization) menetapkan El Nino aktif dan kemudian sampai saat ini di periode Mei, Juni, Juli, analisis menunjukkan bahwa El Nino sudah pada posisi kuat, dalam kondisi yang kuat," kata Faisal.

Meski begitu, Faisal menyebut, dengan data yang dimiliki pihaknya, peningkatan suhu udara lebih kering masih akan terjadi di bulan Agustus hingga September ini.

Bahkan kata dia, terjadinya El Nino dengan fase sangat kuat besar kemungkinannya terjadi di kurun waktu dua bulan ini.

Dengan begitu, dirinya mengingatkan agar seluruh pihak termasuk masyarakat bersiap dalam menghadapi anomali cuaca yang dikatakan ekstrem ke depannya.

"Kemudian satu lagi saya tambahkan tadi untuk saat ini El Nino sudah masuk dalam fase yang kuat tapi juga berpotensi menjadi sangat kuat" ucap Faisal.

"Di bulan Agustus-September itu intensitas hujan menjadi rendah bahkan sangat rendah," sambung dia.

Faisal lantas membeberkan faktor yang mempengaruhi terjadi El Nino di sebagian besar wilayah di Indonesia bahkan di dunia.

Kata dia, secara sederhana terjadinya El Nino didasari karena adanya peningkatan suhu di permukaan laut yang mencapai 3.4° sementara apabila suhu permukaan laut di bawah 1.5° maka kondisi di dunia akan mengalami La Nina.

"Jadi berdasarkan hasil pemantauan BMKG, kondisi El Nino sendiri telah berada pada kategori kuat. Ditunjukkan oleh anomali, suhu permukaan laut 3.4 dan kita tidak hanya menggunakan data yang didasarkan bulan Julisaja, tapi kita menggunakan periode Mei, Juni, Juli untuk menunjukkan bahwa El Nino-nya dengan indeks ensus +1,59 berada pada posisi kuat yang berpotensi menjadi sangat kuat," kata dia.

Adapun wilayah yang paling terdampak dari fenomena El Nino ini dijelaskan oleh Faisal, yakni sebagian besar wilayah yang berada di bawah katulistiwa.

Jika merujuk pada lokasi geografis di Indonesia, maka sebagian besar wilayah Pulau Jawa, Sumatera bagian Selatan, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat akan menjadi yang paling merasakan dampaknya.

"Tapi satu yang perlu kita catat bahwa tidak setiap waktu itu memberikan dampak yang sama. Jadi tahun 2015 itu juga (El Nino) sangat kuat tapi dampaknya belum tentu sama dengan kondisi kita saat ini tergantung dinamika atmosfer yang kita alami di Indonesia dan kondisi suhu muka laut di Indonesia," ucap dia.

Faisal hanya memastikan kalau, dengan terjadinya El Nino yang kini akan memasuki fase sangat kuat, maka bukan tidak mungkin sebagian besar wilayah yang terdampak akan menjadi sangat kering.

Bahkan kondisi kemarau tanpa adanya hujan akan menjadi lebih panjang dirasakan di wilayah-wilayah tersebut.

"Yang membuat kemarau menjadi lebih kering dan lebih panjang durasinya. Ketika masuk musim hujan diperkirakan di minggu ketiga Oktober itu El Nino sudah tidak begitu mempengaruhi Indonesia walaupun El Nino masih aktif sampai di bulan Mei tahun 2027," tukas Faisal.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.