Trauma Banjir Belum Hilang, Warga Lapau Munggu Kembali Mengungsi Saat Hujan Guyur Kuranji
Rezi Azwar August 04, 2026 04:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Trauma akibat banjir yang menerjang kawasan Lapau Munggu, RT 02/RW 06, Kelurahan Kuranji, Kota Padang, masih membekas di benak warga.

Saat hujan kembali mengguyur wilayah tersebut pada Selasa (4/8/2026) pagi, sejumlah warga, terutama ibu-ibu dan anak-anak, kembali memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman karena khawatir banjir susulan terjadi.

Pantauan TribunPadang.com hingga pukul 11.25 WIB, hujan masih turun di lokasi. 

Sinergi TNI-Polri dan Warga Bersihkan Sisa Lumpur

PEMBERSIHAN SISA BANJIR- Warga bersama personel TNI, Polri, dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bergotong royong membersihkan rumah yang dipenuhi lumpur pascabanjir di RT 02/RW 06, Lapau Munggu, Kelurahan Kuranji, Kota Padang, Selasa (4/8/2026). Hingga pukul 11.20 WIB, hujan masih mengguyur kawasan tersebut sehingga sejumlah warga, terutama ibu-ibu dan anak-anak, kembali mengungsi karena khawatir terjadi banjir susulan.
PEMBERSIHAN SISA BANJIR- Warga bersama personel TNI, Polri, dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bergotong royong membersihkan rumah yang dipenuhi lumpur pascabanjir di RT 02/RW 06, Lapau Munggu, Kelurahan Kuranji, Kota Padang, Selasa (4/8/2026). Hingga pukul 11.20 WIB, hujan masih mengguyur kawasan tersebut sehingga sejumlah warga, terutama ibu-ibu dan anak-anak, kembali mengungsi karena khawatir terjadi banjir susulan. (TribunPadang.com/Muhammad Afdal Afrianto)

Sementara itu, personel TNI, Polri, serta petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bersama warga bergotong royong membersihkan rumah-rumah yang masih dipenuhi lumpur akibat banjir sehari sebelumnya.

Salah seorang warga RT 02/RW 06, Bayu Wardana, mengatakan kepanikan warga masih terasa karena mereka baru saja mengalami banjir dengan debit air yang cukup besar.

"Kalau sekarang memang air sudah surut akibat banjir kemarin. Tapi warga masih takut kalau hujan turun lagi. Apalagi tanggul sementara yang dibuat pemerintah kemarin sudah jebol, jadi potensi banjir susulan masih besar," ujar Bayu saat diwawancarai TribunPadang.com, Selasa (4/8/2026).

Baca juga: Bermodal Sekop dan Ember, Siswa SMPN 41 Padang Bersihkan Lumpur Sisa Banjir Saat PBM Lumpuh

Kronologi Banjir: Air Perbukitan Hantam Tanggul Darurat

Ia menceritakan banjir mulai terjadi sekitar pukul 12.00 WIB pada Senin (3/8/2026). Air dengan debit tinggi datang dari arah perbukitan dan menghantam tanggul darurat yang sebelumnya telah diperbaiki.

Menurutnya, aliran sungai yang seharusnya berbelok justru melurus akibat derasnya arus. Kondisi itu membuat tanggul sementara yang hanya dibuat menggunakan karung berisi pasir tidak mampu menahan tekanan air.

"Air itu turun dari atas bukit. Karena debitnya tinggi, tanggul sementara yang dibuat dari karung pasir jebol lagi. Air akhirnya mengarah ke sawah lalu masuk ke permukiman warga," katanya.

Baca juga: Wako Fadly Amran: 40 Sekolah di Padang Terdampak Banjir, Aktivitas Belajar Terpaksa Diliburkan

Panik Selamatkan Diri, Kendaraan Tertimbun Lumpur

Akibat jebolnya tanggul tersebut, puluhan rumah warga terendam banjir dan dipenuhi lumpur.

Bayu mengatakan kepanikan sempat terjadi saat air datang secara tiba-tiba. Pengalaman banjir sebelumnya membuat warga langsung berusaha menyelamatkan diri.

"Warga panik. Ada yang berlarian, bahkan ada beberapa yang tidak sempat menyelamatkan sepeda motornya. Motor ikut tertimbun lumpur karena mereka lebih dulu menyelamatkan diri," ujarnya.

Ia menyebut banjir berlangsung sekitar dua jam. Air mulai surut sekitar pukul 15.00 hingga 16.00 WIB, namun menyisakan lumpur tebal di dalam rumah serta merusak berbagai perabotan milik warga.

"Yang paling berat sekarang itu lumpur di dalam rumah. Air memang sudah surut, tapi lumpur dan perabotan yang rusak masih banyak," katanya.

Baca juga: Aktivitas Belajar Lumpuh Usai Banjir, SMPN 41 Padang Butuh Air dan Alat Penyedot

Warga Butuh Perlengkapan Balita dan Dapur

Bayu menambahkan hampir seluruh warga di RT tersebut mengungsi pada Senin malam ke rumah keluarga maupun tetangga yang berada di lokasi lebih aman.

Hingga kini, rasa cemas masih menyelimuti warga setiap kali hujan turun karena khawatir tanggul yang telah jebol kembali menyebabkan banjir.

Selain proses pembersihan rumah, warga juga berharap bantuan kebutuhan dasar segera datang.

"Yang paling dibutuhkan sekarang perlengkapan bayi dan balita. Selain itu peralatan memasak serta pakaian karena banyak yang rusak akibat banjir," tutupnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.