TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Seragam putih biru yang biasa membalut tubuh para siswa SMP Negeri 41 Padang, Jalan Kampung Jambak, Kelurahan Gunung Sarik, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat, berganti seketika pada Selasa (4/8/2026) pagi.
Tak ada raut gembira menyambut bel masuk kelas atau riuh tawa khas remaja yang menghiasi lorong-lorong sekolah hari itu.
Sebagai gantinya, pakaian ala kadarnya yang kini berlepotan tanah cokelat pekat menjadi penanda digelarnya aksi gotong royong darurat pascabencana banjir bandang.
Langkah kaki para murid dan guru terayun begitu lambat dan berhati-hati saat menapaki pelataran hingga koridor sekolah.
Setiap pijakan membutuhkan kecermatan ekstra agar tubuh tak tergelincir di atas hamparan sedimen lumpur tebal yang melapisi hampir seluruh sudut area belajar.
Baca juga: Wako Fadly Amran: 40 Sekolah di Padang Terdampak Banjir, Aktivitas Belajar Terpaksa Diliburkan
Ember, sekop, hingga serokan air pun terpaksa mengambil alih peran buku dan pena yang biasa digenggam para siswa.
Bencana yang menghantam secara mendadak pada Senin siang sehari sebelumnya telah mengubah wajah tempat menimba ilmu tersebut menjadi panggung duka yang muram.
Genangan air sisa banjir yang masih menyisakan sedikit jejak di beberapa titik tampak memantulkan bayangan bangunan sekolah yang lengang tanpa aktivitas pembelajaran.
Meski pihak sekolah resmi menghentikan total kegiatan belajar mengajar (PBM) dan merumahkan siswa, panggilan nurani menggerakkan langkah puluhan murid untuk tetap datang.
Mereka yang rumahnya luput dari terjangan air bah memilih hadir secara sukarela demi membahu para pendidik yang tengah berjuang memulihkan kondisi sekolah.
Tanpa canggung, tangan-tangan mungil para siswa itu ikut mengangkut endapan lumpur tebal dan membersihkan sisa-sisa material yang menumpuk di area kelas.
Baca juga: Ombudsman Sumbar Soroti Pendanaan Pendidikan Komite Sekolah, Rawan Pungli dan Korupsi
Tanpa sempat dihadang, air bah yang membawa sedimen lumpur tebal menerobos masuk dan menerjang seluruh ruangan tanpa terkecuali.
"Kedalaman air kali ini mencapai sekitar 40 centimeter, atau setinggi lutut orang dewasa. Seluruh ruangan kena," tutur Kepala SMPN 41 Padang, Amridas, saat ditemui di lokasi sekolah.
Bagi Amridas, bau amis lumpur dan kehancuran fasilitas belajar ini bukanlah pemandangan baru. Musibah ini menambah daftar panjang riwayat bencana yang harus ia hadapi selama memimpin sekolah tersebut.
Sejak ia dilantik dan menjabat di SMPN 41 Padang, ini merupakan kejadian banjir bandang ketiga yang melanda.
Peristiwa serupa sebelumnya pernah menerjang pada April 2024, dilanjutkan kembali pada November 2025, hingga akhirnya berulang pada Agustus 2026.
Dampak dari hempasan air bah tersebut memaksa aktivitas belajar mengajar (PBM) dihentikan total. Pihak sekolah mengambil keputusan untuk meliburkan kegiatan tatap muka hingga kondisi lingkungan sekolah dinilai aman dan layak kembali.
Meski demikian, tidak semua siswa berdiam diri di rumah. Para murid yang tempat tinggalnya selamat dari dampak banjir dipanggil nuraninya untuk datang ke sekolah. Mereka bahu-membahu bersama para guru membersihkan sisa-sisa material banjir.
Mengenai kepastian kapan kegiatan belajar mengajar dapat dimulai kembali, Amridas mengaku belum bisa memberikan tanggal pasti.
Keberlanjutan PBM sepenuhnya bergantung pada kecepatan pemulihan fisik sekolah pascabencana.
"Tergantung situasi, belum bisa dipastikan kapan PBM dimulai. Jika penanganan cepat selesai, tentu proses belajar mengajar juga bisa cepat kita mulai kembali," jelas Amridas.
Baca juga: Aktivitas Belajar Lumpuh Usai Banjir, SMPN 41 Padang Butuh Air dan Alat Penyedot
Namun, upaya pembersihan masif tersebut tidak berjalan mulus karena terbentur kendala krusial. Pasokan air bersih di lingkungan sekolah saat ini padam total, membuat proses pembilasan sedimen lumpur yang menempel keras di dinding dan lantai menjadi sangat sulit.
Di tengah keterbatasan air, pihak sekolah mencatat sejumlah kebutuhan yang sangat mendesak. Keberadaan alat penyedot lumpur menjadi prioritas utama agar pembersihan kelas tidak memakan waktu berminggu-minggu.
Selain pengerjaan fisik bangunan, pembenahan sarana belajar juga mendesak untuk dilakukan. Banyak bangku dan meja belajar murid yang mengalami kerusakan berat akibat rendaman air dan beban tebal lumpur.
Di balik duka akibat kerusakan material tersebut, Amridas bersyukur tidak ada korban jiwa dalam musibah ini.
Keputusan cepat yang diambil jajaran pendidik beberapa menit sebelum musibah menjadi penyelamat puluhan nyawa anak didik.
Kemarin, melihat debit dan arus sungai di dekat sekolah yang melonjak drastis, pihak sekolah segera memulangkan para siswa.
Baca juga: "Kami Tidak Bisa Keluar": Cerita Mencekam Warga Kampung Guo Terjebak Banjir
Hanya selang 20 menit setelah para murid melangkahkan kaki keluar gerbang, banjir bandang dahsyat langsung menghantam area sekolah.
Tanggung jawab para guru pun tidak berhenti saat murid dipulangkan. Para pendidik bertahan di sekolah hingga pukul 21.00 WIB untuk berkoordinasi dan memastikan seluruh siswa telah sampai di rumah masing-masing dengan selamat.
Sebelumnya, Wali Kota Padang, Fadly Amran, meninjau lokasi sekolah di SMPN 41 Padang pada Selasa (4/8/2026).
Puluhan bangunan sekolah tersebut tergenang air hingga mengalami kerusakan fisik akibat tingginya endapan lumpur dan material banjir.
Dari puluhan tempat pendidikan yang diterjang banjir, bangunan SMPN 41 Padang tercatat sebagai lokasi dengan kerusakan terparah.
Fadly Amran menjelaskan bahwa posisi area sekolah yang berada tepat di tepi aliran sungai menjadi pemicu utama parahnya dampak yang ditimbulkan.
"Sekolah yang terdampak banjir saat ini ada sekitar empat puluh sekolah. Yang terdampak cukup parah itu SMPN 41 Padang yang kita kunjungi hari ini," ujar Fadly di lokasi peninjauan.
Baca juga: BPBD Kota Padang Imbau Warga Waspada Pohon Tumbang Saat Hujan Deras dan Angin Kencang
Akibat terendam air dan tertimbun sedimen banjir dalam jumlah besar, seluruh aktivitas Proses Belajar Mengajar (PBM) di 40 sekolah tersebut terpaksa dihentikan sementara.
Pemerintah Kota Padang mengambil langkah cepat meliburkan para siswa demi keselamatan serta kelancaran proses pembersihan fasilitas sekolah.
Fadly Amran menegaskan, pihak pemkot tengah mengupayakan percepatan pemulihan agar bangunan sekolah bisa kembali digunakan secara aman.
"Aktivitas sekolah yang terdampak, PBM-nya sudah diliburkan untuk penanganan ini. Kita usahakan dipercepat pembersihannya sehingga anak-anak bisa segera kembali belajar," tegas Fadly.(*)